Nubuat Indonesia Tenggelam dan Manusia Tinggalkan Bumi

32 komentar

Bumi makin panas
© The Planet App

Pria itu tampak sedih, saat putri kecilnya yang masih berusia sepuluh tahun enggan menemuinya sebelum dia pergi. Jelas terasa berat bagi bocah kecil itu untuk melepaskan Ayahnya dalam sebuah perjalanan yang seolah tak berujung itu.

Inilah waktunya.

Di luar angin bergemuruh membawa partikel-partikel debu mengerikan, mengamuk di ladang jagung. Badai debu itu seolah tahu. Bersiap mengusirnya yang hendak mengembara ke semesta yang belum terpetakan.

Aku harus berangkat, pikirnya.

Semua ini untuk masa depan yang lebih baik tidak hanya bagi kedua anaknya, tapi juga seluruh umat manusia.

Karena tempat yang selama ini memberikan kehidupan sudah tak sanggup lagi bertahan lebih lama.

Manusia seperti ada di ujung akhir waktu. Menghitung detik demi detik sebelum kebinasaan total itu terjadi.

Dan meskipun harus mengorbankan ruang dan waktu dalam hidupnya, pria itu akhirnya menemukan hunian baru lewat perjalanan menembus cahaya. Sebuah planet di sisi lain galaksi yang akhirnya menjadi tempat di mana putrinya akan menghembuskan napas, di usia tuanya yang begitu damai.

***

Terdengar tidak asing dengan kisah yang saya narasikan di atas?

Bagi kamu yang terbiasa menonton film, tentu bisa dengan mudah menebaknya kalau itu hanyalah penggalan cerita film INTERSTELLAR (2014). Salah satu film epic science fiction favorit saya itu memang menjadi gambaran yang akurat sekaligus mengerikan mengenai bagaimana upaya terakhir umat manusia untuk pergi dari Bumi.

usaha Cooper mencari planet Bumi kedua
usaha Cooper mencari planet Bumi kedua

Berlatar tahun 2067, cerita fokus pada Joseph Cooper (Matthew McConaughey) yang adalah orangtua tunggal mantan pilot NASA dan kini bekerja sebagai petani. Jangan bayangkan dunia yang begitu canggih dan dilengkapi berbagai peralatan modern, sutradara Christopher Nolan memperlihatkan Bumi yang menjadi sebuah planet tak layak huni.

Dalam waktu kurang dari setengah abad dari sekarang itu, banyak makhluk hidup di Bumi yang sudah punah. Jangan harap ada hamparan lahan hijau, karena semua yang diperlihatkan Nolan adalah tanah-tanah tandus nan gersang, lengkap dengan badai debu berbahaya yang membuat siapapun bisa melepas nyawa kapan saja.

Ah, itu semua cuma film.

Benar. Itu semua hanyalah film. Adegan demi adegan yang dibuat dengan imaji seorang penulis skenario, dan diwujudkan oleh tangan sutradara lewat tangkapan-tangkapan cahaya juru kamera.

Namun, apakah ada jaminan dunia di masa depan tidak seperti itu?

Apakah menurut kalian Bumi akan tetap terlihat sama 50 tahun lagi?

Apakah kalian tahu kalau Juli 2021 kemarin menjadi bulan dengan suhu terpanas yang pernah terjadi di Bumi?

Apakah kita semua siap jika Bumi yang sudah begitu menua ini akhirnya menyerah menopang hidup makhluk fana di atasnya?

Kita mungkin tak akan pernah tahu.

Kita mungkin tak akan pernah siap.

Ya. We are minutes to midnight.

Bumi Makin Panas, Kode Merah Ambang Batas

Dalam laporan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), pada tahun 2025 yang adalah empat tahun lagi, diprediksi akan ada kemungkinan sebesar 40% bahwa temperatur Bumi jadi 1,5°C lebih panas dibandingkan masa pra-industri (tahun 1850an).

Ah, cuma 1,5°C ini...

Hmm...

Tahukah kalian kalau bahkan hasil penelitian itu cuma prediksi, kemungkinan meningkat 1,5°C itu sudah tidak sesuai dengan dua batas suhu yang disepakati dalam Perjanjian Paris.

Dilakukan dengan konsep permodelan oleh Kantor Meteorologi Inggris dan sekitar 10 peneliti iklim dari berbagai negara termasuk China dan Amerika Serikat, prediksi ini jelas tak bisa dianggap remeh. Karena sebelum laporan ini, penelitian terdahulu menyebutkan kalau peluang kenaikan 1,5°C itu hanyalah sebesar 20%.

