Cerita Si Gembul, Kucing Sembuh Dari Virus Panleukopenia

32 komentar

Gembul, kucing sembuh dari virus panleukopenia
Gembul, kucing sembuh dari virus panleukopenia

Bagi pecinta kucing alias cat lovers, nama virus panleukopenia seolah menjadi momok tersendiri. Apalagi di musim penghujan seperti sekarang, kisah-kisah kematian kucing karena virus yang kerap disebut distemper ini datang silih berganti.

Kalau kamu masih ingat, di akhir Januari 2020 lalu, virus panleukopenia bahkan pernah menjadi perbincangan banyak orang. Saat itu dilaporkan puluhan ekor kucing di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah mati mendadak.

Menurut Sutiyarmo selaku Pengawas Kesehatan Hewan Dispertan PP (Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan) Karanganyar, kematian mendadak puluhan ekor kucing itu karena terinfeksi panleukopenia. Setidaknya ada 27 ekor kucing mati mendadak karena panleukopenia saat itu, seperti dilansir Kompas. 

Mengerikan? Sungguh!

Saya pun tidak menduga kalau harus berhadapan dengan panleukopenia yang menyerang kucing kesayangan saya, Gembul, pada akhir tahun 2017 silam. Sempat begitu tertekan dan sudah berpikiran buruk lantaran tingkat kematian panleukopenia sangat tinggi, Gembul beruntung menjadi salah satu dari banyak kisah kucing selamat panleukopenia.

Karena sekarang sudah kembali memasuki musim penghujan dan jelang pergantian tahun dimana virus beranak pinak bak jembalang, saya mau membagikan kisah perjuangan Gembul (bersama saya dan Ibu saya), dalam melawan panleukopenia.

Baca juga: Pengalaman 12 Kali Steril Kucing Dalam Setahun

Apa Sih Virus Panleukopenia Itu?

Tak kenal maka tak sayang. Untuk bisa menghadapi si panleu ini, kamu tentu harus tahu terlebih dulu mengenai penyakit mematikan ini.

Panleukopenia atau yang dalam bahasa Inggris disebut Feline Panleukopenia Virus (FPV) adalah infeksi virus yang menyerang semua jenis kucing tak peduli kucing liar (stray cat) atau kucing peliharaanmu di rumah. FPV disebabkan oleh parvovirus dengan tingkat penularan dan kematian yang luar biasa tinggi.

Nama panleukopenia dipilih karena dalam kondisi penyakit ini, sel darah putih (leukosit) kucing yang sangat rendah. Parvovirus penyebab FPV berkembang biak dan bereplikasi di sel-sel usus, sistem limfoid, sumsung tulang dan jaringan fetus. Sehingga ketika menyerang kucing, virus ini akan merusak saluran pencernaan dan memicu ulkus peptikum (rusaknya lapisan mukosa, submukosa sampai lapisan otot cerna karena pepsin dan asam lambung berlebihan).

Bisa dibayangkan bukan betapa mengerikannya panleukopenia?

Karena di saat sel darah putih terjun bebas, sistem kekebalan tubuh kucing jadi sangat lemah sementara di lain pihak, saluran pencernaannya rusak. Tak heran kalau panleukopenia menjadi salah satu penyakit paling mematikan yang bisa membuat kucing meregang nyawa hanya dalam hitungan hari, bahkan jam.

Bagaimana Panleukopenia Bisa Menular?

Menurut Merck Animal Health, virus panleukopenia bisa menyerang kucing dari segala usia baik kitten (anak kucing 0-10 bulan) atau kucing dewasa. Namun kasus kematian panleu tertinggi pada kitten berusia 3-5 bulan, dengan tingkat kesembuhan dan bertahan hidup cuma sebesar 20%. Kitten juga menjadi golongan kucing yang paling rentan terserang virus, terutama yang belum pernah divaksin.

Bagi kamu yang mempunyai kucing cukup banyak di rumah, tentu harus tahu kalau penularan panleu luar biasa cepat.

