Kisah Pohon Ulin dan Covid-19 Akibat Karma Manusia

42 komentar

Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Hai, hai, tak perlu emosi dulu membaca judul artikel ini.

Tak perlu juga melaporkan saya ke kepolisian karena UU ITE. 

Seperti kata pepatah tak kenal maka tak sayang, lebih baik kamu membaca dulu sepenggal kisah dari sahabat saya di postingan ini.

Kenalkan, ini Bulian, si pohon Ulin dari pedalaman Kalimantan.

Curhatan Bulian, si Kayu Besi yang Makin Rapuh

penampilan pohon ulin yang gagah
penampilan pohon ulin yang gagah © rimbakita

Halo semuanya, salam kenal.

Namaku Bulian. Tapi mungkin kalian lebih sering mengenalku dengan nama pohon Ulin atau nama kerenku, Eusideroxylon Zwageri. Terdengar mengerikan nama ilmiahku? Ah, biasa saja. Kalau boleh sedikit sombong, nama itu sangat cocok dengan julukanku yakni si kayu besi.

Awalnya aku berpikir kenapa dijuluki si kayu besi karena mungkin penampilanku yang keras, kuat dengan kulit berwarna gelap dan tahan terhadap air laut. Namun ternyata julukan itu juga menggambarkan diriku yang luar biasa kokoh bak besi. Aku tidak mudah lapuk sekalipun kalian menanamku di permukaan kering atau dekat air, bahkan aku tahan akan serangan rayap dan serangga penggerek batang. Hal ini yang membuat banyak orang memburuku sebagai bahan bangunan, terutama untuk rumah-rumah di tanah berawa.

Ya, kalian tidak salah baca, aku memang diburu banyak orang karena daya tahanku yang membuat hargaku terus melambung.

Menurut Sudin Panjaitan selaku peneliti Bidang Silvikultur Balitbang Kehutanan Badan Penelitian Kehutanan Banjarbaru Kalsel pada bulan April 2010 lalu, populasi ulin sebagai vegetasi asli pulau Borneo makin langka. Diperkirakan di Kalimantan Selatan, kami hanya tinggal 20% saja jika dibandingkan dengan 40 tahun lalu, seperti dilansir Kompas.

batang pohon ulin setelah ditebang
batang pohon ulin setelah ditebang © Tempo/Kennial Laia
Di waktu satu dekade lalu itu, saudara-saudara ulinku memang masih bisa dijumpai di Asam-Asam, Kabupaten Tanahlaut, Kabupaten Banjar, sampai sepanjang Pegunungan Meratus tapi jumlahnya hanya belasan pohon dari satu hektar lahan

Sedih rasanya membayangkan banyak pohon ulin yang harus rela ditebas dari akarnya. Para penebang itu tidak tahu bahwa kami butuh waktu lama untuk berkecambah. Setidaknya 6-12 bulan dengan kemungkinan berhasil rendah. Kami juga memproduksi buah sangat sedikit serta butuh rata-rata curah hujan tahunan 2.500-4.000 mm untuk bisa hidup.

Aku tidak tahu siapa yang lebih bernasib buruk. Antara kami gerombolan pohon ulin atau jutaan teman-temanku yang menjadi korban Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan) di negeri ini. 

Menurut Tim Kolaborasi Media (Tempo, Mongabay, Betahita, Malaysiakini dan organisasi masyarakat sipil Auriga Nusantara), lebih dari 1,6 juta hektar hutan menjadi korban Karhutla di Indonesia per tahun 2019.

Kadang aku berpikir dengan penuh emosi, kenapa manusia-manusia ini begitu suka membakar kami tanpa ampun? Atau mungkin menebang kami seolah tak memberikan izin untuk berkembang biak. Kalian sama sekali tak memikirkan nasib kelangsungan hidup keturunan-keturunan kami, tapi begitu gembira memperoleh Rupiah demi Rupiah dari penjualan hasil hutan.

Kalau sudah seperti ini, bolehkah aku berdoa pada Yang Maha Kuasa agar kalian manusia memperoleh karma? 

Secara kita sama-sama makhluk hidup ciptaan-Nya. Dan sepertinya doa kami para tumbuhan mulai terkabul sejak tahun lalu. Ya, aku dari pedalaman Borneo melihat kalian manusia tumbang satu persatu, puluhan jadi ratusan ribu karena pandemi Covid-19 yang sebetulnya terjadi karena ulah kalian juga.