Ah, bingung banget sih. Kan cuma naik 1,5°C doang! Emang ada efeknya, gitu?

Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) PBB sempat memberikan prediksi sejumlah bencana mengerikan yang bisa saja terjadi, ketika temperatur Bumi memanas 1,5°C saja. Dilansir AFP, beberapa bencana itu seperti gelombang panas, berbagai jenis badai, curah hujan ekstrem, kekeringan di mana-mana, kekurangan iklim, naiknya permukaan air laut dan akhirnya separuh spesies di Bumi bakal musnah.

Sebuah kondisi mengerikan yang kerap didengungkan tapi cuma dianggap sepintas lalu.

Ya, climate change (perubahan iklim) dan global warming (pemanasan global) bukanlah sekadar mitos belaka.

Dan sepertinya sekarang prediksi itu seolah makin terwujud.

beruang kutub dan dataran es yang mengecil
beruang kutub dan dataran es yang mengecil © CCGCONF

Dalam laporan IPCC, terungkap kalau krisis iklim sudah benar-benar terjadi, meluas, makin cepat, makin intensif dan belum pernah disaksikan sebelumnya.

Kalian harus tahu bahwa konsentrasi karbondioksida di Bumi saat ini sudah mencapai porsi tertinggi setidaknya dalam dua juta tahun terakhir.

Kalian harus tahu bahwa permukaan air laut meningkat jauh lebih cepat dalam 3.000 tahun terakhir.

Kalian harus tahu bahwa dataran es di kutub telah mencapai level terendah dalam 1.000 tahun terakhir, karena gunung-gunung es terus mencair akibat Bumi yang makin panas.

Kita manusia sudah menggiring Bumi ini ke kiamat yang tidak bisa dibayangkan.

***

Melihat kondisi Bumi saat ini, saya tentu seperti berada dalam dunia yang sama dengan Jack Hall (Dennis Quaid) di film THE DAY AFTER TOMORROW (2004). Meskipun sudah mengetahui kalau ada lapisan besar es yang mencair di Antartika, sang ahli paleoclimatologyst itu masih saja meragu. Keraguan yang harus dibayar mahal karena berbagai bencana terjadi di dunia dan mengancam hidup manusia.

Mulai dari hujan yang turun tiga hari tanpa henti di New York, badai-badai tornado super raksasa yang begitu mengerikan di atas langit Kanada, Skotlandia dan Siberia, hingga akhirnya Bumi memasuki Zaman Es lantaran suhu anjlok hingga -101°C!

Kalau sudah begini, apakah kita mampu bertahan?

Bagaimana kalau nanti tidak ada satu celahpun di Bumi yang bisa dihidupi manusia?

zaman es baru di New York (film THE DAY AFTER TOMORROW)
zaman es baru di New York (film THE DAY AFTER TOMORROW)

Mungkin kita harus bergabung dengan Curtis Everett (Chris Evans) dalam sebuah kereta yang berputar terus mengelilingi Bumi. Berjuang hidup setiap hari sebagai manusia kelas bawah yang tetap tidak mendapatkan keadilan dari orang-orang kaya nyaman di gerbong-gerbong mewahnya. Sebuah penggambaran kiamat yang begitu menyesakkan dari sutradara Bong Joon Ho di film SNOWPIERCER (2013).

Kalau sudah begini, bolehkan saya berandai sosok Jacob Lawson (Gerard Butler) benar-benar ada dan mampu menciptakan Dutch Boy, si satelit pengontrol iklim itu? Dengan begitu kita bisa berharap kalau-kalau nanti tornado mengerikan datang, Dutch Boy akan mampu 'menaklukkan iklim' seperti yang terjadi dalam film GEOSTORM (2017).

Jangan Cuma Kipas-Kipas, Ayo Berbenah!

webinar Eco Blogger Squad
perbedaan kenaikan 1,5°C dan 2°C

Kita semua merasakan hal yang sama sekarang bahwa Bumi memang makin panas. Apalagi sejak pekan kedua Oktober 2021 hingga saat ini, sudah banyak sekali keluhan mengenai kondisi cuaca yang benar-benar makin panas.

Dalam informasi yang dirilis langsung oleh BMKG, penyebab kenapa suku panas terjadi di berbagai wilayah Indonesia adalah karena imbas posisi matahari yang tepat di atas sejumlah daerah di Tanah Air, serta pengaruh siklon tropis Kompasu.