Seperti Covid-19 yang bisa ditularkan lewat cairan tubuh, begitu pula panleukopenia. FPV dilaporkan bisa menular lewat cairan tubuh atau kotoran kucing yang terinfeksi. Bahkan obyek-obyek lain seperti kutu hingga benda-benda mati semisal selimut, piring, pakaian hingga sepatu yang pernah bersentuhan dengan parvovirus, bisa menjadi media penularan.

Dari berbagai literatur disebutkan jika parvovirus penyebab panleu bisa bertahan selama setahun di lingkungan yang mendukung. Namun tenang, kita sebagai manusia tidak akan bisa terserang panleukopenia sekalipun bersentuhan dengan kucing yang terinfeksi. Karena panleukopenia tidak bersifat zoonosis (menular dari binatang ke manusia), sehingga kamu jangan sampai meninggalkan atau bahkan membuang kucing yang terserang panleu.

Baca juga: ASUS ROG Phone 3-The Ultimate Winner, Sang Olympian yang Turun Gunung

Ciri-Ciri Virus Panleukopenia Pada Kucing

Gembul beberapa hari sembuh dari panleukopenia
Kondisi Gembul beberapa hari setelah sembuh dari panleukopenia

Gembul sendiri terkena panleu setelah saya membawa seekor stray cat dari pasar Karangploso. Saya dan Ibu saya tidak tega saat kucing malang yang kami beri nama Kucil itu berjalan sendirian dengan salah satu kaki tertatih, dan sebagian tubuhnya penuh scabies

Sempat membawanya ke dokter, Kucil meninggal karena tubuhnya sudah mengalami malnutrisi parah bahkan sebelum saya pungut dari pasar. Karena tiga tahun lalu saya masih belum cukup paham soal kucing, saya tidak sadar kalau si cantik yellow tabby itu membawa virus panleukopenia ke dalam rumah.

Sialnya saat itu, ada tiga ekor kitten yang tiba-tiba datang juga yakni Gentut, Nining dan Denok. Hanya dalam hitungan hari saja, ketiga kitten malang itu meninggal dengan gejala mirip seperti Kucil. Waktu itu Ayah dan kakak saya dalam seminggu hampir setiap hari selalu membuat lubang kuburan untuk kucing di halaman belakang rumah kami.

Yang bisa saya lakukan hanyalah menangis. Menangisi kebodohan saya yang tidak tahu kalau mereka sakit dan ketidakmampuan saya menyelamatkan nyawa-nyawa kecil yang meminta bantuan. Mereka semua hanya ingin rumah, tapi saya justru memberikan kuburan.

Dan ketakutan terbesar saya pun datang, ketika Gembul menunjukkan gejala yang sama seperti keempat kitten malang itu. Supaya kamu lebih waspada, berikut beberapa ciri kucing yang terserang virus panleukopenia:

1. Nafsu Makan Anjlok

Kucing adalah binatang dengan lambung kecil, sehingga mereka cepat lapar dan cepat kenyang. Melihat kucing yang sering makan adalah sebuah hal biasa. Namun ketika virus menyerang dan masuk ke tubuh mereka, kucing akan mulai malas dan akhirnya benar-benar kehilangan nafsu makannya.

Gembul termasuk tipe kucing yang doyan banget makan, terutama DF (Dry Food/pakan kering) sukaannya yang harus tersedia di wadah sepanjang hari. Saat terserang panleu, Gembul mulai melewatkan jadwal makan di pagi, siang, malam hingga akhirnya dia benar-benar tak mau makan selama tiga hari.

2. Muntah Kuning

Salah satu keyakinan saya ketika Gembul memang terinfeksi virus panleukopenia adalah saat dia mulai muntah warna kuning. Muntah cairan kuning ini juga dialami oleh Kucil, sekitar 24 jam sebelum meninggal dunia. Saya saat itu benar-benar panik dan ketakutan luar biasa, bahkan mengajak Gembul untuk tidur di ranjang sebelah saya.

Menurut dokter, muntah kuning ini menandakan kalau asam lambung di dalam perut kucing sudah cukup tinggi karena tidak ada asupan makanan/minuman yang masuk. Gogo dan Tenten yang sempat dibawa ke dokter untuk infus bahkan tidak tertolong karena muntah terlalu sering.