Hutan Hujan Tropis Seukuran Lapangan Sepakbola Hilang Tiap Enam Detik 

penebangan hutan di Distrik Jari, Kabupaten Boven Digoel, Papua © Yayasan Pusaka
penebangan hutan di Distrik Jari, Kabupaten Boven Digoel, Papua © Yayasan Pusaka

Arai kemarin bercerita padaku bahwa dia yang jadi bagian Eco Blogger Squad, ikut dalam webinar bertajuk Cegah Karhutla, Cegah Pandemi hari Jumat (4/6) pekan lalu. Dalam webinar yang digelar sehari sebelum Hari Lingkungan Hidup Sedunia itu, dihadirkan Dedy Sukmara selaku Direktur Informasi dan Data Auriga Nusantara serta dokter Alvi Muldani selaku Direktur Klinik Alam Sehat Lestari (Yayasan ASRI).

Ngomongin Karhutla, aku jadi ingat bagaimana dua perempuan hebat negeri ini yakni Menkeu Sri Mulyani dan Menteri LHK (Lingkungan Hidup dan Kehutanan) Siti Nurbaya Bakar, begitu bahagia mengumumkan saat Indonesia memperoleh dana US$103,7 juta (sekitar Rp1,4 triliun) dari GCF (Green Climate Fund) pada bulan Agustus 2020 kemarin.

Gelontoran dana perpanjangan tangan UNFCCC (Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim PBB) ini disebut sebagai pengakuan dunia terhadap komitmen Indonesia, untuk melestarikan lingkungan dan hutan. Indonesia, katanya, berhasil mengurangi emisi setara 11,2 juta ton karbondioksida sepanjang 2014-2016, dari berbagai program menekan laju deforestrasi dan degradasi hutan.

data Karhutla Indonesia

Kementerian LHK (KLHK) bahkan sesumbar kalau Karhutla di tahun 2019 'cuma' 1,65 juta hektar, lebih kecil dibandingkan tahun 2015 yang mencapai 2,65 juta hektar. Ah, kadang aku merasa homo sapiens ini memang suka menganggap kekurangan tak perlu dibicarakan lagi saat ada kelebihan yang diungkapkan.

Ya, KLHK sepertinya lupa menjelaskan bahwa pelepasan emisi karbon dari Karhutla 2019 sama bahayanya dengan dampak Karhutla 2015. Aku tidak bohong. Menurut CAMS (Copernicus Atmosphere Monitoring Service), platform pemantauan bumi milik ECMWF (Pusat Prakiraan Cuaca Jarak Menengah Eropa), total emisi Karhutla Indonesia sepanjang 1 Agustus - 18 September 2019 mencapai 360 megaton karbondioksida! Hampir sama dengan total emisi bencana asap 2015 yang mencapai 400 megaton karbondioksida.

Kok bisa total emisi hampir setara padahal area yang terbakar lebih kecil? 

Kalau dari penjelasan bang Dedy Sukmara, karena Karhutla 2019 kebanyakan terjadi di lahan gambut. Bahkan sebagian besar titik panas sepanjang 20 tahun terakhir (2001-2019), ada di lahan gambut. Ya, tanah yang mengandung 65% bahan organik dengan warna hitam kecoklatan inilah sang dapur asap di Indonesia.

Dapur Asap © Auriga Nusantara

Ah, Karhutla dan asap. Kalau kalian tinggal di Kalimantan sepertiku, hal ini bukanlah sesuatu yang asing lagi.

Bersama dengan Sumatera Selatan dan Papua, daerah tempatku tinggal seperti Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur dijuluki Provinsi Api. Setiap bulan Juni-Oktober, aku harus mendengar kisah-kisah kebakaran hutan di Borneo dan melihat saudara-saudara tumbuhanku dimakan si jago merah. Bahkan kini sepertinya Kalimantan Utara menjadi episentrum api baru.

provinsi api di Indonesia
Berbeda dengan kalian yang mungkin bisa langsung melampiaskan emosi ketika ada orang yang berbuat jahat, aku sebagai pohon bisa apa saat melihat manusia-manusia dengan sengaja membakar tempat tinggal dan membuat kami semua mati hangus?

Bahkan ketika PT Kumai Sentosa (KS) diputus bebas oleh Majelis Hakim PN Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah pada 17 Februari 2021, aku si kayu besi bisa apa?

Tidak ada yang bisa kulakukan.

