Review 'NOMADLAND' (2020): Tak Semua yang Berkelana Tanpa Arah itu Tersesat

18 komentar
review NOMADLAND

Kalau ada alasan khusus kenapa saya membuat review NOMADLAND (2020) kali ini, jawabannya adalah karena film ini berhasil membawa pulang penghargaan film paling prestisius di Bumi ini yakni piala Oscar dari ajang 93rd Academy Awards. Dengan banyaknya perempuan yang menjadi kunci kesuksesan film ini, NOMADLAND haruslah diketahui banyak orang.

Digelar di Hollywood's Dolby Theatre, Los Angeles, Amerika Serikat hari Minggu (25/4) waktu setempat, NOMADLAND berhasil memboyong tiga piala Oscar paling bergengsi yakni Best Picture, Best Director dan Best Actress. Membuktikan kalau NOMADLAND memang termasuk salah satu film terbaik yang dirilis sepanjang 2020 kemarin.

Kendati memang jujur saja, dari delapan film yang masuk nominasi Best Picture kemarin, saya lebih menyukai kisah yang disuguhkan oleh MINARI (2020). Namun NOMADLAND memang tak bisa ditampik secara kualitas cerita, visi karakter utama hingga sinematografi yang sangat Oscar material sekali. 

Apalagi NOMADLAND seolah jadi penguat feminis sepertiku pembuktian kalau perempuan memang memiliki kesempatan yang sama besar dengan laki-laki untuk berkuasa di ajang perfilman super bergengsi sekelas Oscar. Yap, sutradara dari NOMADLAND adalah Chloé Zhao, perempuan berusia 39 tahun yang berkewarganegaraan China.

People at birth are inherently good. I still truly believe them today. Even though sometimes they might seem like the opposite is true, but I have always found goodness in the people I met everywhere I went in the world ~  Chloé Zhao

Sinopsis 'NOMADLAND'

Berdurasi 108 menit, film yang diadaptasi dari buku non fiksi karya Jessica Bruder terbitan tahun 2017 berjudul Nomadland: Surviving America in the Twenty-First Century, mampu memikat saya dengan cara yang unik. Belum lagi betapa film ini sudah wara-wiri di berbagai festival film bergengsi tingkat dunia, seolah menjadi pembuktian kalau NOMADLAND datang ke Oscar untuk mengklaim kemenangannya.

NOMADLAND dibuka dengan kisah Fern (Frances McDormand) yang kehilangan pekerjaannya di pabrik US Gypsum, lantaran pabrik itu bangkrut pada tahun 2011. Hanya selang beberapa bulan saja, Fern juga kehilangan sang suami yang bekerja di tempat sama. Seolah melengkapi penderitaannya, tempat tinggal Fern yakni di Empire, negara bagian Nevada juga ikut ditinggalkan para penduduk dan berubah jadi kota hantu.

Fern sarapan di dalam mobil van
Fern sarapan di dalam mobil van

Kehilangan pekerjaan, suami dan kehidupan membuat Fern memutuskan untuk hidup di sebuah RV alias mobil van yang dia beri nama Vanguard, dan berkeliling ke pelosok negeri sebagai seorang nomaden. Sebagai orang yang hidup berpindah layaknya manusia purba, Fern menghabiskan waktunya di dalam van seorang diri sambil berpindah-pindah kerja, termasuk jadi karyawan musiman di Amazon ketika musim dingin.

Menghuni sebuah mobil van tentu sangatlah berbeda dengan tinggal di sebuah rumah, Fern praktis melakukan segalanya di dalam RV termasuk buang air ke sebuah ember dan menguburkan kotorannya sendiri. Harus bertahan tidur ketika cuaca dingin menusuk saat musim dingin adalah hal-hal yang biasa dilakukan nomaden dan diterima Fern tanpa banyak mengeluh.

Fern di depan mobil van
Fern di depan mobil van

Hingga akhirnya rekan kerja Fern yakni Linda (Linda May) mengundang Fern untuk mengunjungi sebuah pertemuan gurun pasir untuk mempertemukan para pengembara di Arizona, yang diselenggarakan oleh Bob (Bob Wells). Bob sudah dikenal oleh publik Amerika sebagai seorang praktisi kehidupan nomaden sederhana, penulis sekaligus Youtuber. 

Dalam pertemuan itu, Fern berjumpa dengan para pengembara nomaden lain dan saling berbagi cerita soal masa lalu, impian hingga keterampilan bertahan hidup di jalanan.