3. Depresi, Lesu, Demam

Gogo saat kritis panleukopenia
Gogo saat kritis panleukopenia

Ketika kucing yang terkena panleu kehilangan nafsu makan dan minum, maka bisa dipastikan mereka akan lemas dan lesu. Kucing akan tidur sepanjang hari dan tidak mau bergerak dari tempatnya. Bahkan ketika disodori mainan atau pakan dengan aroma menyengat kesukaannya, mereka tidak peduli.

Dalam kondisi ini, kucing akan mengalami demam sebagai upaya sistem imun tubuhnya melawan virus panleukopenia, sama seperti kamu yang demam saat kena flu. Namun karena FPV membuat leukosit kucing anjlok, kita cuma berharap kalau sel darah putih yang tersisa memiliki cukup kekuatan untuk melawan FPV.

Demam yang dialami kucing panleu juga biasanya membuat mereka suka menyendiri, terutama di tempat-tempat yang gelap dan dingin. Kucil dan Gentut saat itu begitu suka berdiam diri di kamar mandi dan kebun, yang bodohnya saya biarkan. Karena setelah saya tahu, perilaku kucing menyendiri di tempat dingin itu sebagai upaya menurunkan suhu tubuhnya yang demam.

4. Diare dan Mulut Bau

Dijelaskan sebelumnya bahwa parvovirus penyebab FPV ini menyerang bagian saluran pencernaan kucing. Sehingga ketika kucing terinfeksi panleu, akan muncul gejala diare. Kotoran yang dikeluarkan bisa benar-benar cair dan tidak bertekstur, sehingga membuat tingkat dehidrasi pada kucing makin parah.

Lantaran tak ada makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh, aroma mulut kucing menjadi sangat bau. Beberapa kucing bahkan sampai mengeluarkan lendir dari mulutnya sebagai upaya untuk mengatasi dehidrasi. Seingat saya Kucil, Nining, Gentut, Denok, Gogo dan Uning juga mengalami kondisi diare dan mulut bau seperti ini.

5. Kulit Tubuh Tidak Elastis 

Terakhir, sebagai akumulasi dari menurunnya nafsu makan, keinginan minum, muntah dan diare terus-menerus, kulit tubuh kucing yang terserang panleukopenia tidaklah elastis lagi. Kalau kamu tarik kulit dan bulu tubuhnya di bagian tengkuk leher, tidak akan kembali ke posisinya semula. Menandakan kalau si kucing mengalami dehidrasi parah dan harus segera diselamatkan.

Baca juga: 5 Film Pendek Horor di Youtube Untuk Uji Nyali Sebelum Tidur

Cara Menyembuhkan Panleukopenia Pada Kucing 

Kembali lagi ke Gembul, dia menunjukan gejala panleu untuk pertama kali yakni muntah kuning pada hari Kamis malam. Keesokan harinya pada Jumat pagi, saya dan Ibu langsung membawa Gembul ke drh.Syailin yang berjarak 20 kilometer dari rumah kami. 

Namun saat itu drh Syailin yang turut menangani Denok sebelum dia meninggal, sedang ada acara seminar. Kami pun diarahkan ke RSHP (Rumah Sakit Hewan Pendidikan) UB (Universitas Brawijaya) di daerah Dau, yang berjarak 9 kilometer dari praktek drh.Syailin.

Ketakutan saya pun terbukti ketika dokter jaga RSHP UB menduga Gembul memang terkena virus panleukopenia. Dengan segera, RSHP UB memberikan infus untuk Gembul karena saat itu dia terlihat cukup dehidrasi, apalagi sudah dua hari tidak mau makan dan minum. Pihak RSHP UB menyarankan Gembul untuk inap tapi saya tolak.

Kenapa?

Karena jarak RSHP UB dan rumah saya sangat jauh. Gembul adalah kucing yang sangat spesial buat saya. Dia adalah kucing pertama yang membuat saya bersedia memelihara kucing lagi setelah kehilangan William sekitar 15 tahun lalu. Saya tidak mau jauh dari Gembul dan saya mengambil pilihan berisiko, membawa dia pulang ke rumah.