Aku, Bulian, yang begitu kokoh ini hanya bisa melihat pilu saat mengetahui 2.600 hektar lahan terbakar habis di bulan Agustus 2019 itu. Lahan-lahan itu sendiri merupakan lokasi pembukaan lahan (land clearing) dan penanaman kelapa sawit milik KS.

Karhutla PT Kumai Sentosa
Karhutla PT Kumai Sentosa © ppid.menlhk.go.id
Aku bisa menebak bahwa ribuan hektar yang terbakar itu mungkin sebentar lagi bakal digaruk mesin-mesin ekskavator. Sama seperti yang terjadi di blok tanam konsesi milik PT Bumi Mekar Hijau (BMH) di Desa Riding, Kecamatan Pangkalan Lapam, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Lahan di tepi sungai Sugihan yang dilahap api pada November 2019 itu justru telah siap dikeruk lagi unsur haranya pada Mei 2020.

Namun karena aku adalah pohon yang berbudi pekerti, aku harus tetap berprasangka baik. 

Berpikir bahwa mungkin memang BMH sebagai pemasok bahan baku perusahaan bubur kertas APP (Asia Pulp and Paper) milik kelompok usaha Sinar Mas itu sangat rajin bekerja, dan tak mau kehilangan pundi-pundi Rupiah. Meskipun Bambang Hero Saharjo selaku ahli forensik Karhutla menyebutkan jika titik api selalu muncul bersamaan dengan kegiatan pembukaan lahan oleh perusahaan.

Jujur, aku sebetulnya tidak mau menjadi pohon ulin terakhir di Kalimantan.

Tapi melihat kebakaran hutan yang terus-menerus terjadi di Borneo, aku jadi semakin takut kalau akhirnya kami para tumbuhan benar-benar kehilangan tempat tinggal. Tidak perihkah kalian saat mendengar data GWF (Global Forest Watch) tahun 2019 yang menyebutkan setiap enam detik, hutan hujan tropis seluas satu lapangan sepakbola hilang!

Perihnya, Indonesia adalah satu dari tiga negara pelanggar teratas selain Brasil dan Republik Demokratik Kongo dalam hal deforestrasi.

Pandemi Covid-19 adalah Karma Untuk Manusia?

hutan Sambas - Kalbar jadi lahan sawit
hutan Sambas - Kalbar jadi lahan sawit © Kompas/Edna Caroline Pattisina

Ada yang bilang bahwa ketika ucapan sudah tidak mampu menyadarkan, biarkan Tuhan dan semesta yang bertindak dalam bentuk karma.

Masyarakat India kuno mengenal konsep karma dalam filsafat Hindu, Sikh, Buddhisme dan Jain. Dimana dalam konsep karma, semua yang dialami manusia adalah hasil dari tindakan kehidupan mereka di masa lalu dan saat ini. Jadi bolehkah kalau aku bilang bisa saja berbagai bencana alam yang terjadi saat ini karena campur tangan manusia?

Kamu tentu sudah tahu kalau asap dan banjir memang dipicu deforestrasi. Namun bagaimana dengan pandemi Covid-19? Berlebihan kah kalau kubilang virus SARS-CoV-2 ini muncul dan diperburuk ulah manusia memangkas hutan sejak berdekade silam?

Ah, aku jadi ingat tulisan Irsyad Madjid di Mongabay. Saat itu para ahli bakteriologi, virologi dan penyakit menular berkumpul di markas besar WHO pada tahun 2018, membahas mengenai prediksi hadirnya Disease X, penyakit akibat patogen mematikan yang ternyata menjadi nyata lewat Covid-19. Dalam waktu setahun hingga 2021 ini, wabah corona sudah menyerang 175 juta penduduk dunia dengan 3,76 juta di antaranya meninggal dunia.

Dengan karakteristik Covid-19 yang sangat sesuai dengan Disease X, fakta ini jelas makin memperkuat laporan WWF bahwa dalam 60 tahun terakhir, penyakit-penyakit mematikan yang masuk kategori pandemi lahir akibat kerusakan alam

Apa saja? HIV, SARS, MERS, Zika, Ebola dan Covid-19.

Kalian manusia harus mulai sadar bahwa ketika hutan tempat tinggalku terus ditebangi entah untuk lahan pertanian atau kebutuhan komersial lainnya, patogen-patogen di hewan liar yang selama ini kami jaga lewat ekologi hutan akhirnya bertemu dengan manusia.