Namun saat sudah cukup nyaman dengan kehidupan nomadennya, mendadak ban mobil van milik Fern meledak saat terparkir dan membuatnya meminta bantuan Swankie, (Charlene Swankie) yang meskipun awalnya tampak kesal, tapi akhirnya justru menjadi salah satu teman terbaiknya. Apalagi saat Fern mengetahui jika Swankie mengidap penyakit kanker paru-paru dan hanya punya beberapa bulan lagi untuk hidup, Swankie menolak menyerah.

Daripada harus dirawat di rumah sakit dan meninggal, Swankie memilih untuk membuat banyak kenangan indah di jalanan bersama mobil van sebagai nomad sekalipun seorang diri.

adegan film NOMADLAND
meskipun nomaden, perawatan wajah is a must!

Perlahan rekan-rekan nomaden Fern pun beranjak dari tempat pertemuan di gurun pasir itu. Fern pun melanjutkan hidup dengan kembali lagi mencari pekerjaan baru. Dia lalu berjumpa dengan Dave (David Strathairn) yang ternyata menaruh hati padanya. Namun Fern tampaknya tak ingin terikat dengan orang lain, meskipun dirinya membantu Dave yang mendadak sakit dan harus dioperasi.

Dave pun akhirnya meninggalkan Fern karena dirinya memilih kembali hidup bersama sang putra dan menantu yang akan memberikannya seorang cucu. Dave sempat mengajak Fern untuk berkunjung ke rumahnya, tapi Fern menolak.

Home, is it just a word? Or is it something that you carry withing you? ~ Angela (NOMADLAND)

Masalah timbul saat mobil van Fern rusak dan tidak bisa dinyalakan sehingga harus diperbaiki total. Dalam kondisi tak punya pekerjaan dan uang, Fern pun menghubungi adiknya, Dolly (Melissa Smith) untuk meminjam uang. Fern pergi ke Calfornia untuk menemui Dolly tapi mendapat sambutan kurang baik, terutama dari suami Dolly. Dolly pun menanyakan kenapa Fern memilih tinggal di jalanan setelah Empire ditinggalkan. Tak ingin berlama-lama, Fern pun akhirnya meninggalkan Dolly setelah memperoleh uang pinjaman.

Setelah mobil van diperbaiki, Fern rupanya melanjutkan perjalanannya ke rumah Dave. Fern mendapat sambutan hangat dari keluarga Dave termasuk anak dan menantunya. Dave bahkan mengungkapkan perasaannya kepada Fern dan memintanya untuk tinggal bersama untuk jangka panjang. Dalam kegundahan itu, Fern memilih untuk pergi meninggalkan kehangatan yang ditawarkan oleh Dave dan kembali menjalani hidup sebagai seorang nomaden dengan mobil van.

Fern di lokasi kumpul para nomaden
Fern di lokasi kumpul para nomaden
Dalam acara kumpul para pengembara di Arizona setahun kemudian, Fern mendapat kabar jika Swankie sudah meninggal. Fern pun akhirnya berani membuka dirinya kepada Bob dan mengungkapkan alasannya memilih hidup sendiri di mobil van. Fern rupanya belum bisa melupakan mendiang suaminya, alasan kenapa dia lebih nyaman sebagai nomaden.

Hingga akhirnya Fern pun mencoba berdamai dengan dirinya untuk kembali lagi ke Empire. Mengunjungi bekas pabriknya, US Gypsum dan rumahnya yang terbengkalai. Fern pun akhirnya membuang seluruh barang di rumahnya dan memilih untuk mencari kedamaian bagi jiwanya. Menghabiskan waktu sendiri di tepi laut, melihat deburan ombak dan melintasi gunung-gunung, berbahagia meskipun terus berkelana tanpa arah.

Review 'NOMADLAND' Menurut Saya

Kalau kamu mengharapkan sebuah film yang dipenuhi konflik dan berbagai kejutan sedari awal film bergulir seperti PARASITE (2019) yang meraih Oscar sebagai Best Picture di ajang Academy Awards tahun lalu, maka salah besar. NOMADLAND justru hadir sebagai sebuah film yang begitu pendiam, sehingga kedalaman cerita dan perasaan adegan per adegan benar-benar diwakili oleh sang karakter utama, Fern, yang kebetulan juga pendiam.