Gembul masih berusia enam bulan
Gembul saat masih berusia enam bulan
 

Dokter dari RSHP UB memberikan obat mual untuk Gembul. Saya masih ingat dan mencoba memberikannya, tapi langsung dimuntahkan kembali. Kondisi Gembul pun semakin lemas dan tidak bisa bergerak. Dia sudah berhenti makan dan minum sama sekali.

Mencari info kanan kiri, saya akhirnya menemukan drh.Nur Sholikah di daerah Sengkaling, yang cuma berjarak 6 kilometer dari rumah. Ingin membawanya langsung di hari Sabtu pagi, tapi ternyata drh.Nur sedang ada acara ke luar kota dan baru pulang hari Senin sore.

Bisa diduga, saya langsung hopeless. Cuma bisa menemani Gembul sambil menangis, sementara dia diam saja. Saya dan Ibu hanya bisa berharap Gembul bertahan selama dua hari sebelum ketemu dokter Nur. Setelah hujan cukup reda di hari Senin petang, kami langsung membawa Gembul ke Omah Kucing, tempat drh.Nur praktek.

Melihat kondisi Gembul dan gejala yang dialami, dokter Nur cuma berkata, "Wah, nafasnya kok sudah cepet banget ini. Tapi kita berdoa saja ya, semoga dia bisa bertahan. Saya juga tidak bisa menjanjikan kesembuhannya,"

Seperti mendengarkan dari lorong yang jauh, saya langsung nangis di depan dokter Nur. Saya elus tubuh Gembul yang benar-benar jadi kurus dan cuma diam di dalam keranjang Rio. Setelah kematian empat kitten dalam seminggu, saya tidak siap kalau harus menghadapi kematian Gembul. 

Untuk pengobatan pertama, saat itu dokter Nur langsung memberikan tiga macam suntikan berisi anti-mual, vitamin dan antibiotik. Gembul pun diberi obat racikan yang dibuat oleh Bu Suci, adik dari dokter Nur, berdasarkan resep beliau untuk dikonsumsi 3x sehari. 

Ketika kami mau pulang, Bu Suci memperlihatkan kucingnya yang bernama Mohang. Bu Suci bercerita bahwa Mohang juga seekor kucing yang sembuh dari panleu, padahal saat itu sama sekali sudah tidak bisa berdiri karena muntah dan diare sangat parah. Mendengar cerita Bu Suci, saya sempat memiliki harapan bahwa Gembul bisa sembuh.

Memahami Masa Kritis Panleukopenia 

 
Uning dan Tenten terkena panleukopenia
Uning dan Tenten, 24 jam sebelum meninggal dunia

Menurut dokter Nur kalau itu, ketika kucing yang terkena panleukopenia bukan kitten, peluang untuk sembuh lebih besar, meskipun belum tentu 100%. Gembul saat itu sudah berusia dua tahun, dan dokter Nur memberi semangat untuk saya agar terus berjuang dan berdoa supaya Gembul memperoleh keajaiban.

Saya diberitahu bahwa masa kritis virus panleukopenia adalah selama 5-7 hari. Jika kucing bisa bertahan hidup selama itu, kemungkinan sistem imun tubuhnya sudah bisa melawan, tapi belum bisa dipastikan kesembuhannya. Sementara untuk masa tanggap bahaya virus adalah 14 hari, sehingga jika kucing bisa melewati 14 hari setelah terinfeksi virus, bisa dibilang dia sembuh dan berhasil melawan panleukopenia.

Karena itulah dokter Nur dan Bu Suci yang terus berkomunikasi dengan saya, mewanti-wanti agar selalu memperhatikan makan, minum dan kondisi Gembul selama 14 hari semenjak dibawa ke Omah Kucing.

Obat-Obat dan Makanan Untuk Mengobati Gembul

Tak ingin Gembul bernasib sama seperti Kucil, Gentut, Nining dan Denok, saya dan Ibu pun bertekad membuatnya sembuh. Saat itu di dalam rumah tinggal menyisakan Siput yang berusia setahun. Siput juga terserang penyakit yakni calicivirus (akan saya bahas di artikel lainnya), sehingga saya memutuskan untuk memisahkan mereka berdua.