Contoh paling nyata adalah mirisnya nasib teman-teman tumbuhanku di Ghana, Afrika Barat misalnya yang jadi korban pembukaan lahan aktif demi meningkatnya nilai ekonomis. Deforestrasi membuat primata liar termasuk kelelawar yang menjadi inang dari virus ebola, terdesak keluar hutan karena penebangan liar. Akhirnya, virus ebola meledak di Afrika pada tahun 2014-2016.

Lalu bagaimana dengan Covid-19?

kemungkinan penyebaran Covid-19
Dari cerita Arai yang ikut webinar, dokter Alvi menjelaskan kalau wabah corona dipercaya dipicu oleh transmisi virus dari hewan ke manusia (zoonosis). Kenapa zoonosis ini bisa terjadi, karena hewan-hewan liar pembawa patogen mematikan itu terpaksa pergi dari habitatnya saat hutan makin rusak.

Jadi ketika ada manusia-manusia yang berteriak lantang kalau wabah corona ini dibuat di laboratorium demi jadi biological weapon, aku jelas akan tertawa getir. Sepongah itukah kalian manusia enggan menyadari kalau virus-virus mematikan ini semakin parah karena ulah tangan kalian sendiri terhadap belantara?

Kalau sudah begini, aku jadi ingat cerita leluhurku. Jauh sebelum homo sapiens hadir, hutan Kalimantan adalah rumah bagi flora dan fauna selama jutaan tahun lamanya. Namun ketika sapiens-sapiens Afrika hadir bermigrasi sekitar 50 ribu tahun lalu, kenampakan alam Borneo berubah terutama ketika peradaban manusia makin canggih.

warga Dayak panjat pohon durian hutan
warga Dayak panjat pohon durian hutan © Kompas/Dionisius Reynaldo Triwibowo

Dulu masyarakat Dayak menerapkan teknik bertani rotasi lewat sistem perladangan berpindah yang membantu terciptanya ekosistem alami dengan keanekaragaman hayati tinggi, kaya cadangan karbon dan rendahnya risiko erosi. Etnis Dayak sangatlah menghormati kami, karena hutan diyakini sebagai rumah roh leluhur seperti Sangiang, Timang, Tondoi, Kujang dan Longit.

Namun ketika era kolonial Belanda, Orde Baru hingga Presiden Joko Widodo, hutan-hutan Kalimantan mulai merasakan kepiluan. Hutan tempat tinggalku sudah dieksploitasi besar-besaran atas nama perekonomian masyarakat, termasuk keluarga besar pohon ulin. Dalam kurun waktu 50 tahun terakhir, Kalimantan yang selalu digambarkan sebagai pulau dengan lebatnya hutan hujan tropis, kini sudah sepenuhnya berubah. 

Apalagi dengan sudah disetujuinya Omnibus Law oleh Presiden Jokowi, membuat perizinan pemanfaatan kawasan hutan makin mudah, kawasan hutan lindung makin tak terlindungi sampai AMDAL yang makin dilupakan saat mengurus izin usaha. Aku si pohon ulin yang katanya kokoh ini cuma bisa diam menanti nasib sebelum dikoyak manusia.

Aku terus mengamati bagaimana manusia melakukan penebangan hutan demi memenuhi kebutuhan ekspor, kebakaran hutan karena lahan gambut yang dikeringan hingga konversi perkebunan sawit, membuat alam Borneo seolah tak punya harapan bisa pulih lagi. Kalau boleh kuingat, kiamat bagi hutan Kalimantan ini dimulai saat kondisi politik Indonesia sangat bergejolak di tahun 1965. Dimana saat itu hutan-hutan Kalimantan tempat tinggalku jadi incaran negara asing terutama Jepang.

penebangan kayu di Kalteng tahun 1975
penebangan kayu di Kalteng tahun 1975 © Kompas/Chrys Kelana
Indonesia yang masih berusia 20 tahun sejak merdeka, membutuhkan banyak dana untuk membangun negara sehingga mengizinkan perusahan-perusahaan asing mengeruk hutan tempatku bersemayam. Hingga akhirnya per tahun 2020 saat negeri ini genap berusia 75 tahun, sudah lebih dari 24 juta hektar hutan alam hilang di seluruh Nusantara.