Namun kendati panas saat ini adalah fenomena alam, bukan berarti Bumi sedang baik-baik saja,

Saya cukup beruntung tergabung sebagai Eco Blogger Squad yang sekali lagi menyadarkan bahwa temperatur Bumi terus meningkat. Dalam webinar rutin yang digelar bersama Hiip dan Blogger Perempuan Network (BPN) pada hari Jumat, 15 Oktober 2021 lalu, saya tahu bahwa makin panasnya Bumi ini adalah sebuah kode merah untuk kemanusiaan.

Mendengarkan penjelasan Anggalia Putri Permatasari dari Yayasan Madani Berkelanjutan, terungkap bahwa dalam semua skenario emisi, batas aman global warming 1,5°C bakal terlewati di awal tahun 2030-an, yang artinya mulai sembilan tahun lagi.

Kondisi ini rupanya meletakkan Indonesia sebagai negara yang akan sangat luar biasa terdampak akibat dampak krisis iklim. Bukan hanya sekadar banjir, kekeringan, kenaikan permukaan air laut, kenaikan suhu, perubahan pola curah hujan, kini 115 pulau di Indonesia terancam tenggelam.

Apakah kalian siap jika pulau-pulau cantik seperti Pahawang di Bandar Lampung, Derawan di Kalimantan Timur, Karimunjawa di Jawa Tengah, Saumlaki di Maluku, Mentawai di Sumatera Barat, Nusa Penida di Bali, Komodo di Nusa Tenggara Timur, Weh di Aceh, Wakatobi dan Labengki di Sulawesi Tenggara hingga Raja Ampat di Papua sana bakal tenggelam?

Kalau saya, sungguh tak akan siap.

Trus, apa yang bisa kita lakukan dong, Rai?

Tenang saja. Milenial dan gen Z seperti saya ini bisa melakukan hal-hal kecil yang mampu menghentikan perubahan iklim lewat pengurangan jejak karbon.

webinar Eco Blogger Squad
usaha anak muda atasi krisis iklim

Yap, kita bisa mulai mengurangi konsumsi daging hewan karena industri ini ‘menyumbang’ 14,5% emisi gas rumah hijau buatan di Bumi, berhenti buang-buang makanan, tidak memakai kantong plastik yang sulit didaur-ulang, atau menggunakan kendaraan bermotor.

Berawal dari satu orang, gerakan pengurangan jejak karbon ini bakal bisa bergulir bak bola salju raksasa ketika makin banyak anak-anak muda peduli dan bersedia melakukannya.

Bagaimana? Sangat mudah daripada cuma bisa ngomel dan kipas-kipas terus, bukan?

Yuk bersama-sama, kita jadikan planet ini sebagai sebaik-baiknya tempat untuk generasi penerus di masa depan.

Arai Amelya
I'm a driver, never passenger in life

Related Posts

32 komentar

  1. Semakin kesini memang saya pun takut dan was was dengan panasnya bumi, ntah apa yang terjadi ditahun tahun nanti jika tak dimulai dari kita sendiri untuk menjaga lingkungan, terutama berusaha mengurangi sampah plastik ni

    BalasHapus
  2. Iya lho. Belakangan ini rasanya suhu udara jauh lebih panas dari sebelumnya. Awalnya saya pikir karena tempo hari saya sedang di kendari yang mana rumah saya dekat sekali dengan pantai di teluk Kendari. Ternyata setelah kembali ke Bogor, lho panas juga. Berarti memang dimana-mana sama

    Ah sedih sekali membayangkan ke depan bisa jadi lebih parah dari ini kalau kita terus melakukan pola hidup yang sama seperti sekarang. Karena itu, mari kita perbaki. Sekecil apapun itu, jadikan sebagai hadiah kecil untuk bumi. Menanam pohn, mengurangi sampah, mengurangi penggunaan perangkat elektronik dst. Yuk bergerak bersama

    BalasHapus
  3. Memang butuh peningkatan kesadaran sih, soal ini. Kalau bareng2, insyaallah kondisi kna membaik.

    BalasHapus
  4. Jangankan 50 tahun lagi, kayaknya 5 tahun lagi sepertinya udah gak sama lagi. Semoga bisa jadi bagian yg peduli dengan keadaan iklim yg udah berubah, dimulai dari diri sendiri, seperti diet kantong plastik, bahan bakar yg ramah. Ngeri nih kalau nggak ada solusinya

    BalasHapus
  5. Film tentang kerusakan alam, tuh, emang kesannya fiksi yang gak mungkin kejadian. Tapi, bisa jadi nyata juga, akhirnya.