Gembul saat itu dirawat di dalam lemari baju saya, sementara Siput dirawat di kamar Ibu saya. Hampir setiap pagi setelah bangun tidur, saya membuka lemari baju dengan takut. Sangat cemas kalau-kalau yang saya temukan adalah tubuh Gembul yang sudah kaku tak bernyawa. Karena itulah Ibu tidak mau melihat Gembul karena saya tahu, kami trauma dengan kematian-kematian kitten beberapa hari sebelumnya.

Saya pegang bagian perutnya yang kurus dan melihat dia mendongakkan kepalanya lemah. Selalu bersyukur dan berucap Alhamdulillah, karena Gembul bisa bertahan hari demi hari. 

Inilah obat-obat dan makanan yang saya gunakan untuk Gembul dalam melawan panleu selama 14 hari:

  1. Air gula merah hangat (saran dokter Nur). Diberikan dalam selang waktu 1-3 jam sebanyak 3-5cc sekali pemberian. Air gula merah hangat ini untuk meningkatkan tenaga Gembul yang sudah hampir 4 hari tidak makan-minum. Saya memberikannya di malam hari setelah Gembul dibawa ke Omah Kucing
  2. RC (Royal Canin) Recovery seharga Rp35-45 ribu per kaleng. Ini adalah WF (Wet Food) atau pakan basah tinggi nutrisi, yang memang sangat baik untuk kucing sakit. Karena Gembul tidak diare, dia disarankan memakan RC Recovery selama 7 hari perawatan. Barulah setelah itu pakannya saya ganti WF biasa antara Whiskas/MeO seharga Rp15-20 ribu per kaleng
  3. Kalau kucingmu mengalami diare parah, ada baiknya diberi i/d Hills Digestive Care seharga Rp35-40 ribu per kaleng, atau RC Gastro Intestinal seharga Rp20-30 ribu per pouch yang memang berfungsi mengobati saluran pencernaan yang rusak
  4. Vitamin Nutriplus Gell (NPG) seharga Rp100-130 ribu per tube, sebagai sumber vitamin lain pada tubuh Gembul. Alternatif lain dari NPG bisa vitamin B kompleks dari IPI yang lebih terjangkau yakni sekitar Rp5000-8000 per kemasan
  5. Curcuma Plus Syrup untuk anak seharga Rp25-30 ribu per botol. Suplemen makanan ini mengandung Lysine, Curcuma dan vitamin B yang bisa meningkatkan nafsu makan. Kamu bisa menggunakan minyak ikan atau kuning telur rebus sebagai alternatif (jangan mentah, karena ada bakteri salmonela yang membahayakan usus)
  6. Imboost Kids Syrup seharga Rp40-55 ribu per botol, sebagai suplemen yang membantu meningkatkan daya tahan tubuh. Diberikan sehari sekali, maksimal lima hari. Ketika kucing sembuh dan makin baik, Imboost wajib dihentikan
  7. Madu murni
  8. VCO (Virgin Coconut Oil)
  9. Obat racikan dari dokter Nur
  10. Doa tulus kepada Tuhan Yang Maha Esa

Tentunya dalam memberikan obat-obat di atas saya sesuaikan dengan dosis dari dokter Nur. Di sinilah saya paham betapa pentingnya datang ke dokter hewan saat kucing sakit. Karena meskipun menggunakan obat manusia, hanya dokter hewan yang tahu dosis tepat pemberian obat.

Tapi kan, dokter hewan mahal, Rai?

Iya memang. Saya pun sempat berpikir seperti itu. Tapi percayalah, bantuan selalu ada di saat benar-benar membutuhkan. Ada banyak dokter hewan yang bisa diajak berdiskusi mengenai kondisi keuangan, asalkan kita memiliki keinginan yang kuat untuk menolong kucing.

Setelah terus menyuapi Gembul dan memberikan obat rutin serta serangkaian suplemen di atas, Gembul akhirnya bisa berdiri setelah 3 hari dan mulai mau minum sendiri tapi belum makan. Di hari kelima dia bisa pup yang ternyata tidak diare. Hari keenam dan ketujuh, Gembul sudah keluar dari tempat persembunyiannya di dalam lemari baju.