Sebesar apa sih itu? 75 kali luas Provinsi Yogyakarta

ribuan kubik kayu gelondong
ribuan kubik kayu gelondong di sungai landak - Kalbar tahun 1988 © Kompas/Julian Sihombing

Jadi kembali lagi pada pertanyaan dalam judul artikel ini, apakah pandemi Covid-19 bisa disebut sebagai karma yang sudah dilakukan manusia terutama jika dikaitkan dengan masyarakat Indonesia khususnya?

Mungkin memang tidak secara langsung. Apalagi wabah corona ini awalnya juga terjadi dataran China. 

Namun melihat berbagai penelitian bahwa virus SARS-CoV-2 muncul secara zoonosis, adalah bukti kuat bagaimana patogen mematikan yang harusnya bertahan di hewan liar dan terjaga oleh ekologi hutan bisa dengan mudahnya menyebar karena deforestrasi. Bukan tak mungkin pula ulah sapiens yang membuat hutan Kalimantan tempat tinggalku menggundul sejak 1965 itu memicu hewan-hewan liar pembawa virus mematikan berlarian ke pemukiman penduduk di masa mendatang.

Jadi tak salah kalau kubilang, Covid-19 bukanlah pandemi terakhir yang dialami umat manusia. Kalau kalian wahai sapiens masih hanya mau mengeruk hasil hutan tanpa memikirkan langkah reforestrasi, bersiaplah untuk virus mematikan berikutnya sampai peradaban manusia tak menyisakan satu rambut pun.

Apakah aku mengancam?

Tidak.

Aku jelas tak bisa mengancam atau mengutuk di saat kalian bisa dengan mudah menumbangkan aku dari akar dengan mesin-mesin gergaji super tajam.

Aku hanyalah Bulian, si pohon ulin yang memohon dengan frustasi agar kalian tidak lagi menggunduli tempat tinggalku. 

Semoga meskipun ibukota negeri ini berpindah ke Kabupaten Penajam Paser di Provinsi Kalimantan Timur, kalian manusia akan membiarkanku tinggal nyaman di dalam hutan dan beranak pinak. Jadi, tolong selamatkan aku dan teman-teman pohonku, ya!

***

Sumber Tulisan:

  1. https://kumparan.com/infopbun/ini-kata-walhi-kalteng-soal-pt-kumai-sentosa-divonis-bebas-atas-kasus-karhutla-1vE999WVmqf/full
  2. https://interaktif.kompas.id/baca/kalimantan-hilangnya-rimba-pemburu-terakhir-dan-bencana/
  3. https://www.mongabay.co.id/2020/07/24/kerusakan-alam-pandemi-dan-sembilan-batas-ekologi-bumi/
  4. https://www.mongabay.co.id/2020/09/14/jejak-korporasi-penyulut-api/
  5. https://sebijak.fkt.ugm.ac.id/2020/10/06/empat-potensi-dampak-kebijakan-omnibus-law-di-sektor-kehutanan-dan-lingkungan/
Arai Amelya
I'm a driver, never passenger in life

Related Posts

42 komentar

  1. Mungkin ini sebab akibat tidak langsung ya dari kebakaran hutan sampe pandemi covid-19 ini.

    Namun aku cukup miris sih 2 pulau terbesar di Indonesia jadi penyumbang titik api terparah di dunia.

    Bumi kita emang makin panas. Jadi bakteri dan patogen ganas bisa berkembang bebas di alam.

    Emang tantangan hidup di dunia ini makin hebat. Tinggal kita jaga kesehatan dan selalu jaga kesegaran lingkungan dgn tetap menanam pohon. Cintai bumimu agar bumi kembali mencintaimu.

    BalasHapus
  2. Salam kenal juga bulian. Maaf saudara2 kami yang masih sering salah dan mengekploitasimu secara berlebihan padahal kalian para pohonlah yang menyelamatkan manusia.

    BalasHapus
  3. Menohok sekali membaca tulisan kak arai ini. Sebagai manusia kadang kumerasa kita ini udah useless, serakah sukanya merusak pula. Oh God, maaf.

    Kerusakan alam ke sini semakin membuat kita gigit jari. Namun tak banyak yg kita lakukan. Malah justru lebih sering merusak dan terus merusak.

    Kemarin setelah baca ttg kasus sangihe, aku baru sadar kadang sekali kita berdoa utk alam, seringnya kita egois berdoa utk diri kita sendiri. Padahal kita tanpa alam hanyalah debu.