    BalasHapus
  6. Udah nebak sih kalau paragraf awal tuh ngebahas Interstellar. Dulu nonton bioskopnya ama sahabat. Berjuta tahun yang lalu.
    Berasa ngga sih mba beberapa hari ini panassss banget ya ampun. Inikah kulminasi?
    Membayangkan bumi 50 tahun lagi, rasanya ngga berani deh kalau melihat manusia masih seperti sekarang.
    Benar banget kalau Milenial dan gen Z seperti saya ini HARUS bisa melakukan hal-hal kecil yang mampu menghentikan perubahan iklim lewat pengurangan jejak karbon. Hal sederhana dengan menyeduh kopi lokal misalnya? kopi toraja buah tangan dari penduduk lokal yang dibawakan jauh-jauh oleh sahabat bisa jadi upaya kecil tapi berdampak besar bukan?

    BalasHapus
  7. Apakah sebenernya film-film holywood itu mengambil data dari perkiraan situasi bumi yang akan datang? haduh kok jadi kepikiran ya...

    BalasHapus
  8. iya mbak, akhir akhir ini aku merasa panas banget, panasnya luar biasa.
    kadang siang panas, dan sore mendung, tapi nggak hujan-hujan
    penggunaan plastik masih sering aku lakukan mbak, terutama paling banyak untuk membungkus sampah dirumah

    BalasHapus
  9. Bumi sekarang semakin tua dan sangat mengerikan jika kita tidak mulai membuat bumi sehat kembali, karena kita tidak pernah tau bumi kedepannya akan menjadi seperti apa. Sekarang saja suhu semakin panas, lapisan ozon menipis, dan es di kutub mulai mencair.

    BalasHapus
  10. perubahan sungguh nyata yang bisa dirasakan dikotaku Pontianak adalah masalah banjir. dengan hujan sebentar saja air langsung menggenang. Banyak daerah di kalimantan Barat yang juga semakin parah. Ketinggiannya bahkan tak permah mencapai angka itu. menakutkan

    BalasHapus
  11. betul, kerasa banget perbedaannya

    dulu, di bulan yang berakhiran "ber" pasti hujan, sekarang kacau, hujan bisa sepanjang tahun

    krisis air juga terasa banget

    dulu di kota kelahiran saya, Sukabumi, air PDAM selalu mengalir lancar

    sekarang, lebih sering ngadat daripada ngalir

    ngenes banget

    BalasHapus
  12. Memang pada kenyataannya bumi kita sedang tidak baik-baik saja. Hawa panas di pertengahan Oktober kemarin memang sangat terasa sekali. Yuknlah mulai sekarang sayangi bumi dan lebih peduli lingkungan.

    BalasHapus
  13. Cuaca makin hot dan bikin gak nyaman.

    Makasih penjelasannya, ternyata naiknya suhu bumi walau hanya 1,5°C bisa berakibat fatal.

    Caraku utk cinta bumi baru sebatas belajar menanam tanaman yg mini dan mengurangi pemakaian kendaraan bermotor. Moga makin banyak orang yg sadar lingkungan n cinta bumi.

    BalasHapus
  14. Akupun skrg mulai berusaha hidup hang lebuh ramah lingkungan termasuk membawa tumbler. Upayakan untuk tidak terlalu banhak penggunaan plastik.

    Aku menyadari bahwa bumi sedang tidak baik2 saja apalagi keluhan beberapa waktu ini ttg panas yg luarbiasa. Gerah dimana2.

    Aku membaca sampai akhir begidik kali mbak ulasannya.

    Terus gmna dg para pencinta daging 🙈

    BalasHapus
  15. Sungguh mrngerikan sih efek perubahan iklim. Aku juga menyadari kalau cuaca di Madura sudah semakin panas saja. Mau siang atau malam hari sama. Panas.

    Kita bisa coba melakukan hal-hal sederhana itu. Mengurangi makan daging, bijak mengelola sampah dan aku sudah menanam beberapa tanaman buah di depan rumah.

    Lumayan bisa dinikmati buahnya yang manis.