Seminggu setelah dari Omah Kucing, Gembul sudah lari-lari kalau disuapin makan. Ya, saya memang sengaja selalu menyuapi Gembul selama 14 hari sakitnya dengan campuran suplemen, madu dan VCO, supaya asupan makannya benar-benar terkontrol. 

Tepat di hari ke-15, Gembul sudah keluar dari kamar dan bisa keliling rumah, bertemu dengan Siput yang sembuh lebih dulu. Meskipun tubuhnya jauh lebih kurus, Gembul sudah bisa melakukan grooming sendiri dengan menjilati tubuhnya (perilaku yang tidak dia lakukan saat sakit). 

Saat itulah saya hanya bisa bersyukur Alhamdulillah karena Gembul sembuh dari virus panleukopenia.

Baca juga: Air Terjun Watu Ondo, Si Kembar Cantik di Kaki Gunung Welirang

Kondisi Gembul Saat Ini

Satu bulan setelah sembuh dari panleu, atas saran dokter Nur, Gembul akhirnya saya bawa vaksin. Vaksin pertama saat itu yang diberikan adalah Tricat yang bisa melindungi dari Feline Panleukopenia, Feline Rhinotracheitis, dan Feline Calicivirus. Sebulan kemudian, Gembul memperoleh vaksin kedua yakni Tetracat yang melindunginya dari Feline Panleukopenia, Feline Rhinotracheitis, Feline Calicivirus dan Chlamydia.

Gembul mengulangi lagi vaksin Tetracat di tahun 2019, dan kembali lagi di tahun 2020. Hanya saja karena pandemi Covid-19, pemberian vaksin Tetracat tertunda dan sepertinya baru akan saya ajak Gembul untuk divaksin pada akhir tahun. 

Gembul sembuh panleukopenia
Gembul sekarang, sudah berusia 4,5 tahun

Meskipun sudah pernah selamat dari panleu, saya masih meyakini bahwa vaksin adalah satu-satunya pelindung kucing dari virus. Kendati vaksin tak memberikan proteksi 100%, tapi kucing yang sudah punya riwayat vaksin rutin akan lebih kuat dan kebal terhadap panleukopenia.

Tentu apa yang dialami Gembul sebagai kucing yang sembuh dari panleu, adalah sebuah keajaiban. Hasil yang manis dari usaha manusia, perjuangan si kucing dan izin dari Tuhan YME. Saya akan selalu ingat ucapan Bu Suci kala itu, bahwa ketika kucing sakit, jangan langsung diinapkan di klinik. Kucing justru memiliki semangat sembuh lebih besar jika dirawat sungguh-sungguh oleh pemiliknya dengan penuh kasih sayang.

Meskipun saya beruntung dengan Gembul, ada banyak sekali kitten-kitten lain yang gagal saya selamatkan dari panleu. Ada Gogo, Uning dan Tenten, tiga kitten menggemaskan yang saya rawat ketika pindah rumah pada tahun 2019 lalu. 

Ketiga kitten malang itu harus merelakan nyawa mereka karena tak bisa bertahan dari panleu, meskipun sudah memperoleh infus. Karena mereka adalah stray cat yang memang tidak divaksin dan numpang hidup di garasi rumah, penyebaran dan tingkat keparahan panleu makin mengerikan.

Semoga untuk kamu yang saat ini sedang berjuang bersama kucing kesayangan melawan virus panleukopenia, dari hati yang terdalam saya doakan bisa berhasil. Tetap semangat, cepat sembuh dan ingat untuk memberikan vaksin!