    BalasHapus
  4. sedih banget baca cerita versi Bulian ini, emosi juga iya yah di bagian data-data itu.
    harusnya pohon-pohon ini dilindungi tapi malah ditebang habis tak diberi ampun padahal gak salah :(

    BalasHapus
  5. Bacanya merinding. Ikut sedih merasakan apa yang dirasakan Bulian. Tapi memang, hutan kalimantan sudah tak sama lagi. Kayu ulin di sana pun sudah tak sebanyak dulu. Tapi ada satu fenomena juga yang kupelajari dari sejarah lama, alam semesta berputar bagai roda, dan setiap 100 tahun ada pengulangan dan pola sama, pandemi yang terjadi dengan beragam rupa. Manusia sekali lagi, memang jadi aktor utama.

    BalasHapus
  6. Sedih ya karena apa yang sudah terbakar, rusak, tidak bisa pulih lagi. Kalau pun kembali, tentu gak akan sama kaya dulu. Kita harus sama-sama bergerak untuk melindungi lingkungan kita biar jauh-jauh dari pandemi

    BalasHapus
  7. Nah, aku setuju kalau setiap penyakit itu ada hubungannya juga dengan kerusakan lingkungan. Seandainya manusia tidak serakah dan habitat hewan tidak diusik pasti segala jenis penyakit mematikan tidak mudah bermunculan. Dari fakta-fakta ini penting untuk menjaga alam tetap hijau dan mengembalikan tempat tinggal hewan-hewan liar seperti sedia kala.

    BalasHapus
  8. permasalahan penebangan kayu ulin masih belum menemukan solusi yang tepat ya. susah melawan perusahaan-perusahaan besar yang notabene berlimpah uang, biasanya akan menang dan merasa di atas angin. Rakyat kecil hanya bisa terkena imbas pahitnya saja. Giliran kebakaran hutan, rakyat yang harus terkena asapnya. miris banget memang. nggak salah ada salah satu lagu Iwan Fals yang menyinggung soal kerusakan lingkungan, kayak kebakaran hutan dan lahan ini salah satunya..

    BalasHapus
  9. Tulisan ini membuka mata kita agar lebih menyayangi hutan dan tanaman yang ada didalamnya ya kak, Kalimantan dulunya adalah paru2 dunia lalu bagaimana dengan sekarang?

    BalasHapus
  10. Ya Allah aku kok jadi tiba sedih baca artikel ini, yang mnyebutkan bahwa dlm 6 detik hutan hujan tropis musnah ya? duh, itu pasti akibat manusia2 yang ingin mentingin perut sendiri. Duh, kasihan ya padahal hutan hujan tropis ini penyuplai oksigen tertinggi di dunia ya?

    Kemaren2 baru denger juga di Amerika itu hutannya ada yang terbakar, kasihan satwa dan plasma nutfah di dalamnya. Pastinya jadi degradasi habitat, satwa banyak yang kehilangan tempat tinggal ya?

    BalasHapus
  11. Dari awal baca tentang kayu ulin ini rasanya sakit hati sekali, tp sadar sy juga spesies manusia yang mngkin tanpa sadar ikut memanfaatkan hasil tebangan liar manusia serakah lainnya. Maafkan kami manusia yg suka serakah ini, benar mungkin covid merupakan karma dr kejelekan sifat manusia pada hewan dan tumbuhan dan alam ini.

    BalasHapus
  12. Salah satu solusi yang dibikin Yayasan Alam Sehat LEstari itu juga bagus lho. Donasi bibit pohon cuma 100k an ajaa, dirawat sampai dia bisa dilepas di hutan, dan jadi pengganti ulin yang musnah :(

    BalasHapus
  13. Sedih banget baca cerita Bulian. Maafkan kami ya Bulian, masih belum bisa melindungimu dan saudara-saudaramu dengan baik. Padahal katanya Tuhan menciptakan kami sebagai khalifah, sebagai pelindung bumi. Namun nyatanya tangan-tangan jahat kami justru banyak menimbulkan luka. Tetap kuat Bulian, yakinlah masih ada manusia-manusia berhati baik yang berperan sebagai khalifah sebenar-benarnya. Kami akan berusaha memberikan dampak sebisa mungkin. Tunggu aksi kami ya...

    BalasHapus
  14. Emang prihatin banget ya sekarang kalau melihat hutan di kalimantan, kalau dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu hutan kalimantan itu masih asri banget. Betul banget, semoga saja dengan adanya pemindahan ibukota baru ini tidak banyak mengorbankan lahan hutan sih.