Namun ekspresi yang tersirat itulah yang justru menjadi kekuatan NOMADLAND, sekaligus pembuktian betapa kemampuan penyutradaraan Zhao sangatlah berkarakter. Cukup mengejutkan karena NOMADLAND adalah film ketiga Zhao setelah SONGS MY BROTHERS TAUGHT ME (2015) dan THE RIDER (2017). Tapi melihat betapa poweful NOMADLAND, membuat saya sangat menantikan ETERNALS (2021) film superhero Marvel yang akan dirilis beberapa bulan mendatang.

Zhao dan McDormand
Zhao dan McDormand
Dengan pergerakan dan penempatan kamera yang begitu simpel, Zhao justru memberikan nyawa pada setiap adegan. Pertemuan Fern dengan para nomaden lainnya seolah membuat kita ditarik dalam sudut pandang sang karakter utama, mencoba memahami apa yang dia lihat, apa yang dia dengar dan dia rasakan. Tak heran kalau mau tak mau saya sangat memuji kemampuan akting McDormand. Serta memberikan standing ovation ketika akhirnya dia berhasil memboyong piala Oscar sebagai Best Actress, meneruskan jejak Renée Zellweger yang tahun lalu memboyong piala di nominasi serupa untuk film JUDY (2019).

Aktris berusia 63 tahun yang sekaligus menjadi produser NOMADLAND ini adalah pilihan terbaik untuk menjadi Fern. McDormand berhasil menjadi tulang punggung NOMADLAND secara sempurna, karena memang visual yang dihasilkan dalam film ini kebanyakan diambil Zhao dari bagaimana cara Fern memandang dan merasakan. Tak heran kalau akting McDormand yang cemerlang membuat saya tidak bisa membenci keegoisan Fern, tapi justru turut menghargai pilihannya dan takjub atas kemandiriannya.

Tak hanya gemilangnya akting McDormand, kekuatan lain dari NOMADLAND ini adalah pilihan shoot-shoot pemandangan visual yang sempurna. Zhao seolah membawa kita menjelajahi lokasi-lokasi eksotik khas Amerika yang mungkin selama ini cuma kamu tonton di film-film koboi. Saya begitu takjub ketika mobil van milik Fern berjalan di sebuah jalanan tandus dengan gunung besar di sampingnya, saat Fern bermain-main di lanskap batuan hingga tepi laut dengan ombak menderu begitu ganas tapi juga cantik.

mobil van Fern melakukan lintas negara
mobil van Fern melakukan lintas negara
Mau tak mau kehidupan nomaden yang dilakukan Fern membuat jiwa solo travelling dalam diri ini seolah memperoleh pembenaran. Bahwa tak masalah kok untuk hidup sendiri. Menjelajahi jalanan sendiri dan pergi ke suatu tempat antah berantah. Karena bukankah mereka yang sendiri, berjalan tanpa arah, belum tentu kesepian, bukan? Bisa saja mereka seperti Fern yang begitu bahagia menikmati deburan angin laut setelah berhasil berdamai dengan masa lalunya.

NOMADLAND seolah memberikan sebuah kepastian bahwa film bagus tak harus diliputi oleh emosi yang meledak-ledak dengan berbagai pengambil gambar yang ambisius. Zhao seolah membiarkan NOMADLAND mengalir dengan sangat sederhana, tapi justru di situlah daya tariknya. 

Budaya hidup di sebuah mobil van memang tidak dikenal oleh orang Indonesia, atau masyarakat Asia. Namun dengan fakta bahwa Zhao adalah seorang China dan mampu memperlihatkan kesan nomaden yang kuat dalam NOMADLAND, membuat saya semakin mengaguminya. Tak heran kalau Zhao mencatatkan namanya sebagai sutradara perempuan kedua sepanjang sejarah Oscar setelah Kathryn Bigelow, yang berhasil memboyong Best Director lewat THE HURT LOCKER (2009).

Chloe Zhao dan dua Oscar dari NOMADLAND
Chloe Zhao dan dua Oscar dari NOMADLAND
NOMADLAND ditutup dengan sempurna sebagai sebuah film yang menyuguhkan perjalanan jiwa. Fern akhirnya memperoleh ketenangan begitu pula saya sebagai seorang penonton. Pelajaran yang dia dapat dari rekan-rekannya nomaden, membuat saya menghargai bahwa setiap orang berhak menentukan hidup yang mereka mau, asalkan tidak merepotkan dan mengganggu orang lain.