Arai Amelya
I'm a driver, never passenger in life

Related Posts

32 komentar

  1. kucing termasuk hewan yang menyebarkan virus rabies Namun, jika dijinakan maka tidak ada masalah. saya belum cocok kalo ngerawat kucing. . Thanks artikelnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah si Gembul ini juga sudah vaksin rabies sih, setahun sekali juga. Jadi nggak masalah, hehe

      Hapus
  2. Masya Allah Gembul sehat-sehat ya nak. Gimana tuh cara tau dia demam, apakah badannya juga panas? (selain menyendiri di tempat gelap), apakah kita bisa mengecek suhu tubuhnya dan apakah ada indikator range tertentu panasnya berapa baru bisa dikatakan demam? dann uhmmm bagaimana tentang bau mulut? apakah kita juga bisa mencium baunya? Dannn wow obat-obatannya udah seperti menjaga imunitas bayi! Beneran seperti punya bayi lagi nih. Dengan perawatan vaksin juga tentunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dipegang bagian telinganya. Telinga kucing sensitif banget dan kalau dia demam, bakal lebih hangat. Kucing ini hewan berdarah panas, jadi memang suhunya normalnya lebih tinggi dari manusia yaitu 37-39 derajat celcius. Gembul waktu panleu sampai 40 derajat.

      Bisa kok dicek tubuhnya pake termometer biasa yang diletakkan di bagian anus, lebih akurat.

      Kalau kena virus, bau mulut kucing itu sangat khas. Bisa dikatakan busuk, campuran amis gitu. Nggak perlu dicium deket2 udah kerasa baunya.

      Haha, bener kak, persis obat bayi dan divaksin juga. Bahkan kalau dia diare, sarannya juga dikasih lacto-B

      Hapus
  3. Saya punya phobia kucing tapi selalu ga tega lihat kondisi kucing yang sakit. Dan baca tentang penyakit ini, saya merinding

    BalasHapus
  4. Wah bahaya juga terhadap kucing. Alhamdulillah si gembul selamat, masih bisa bermain riang gembira...

    Makasih infonya Mba, jadi tau jenis virus yang berbahaya ini

    BalasHapus
  5. Waduh kok saya deg-degan ya
    Ini si Musti, kucing kesayangan anak saya menunjukkan gejala begini nih
    Dari pagi tadi dia udah lemes aja dan gak nafsu makan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga Musti nggak sakit apa2 yah kak. Bulan2 ini emang virus lagi ganas banget. Kalau bisa divaksin kak, biar sedikit lebih tenang

      Hapus
  6. Si gembul ucul banget sih kak kayak yang punya. Itu virus bisa menular ke manusia gak sih kak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hhahaha, yang punya aslinya serem kk. Untung aja ini panleukopenia tidak bersifat Zoonosis, jadi nggak menular ke hewan-manusia

      Hapus
  7. Sehat selalu ya Gembul, aku pernah merasakan kehilangan hamster yang lucu sedihnya sama mbak. Cuma beneran nggak tau kalau hewan juga bisa terserang virus mematikan seperti itu. Pelajaran banget akhirnya buatku

    BalasHapus
  8. Syukurlah SI Gembul sudah sembuh. Mengetahui jenis penyakitnya yang mematikan, rasanya ini merupakan kesembuhan yang membahagiakan dan luar biasa. Kasihan jika kucing kena panleukopenia, melihat gejalanya pastilah membuat kita kasihan lihat si kucing.

    BalasHapus
  9. Saya geli kak sama kucing.. kalo ada kucing mendekat pasti jejeritan sayanya hihi..tapi klo lihat dari kejauhan senang sih..apalagi klo bulunya menjuntai dan terlihat lembut terawat hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kucing mix ya? Kalau punya saya namanya Bagong dan Ibel kak yang berbulu panjang badan gede-gede, hehe

      Hapus
    2. Wah punya ya kak... pasti lucu ya kucing mix gitu..itu merawat bulunya pake shampo khusus kah? punya temen saya ampe ada conditionernya buat manjangin dan menghaluskan bulu kucingnya..duh saya jadi auto minder kalo kerumah teman sy itu..soalnya bulu kucingnya lebih terawat dari rambut di kepala saya wkwkw

      Hapus
    3. Ada kak, shampoo khusus untuk kucing bulu panjang dan iya memang ada kondisyoner. Kalau saya tipe yg malas mandiin sih, yg berbulu biasanya saya bawa ke petshop buat digroomingkan