    BalasHapus
  15. Wow penjelasan yang lengkap sekali kak. Seru sekali tapi sedih karena faktanya selalu tidak menyenangkan. Semoga pandemi ini cepat berakhir... amin..

    BalasHapus
  16. ternyata efek dari karhutla yaitu menimbulkan kabut asap yang sangat parah bahkan ini bisa menyebabkan terkena penyakit sesak nafas kepada manusia dan mengakibatkan ekosistem alam menjadi terganggu

    BalasHapus
  17. sedih aku membaca cerita Bulian ini.
    benar sekali mbak, terkadang ulah manusia sendiri yang akhirnya merusak lingkungan, hingga berujung hadirnya pandemi seperti ini

    BalasHapus
  18. Kalau hewan yang membawa patogen itu pergi ke hutan dan terus berdiam di sana sesuai ekosistemnya, mungkin dia tidak akan bertemu penduduk manusia sehingga penyakit tidak akan menyapa ya.

    Kuy berbenah diri, selamatkan hutan dan kesehatan kita

    BalasHapus
  19. Spechless. Beberapa tahun lalu saat sedang giat menggaungkan zero waste kami juga mengkaji tentang kerusakan di bumi, terutama hutan. Duh sedih banget dengan kondisi alam kita saat ini.
    Maka penting juga mengedukasi anak-anak kita untuk bagaimana bisa menjaga bumi terutama mengenai menjaga hutan dan lingkungan lainnya.

    BalasHapus
  20. Bicara masalah Karhutla seperti bicara masalah telur dan ayam ..mana yang lebih penting didahulukan.. karena jumlah manusia makin banyak jadi sebagian banyak yang ambil jalan pintas untuk membakar hutan demi isi perut , adalagi yang karena rakus dsb dll intinya manusia tak pernah bersikap bijak dengan alasan perut. Ya begitulah kak dan 2 tahun ini pandemi mengubah segalanya banyak manusia bertumbangan mungkin dan semoga para tumbuhan di hutan termasuk Pohon Ulin dapat lestari kembali karena manusia yang mengusiknya sibuk menangkis penyakit kasat mata ..semoga keadaan membaik dan berjalan pada jalurnya kembali..

    BalasHapus
  21. Ikut sedih dg nasibmu, Kayu Ulin.
    Meski gak bisa bantu secara langsung, aku berdoa buatmu agar tetap lestari

    BalasHapus
  22. gimana yah mba.. memang tata kelola kita kacau. aku dulu waktu kuliah, beberapa kali meneliti tentang regulasi hutan. aduh mbulet.. ini masih ngomongin karhutla ya, belum soal tambang yang ada di dalam hutan yang dilindungi.

    BalasHapus
  23. Patah hati sepanjang baca. Dimulai dari kisah sendunya si kayu besi alias kayu ulin.

    Banyak dicari tapi ternyata sulit sekali berkecambahnya, walau ia termasuk kayu yang kualitasnya mantap jaya.

    Betapa manusia ini serakah sekali ya.

    BalasHapus
  24. Semoga saja ada solusi yang bisa membantu untuk terus menjaga lingkungan ya, karena kita tentu saja butuh lingkungan yang bersih dan nyaman

    BalasHapus
  25. Saya percaya bahwa apapun yang terjadi di alam ini tidak lain karena ulah manusia juga. Allah tetapkan sebagai jalan untuk memberitakan hikmah di balik semua kejadian itu

    BalasHapus
  26. Saya jadi ikut sedih membaca tulisan ini. Manusia-manusia sekarang serakah. Mau manfaatnya tapi tidak mau merawat dan melestarikannya. Malah membuat kerusakan dimana-mana. Saya setuju koq kalo dikatakan bahwa wabah sekarang ini adalah bagian dari karma.

    BalasHapus
  27. Kadang manusia memang begitu egois dan mau menang sendiri. Padahal semaunya harus seimbang. Kalau nggak ya demikian adanya. Siapa menabur ia menuai. Semoga ke depannya kita makin sadar dengna lingkungan

    BalasHapus
  28. Hai bulian, terima kasih sudah bercerita, aku jadi tahu begitu mengerikannya kebakaran hutan di tahun 2019 itu, karena ternyata lahan yang terbakar sampai 2,600 hektar. Sedih juga mendengar ceritamu yang tentang penebangan pohon spesiesmu yang dijadikan bahan bangunan hingga tersisa 20% saja ya di tahun 2010 dibandingkan 40 tahun lalu. Duh semoga dengan banyaknya bencana dan pandemi saat ini membuat manusia lebih aware terhadap lingkungannya.