    BalasHapus
  16. Setuju kak, harus berubah, gak bisa tinggal diam berkipas nelangsa.
    Tentunya dengan kerjasama semua pihak bisa nih, menurunkan suhu bumi yang demikian panas

    BalasHapus

  17. Saking kuatirnya sama kondisi saat ini aku sampai tanam beberapa pohon depan rumah meski halaman cuma dikit banget minimal ada sedikit sumbangsih untuk menjaga bumi agar tetap nyaman untuk ditinggali

    BalasHapus
  18. Hey, Arai!
    Ya Allah, aku merinding baca tulisan kamu 😨 Ternyata kehidupan manusia an bumi memang makin terancam ya. Apapun itu, semoga kita bisa berupaya untuk menyelamatkan bumi, sekecil apapun.

    BalasHapus
  19. Duh tulisannya nyentil aku banget sih. Tanpa sadar suka melakukan hal yg merusak bumi

    BalasHapus
  20. Ngeriii ya, kalau keadaan di bumi nantinya seperti yang digambarkan di film itu.
    Menerapkan pola hidup cinta lingkungan memang harus dimulai dari diri sendiri dulu. Semoga bumi tetap hijau dan lestari

    BalasHapus
  21. Jangankan di kota. Di kampung aja sekarang orang gak segan2 potong pihin rindang. Duh geram rasanya.

    BalasHapus
  22. Serem interstellar mah dan ngga kepikiran pas dulu nonton itu bahwa bumi kita bakal begitu juga. Pikirku yaah masih jauh lah yaa. Tapi kalau lihat peringkat Indonesia jadi negara yang terdepan menyumbang emisi gas rumah kaca rasanya 2030 beneran jakarta akan tenggelam seperti yg dibilang para ahli, bukan ngga mungkin kita perlu cari planet baru. Tapi masalahnya ada ngga? huhuu

    BalasHapus
  23. ah kalo inget film the day after tomorrow emang syerem ya, padahal kayaknya udah lama banget tuh kita diingetin dan disuguhin ama film2 dengan pesan climate change tapi kayaknya dari dulu gerakannya belum masif juga huhu

    BalasHapus
  24. Btwe kak gambar "usaha Cooper mencari planet Bumi kedua" ga keliatan di browser kuh. Huhu.

    Seneng banget, aku baca artikel ini sampai terbaya dialog dengan penulis, ah iyaa banyak memang film2 fiksi yang menceritakan keadaan bumi, semoga yang nonton mengerti maksud dan tujuan film itu apalagi soal keselamatan bumi.

    Iya aku juga merasa beruntung menjadi bagian Eco Blogger Squad, yuk ah sama2 bergerak!

    BalasHapus
  25. apa kabar anak cucu kita nanti kalau sekarang aja udah semengerikan ini cuaca dan alamnya ya kak

    BalasHapus
  26. kadang emang ya, kita udah dikasih yang sempurna eh malah dirusak. udah dikasih kenikmatan dengan alam yang masya allah menakjubkannya bukannya dijaga dengan baik malah dirusak dengan sedemikian rupa

    BalasHapus
  27. Meski itu adalah gambaran film, tapi bukan hal yang tidak mungkin terjadi jika manusia tidak mau sadar dan berubah prilakunya terhadap keberlangsungan hidup di Bumi ini ya, hiks hiks.

    Semoga kita semua mau bekerjasama untuk berbenah atasi masalah krisis iklim ini.

    BalasHapus
  28. Kalau kita ga merubah kebiasaan kita, duh agak seram membayangkan nanti bumi akan seperti apa. Semoga semuanya lebih aware soal climate change dan lingkungan ya.

    BalasHapus
  29. di Indonesia ini kalau nggak punya kendaraan sendiri agak susah dan lebih boros ya, mbak. Terutama di Batam, transportasi yang semrawut, nggak punya jam jalan, sehingga bikin penumpangnya takut telat, dan akhirnya beli motor untuk pergi kerja. Mungkin pemerintah setiap daerah lebih tegas dalam mengatur dan memperbaiki sistem transportasi. Kalau makanan dan plsatik, memang kembali ke pribadi masing-masing, banyak yang telah nyaman dengan kondisi sebelumnya. Untuuk merubah habit go green jadi agak susah. Tapi semoga banyak yang sadar akan hal ini.

    BalasHapus
  30. menarik nih filmnya, auto cari ah pengen nonton juga. sekaligus buat edukasi sih emang beneran bumi sedang tidak baik" saja hhu

    BalasHapus
  31. Sedih banget kalau mikirin nanti anak cucu kita 50 th yang akan datang apa masih bisa melihat bumi kita hijau

    BalasHapus

Posting Komentar