      Hapus
  10. Mba Arai... itu salah satu ciri2 virus Panleukopenia yg mulut bau, diperiksakan ke drh kah tau mbak membaui sendiri mulut si meong...? Kl ya masyaallah sampe teliti gitu ya. Kucing hewan kesayangannya Rasulullah SAW ya... tp saya sendiri blm bs piara kucing... takut gak akur sama anak sy yg bungsu ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau virus, baunya udah khas sih mba. Nggak perlu dicium deket juga udah busuk hehe. Habis itu saya bawa langsung ke dokter hewan

      Hapus
  11. Mengerikan ya kalau kucing kena penyakit penlukopenia ini. Apalagi yang diserang organ dalamnya. Syukurlah di Gembul bisa melewatinya

    BalasHapus
  12. Wah benar pencegahan dengan vaksin adalah antisipasinya dan segera membawa kucing ke dokter hewan agar dosis obatnya sesuai peruntukannya adalah yang terbaik. Teman saya kehilangan dua kitten karena virus panleukopenia ini, Berurutan. Padahal juga segera dibawa ke Puskeswan di Jakarta Selatan. Tapi sayang enggak tertolong lagi. Sedih banget dia karena anabul bagi dia segalanya. Sampai bikin selamatan 3 harian dianterin buat tetangga karena di sekitar kenal sama kucing-kucingnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huhuhu, pasti sedih banget. Saya aja sampai trauma waktu 2017 itu dan milih pindah rumah karena nggak sanggup lihat makamnya mkwkwkw. Tapi memang kalau kitten yang diserang, beneran ganas

      Hapus
  13. Nama penyakitnya susah sekali. Panleukoponia, eh bener nggak? Hehe. Kasihan bgt kucing kalau sdh kena virus kayak gini. Mesti mendapatkan penanganan yg tepat. Sehat terus, Gembul!

    BalasHapus
  14. Wah, keren kisahnya. Luar biasa perjuangan. Sangat peduli sama kucing nih. Saya baru tahu dengan penyakit ini. Alhamdulillah si gembul sehat kembali.

    BalasHapus
  15. Busyeeett RSHP UB nang karangploso kan koyok keluar kota wkwkwkwkwkw.
    MasyaAllah ya perjuangannya Bun. Mudah-mudahan gembul sehat terus yaak. Gausa sambang RSHP UB lagiii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hanya cinta yang bisa menggerakkan bund. Saya sudah sempurna sebagai wanita

      Hapus
  16. Jadi kantorku itu bergerak di bidang pembasmian hama. Yg masalah adalah ketika meletakkan umpan tikus dan ternyata dapat dijangkau kucing. Habislah kucing itu wafat. Padahal sudah tertutup sedemikian rupa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oalah, ya gimana lagi ya kak. Memang naluriahnya kucing ngejar tikus, takdirnya gitu, huhu kasihan

      Hapus
  17. Alhamdulillah seneng deh tahu Gembul udah sehat dan kembali ceria. Aku baru tahu penyakit penyakit tersebut, asli masih asing banget. Saya juga di rumah ada kucing, cuma nggak pelihara tapi dia datang sendiri, kadang saya juga takut kalo mau mendekat.. btw thanks kak tulisan ini mengedukasi banget buat aku

    BalasHapus
  18. Innalillahi, kebayang 3 kitten meninggal dalam waktu yang hampir bersamaan. Sedih banget pastinya. Dulu kalau peliharaan mati, tangisan saya kaya orang patah hati huhuhu.

    Sekarang sudah nggak pernah bawa stray cat ke rumah lagi kah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener kak, bukan bermaksud lebay tapi saya patah hati banget waktu mereka meninggal, nangis sampe sesek.

      Enggak kk, aku udah nggak pernah bawa stray cat. Tapi kalau mendadak ada kitten kecil nyasar ke rumah, semaksimal mungkin sih diobati. Kalau cukup umur nanti steril hehe

      Hapus
  19. Bener banget kak, virus ini sekarang lagi menyerang beberapa kucing temenku, bahkan ada kucingnya dua yg mati krn virus tsb. Sedih pastinya, apalahi kan kucing kesayangan.

    BalasHapus
  20. Awalnya aku sempat merinding baca catattan ini, kalau virus panleukopenia mudah menular dan dapat hinggap di barang barang dalam waktu lama. Syukurlah tidak menular ke manusia ya kak.

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email