    BalasHapus
  29. pohon ulon ini sudah aku dengar sejak dulu kala tapi aku belum pernah lihat wujudnya secara langsung, mu gkin harus ke Kalimantan dulu ya..
    Btw, nheri banget ngebayangin setiap 6 detik hutan kita hilang...

    BalasHapus
  30. Sebenetnya kayanya manusia tuh mahluk yang bisa jadi paling jahat dan paling ngerusak alam ya.. huhuhu. Sedih banget kalo populasi pohon ulin makin rusak,semoga semakin banyak manusia yang sadar akan pentingny populasi pohon ulin ini ya.. aamiin..

    BalasHapus
  31. Judulnya langsung nonjok kakak Arai ini, mantul. Memang menjaga ekosistem yang ada seperti melestarikan hutan, memang akan lebih membuat keadaan sekitar lebih aman dan sehat. Duh, semoga ke depannya kita bisa ikut serta dalam kegiatan menjaga hutan dan semoga pandemi ini bisa segera diatasi, aamiin.

    BalasHapus
  32. Sedih sekali mengetahui pohon ulin sudah semenipis itu dan proses regenerasi si kayu besi ini sangat lama. Makin banyak pembangunan manusia yang membutuhkan kayu kuat, makin sedikit jumlahnya.
    Dan ya, saya pikir memang ini sebuah karma (dan cara mengurangi populasi dengan sangat cepat). Semoga tidak ada break out lagi dari pandemi baru karena keserakahan manusia pada konsumsi satwa liar.

    BalasHapus

  33. Selain panas ternyata efek dari kebakaran hutan cukup banyak ya mana regenerasi pertumbuhan pohon sangat lama dan miris sekali bahwa semua ini akibat dari keserakahan manusia dan keegoisan tanpa memikirkan banyak hal

    BalasHapus
  34. Keren sekali tulisannya Kak Arai... Saya baru sadar bahwa ada hubungan anatara pandemi dengan upaya melestarikan hutan atau pepohonan. Semoga setelah ini makin banyak orang sadar dan turut menjaga akosistem bumi.

    BalasHapus
  35. Sedih banget baca cerita Bulian ini. Semoga para pengambil kebijakan bisa menyelamatkan Bulian dan juga keluarganya.

    BalasHapus
  36. Eusideroxylon zwageri, itu nama latinnya ulin. Saya masih ingat pas kuliah di Kehutanan dulu, pas masuk Laboratorium Hasil Hutan, melihat kekokohan kayu endemik Indonesia ini. Pantas saja banyak dibalak untuk kepentingan segelintir orang yang mengeruk keuntungan. Dongengnya keren mba. Bisa jadi pendidikan konservasi juga buat anak.

    BalasHapus
  37. Duh, sedih banget mendapati potret semakin hilangnya kekayaan alam. Kayu Ulin yang semakin hilang, karena diburu manusia. Di sisi lain itu merupakan kebutuhan. Mudah-mudahan banyak yang sadar untuk menjaga lingkungan. Aamin

    BalasHapus
  38. Saya penasaran banget sama kayu Ulin ini. Semoga masih bisa melihatnya langsung suatu saat nanti.

    Gerak banget sama orang-orang yang menghabisi hutan demi imbalan rupiah.

    Padahal semua itu bisa jadi sumber bencana yang akan merugikan manusia. Butuh kerjasama dari banyak pihak untuk menghentikan semua ini.

    BalasHapus
  39. wuaaah asik banget story tellingnya
    aku ngerasa ada di posisi si ulin
    dan tulisan ini bakalan asik banget ya kalau dibacain ke bocah2 (yang bagian awal2), soalnya kayak tulisan dongeng

    BalasHapus
  40. Sedih banget kisah kayu ulin, apalagi saya kebayang si meja makan dari jenis kayu ini yang demandnya tinggi. Coba bayangkan berapa puluh tahun dan bahkan ratusan tahun yang diperlukan untuk menumbuhkan pohon ini. Begitu mudahnya demi kepentingan sekelompok orang dibabat. - Renov

    BalasHapus
  41. Mbak, gaya menulismu bikin aku merinding. Memang dilema ya masalah hutan ini. Apakah memang modernisasi itu harus merusak alam ya? Apakah nggak ada cara lain???

    BalasHapus

Posting Komentar