Mungkin di masa yang serba sulit dan tidak tentu seperti saat ini, pergi dari rumah dan berkelana mencari pelajaran di jalanan, bisa jadi cara terbaik untuk menemukan tujuan sejati dari kehidupan.

Tapi pertanyaannya, apakah kita cukup berani menjadi seorang Fern? Apapun pendapatmu, itu adalah hidup yang sudah kamu pilih dan jangan sampai menyesalinya. 

I don't ever say a final goodbye. I always just say, 'I'll see you down the road' and I do ~ Bob (NOMADLAND)

Arai Amelya
I'm a driver, never passenger in life

Related Posts

18 komentar

  1. biasanya aku nggak tertarik dengan film barat. beda dengan yang ini. aku bakal nonton nih. seru banget baca sekilas juga dan bakal banyak pelajaran hidup ya.

    BalasHapus
  2. Kalau udah milih terus nyesel gimana yak?
    Minta ditampol kali yaa. Kayak aku 😅😅

    BalasHapus
  3. Wah keren, jadi pengen nonton filmnya ni. Perjalanan nonmaden yang mengasikkan, menghadapi penyakit yang menyertainya.

    BalasHapus
  4. Karena bukankah mereka yang sendiri, berjalan tanpa arah, belum tentu kesepian, bukan?
    Ya kalo mbaknya kesepian, bukan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. jelas kesepian, akutu tipe gadis kembang desa yang tidak bisa sendiri di keramaian

      Hapus
  5. Jujur sampai saat ini saya belum tertarik untuk nonton Minari. Dan lihat sinopsis Nomaland ini, saya mikir juga untuk nontonnya. Penulisan sinopsis yang bagus kakak 👍👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. film-film Oscar gini memang mayoritas bercerita dengan pace lambat sih, jadi akan ada beberapa orang yang kurang suka. Tunggu aja pas 30 April kak, NOMADLAND bisa ditonton legal di Disney Hotstar+. Tapi kalau aku memang lebih suka MINARI sih mkwkw

      Hapus
  6. Aku belum nonton Kak. Tapi ya jadi penasaran mengingat memenangkan penghargaan pasti ada sudut pandang yang berbeda dan menarik. Kisah perjalanan pula.

    BalasHapus
  7. penasaran sama filmnya, kebetulan saya suka dengan film-film yang mengarah kepetualngan gitu. karena memang ga biasa di negara kita untuk hidup di sebuah kendaraan, let's say van gitu. jadi seperti lagi berpetualang ya. hua langsung cari2 deh filmnya

    BalasHapus
  8. Aku belum nonton nih Nomadland. Biasanya film2 peraih award gini banyak moral value nya ya. Penasaran ingin nonton detail film nya

    BalasHapus
  9. Seorang wanita yang velum bisa move on hingga berkelan dengan mobil Van? Aku nggak bisa bayangin hidup dalam mobil secara nomaden. Menolak cinta dari kehangatan. Menarik sekali, ada banyak kisah naik turun juga. Bikin hidup

    BalasHapus
  10. Sebagai org yg menjalani hidup nomaden, cerita ini agak relate sih. Cuma kadang saya masih suka lelah utk beradaptasi dgn lingkungan lagi dan lagi. Mgkn kalau Fern enjoy karena dia lebih bnyk menghabiskan nomaden sendiri ya. Jadi penasaran pengen jg nntn film ini jg ah

    BalasHapus
  11. Kalau ngelihat orang yang melakukan hidup nomaden gini, pasti kita bakal berpikir asyik dan enak hidupnya karena keliling dan pindah2 tempat.
    Tapi bakal berefek ke mentalnya juga nggak sih ini,
    Hmm, pengen nonton film nya juga nih

    BalasHapus
  12. Tanpa arah bukan berarti tanpa tujuan. Pengen banget nonton film ini

    BalasHapus
  13. Kayanya enak hidup nomaden gitu ya kak Arai. Tapi apa yang dicari ya padahal sudah ada yang menawarkan kenyamanan, ya hidup itu pilihan ya.

    BalasHapus
  14. Wah boleh nih untuk ditonton pas weekend. Tapi ada rekomendasi situs atau aplikasi free untuk nonton film barat gak ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku biasanya nonton d Netflix, Disney+ Hotstar atau HBO Max. Nomadlan bisa ditonton di Hotstar per 30 April, kak

      Hapus

Posting Komentar