Cerita Pendakian: Menjejak Puncak Pawitra Gunung Penanggungan Saat Ramadhan

21 komentar

mendaki gunung Penanggungan
© Choirul Hisyam

Setiap bulan puasa Ramadhan seperti sekarang, aku selalu teringat dengan salah satu aktivitas nekat yang pernah kulakukan.

Apa itu?

Mendaki gunung.

Tunggu, mendaki gunung saat Ramadhan?

Benar.

Aku pernah melakukannya bersama beberapa temanku waktu kami masih bekerja sekantor di salah satu situs entertainment terbesar di Indonesia. Saat itu kami memilih Penanggungan yang berada di perbatasan Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan itu, sebagai gunung yang bakal didaki.

Sebuah perjalanan pendakian yang berawal dari aktivitas gabut dan kebosanan di kantor, membuat kami yang sebelumnya sudah pernah ke Panderman, Semeru dan Arjuno bersama ini akhirnya sepakat berangkat. Apalagi kata banyak orang, Penanggungan adalah salah satu gunung yang cocok untuk pemula, sehingga kami yang notabene adalah hikers abal-abal ini semakin semangat berangkat, sampai menggadaikan jam-jam sholat Tarawih dan berbuka puasa bersama keluarga tercinta.

Maklumlah, waktu itu (hingga sekarang) kami masihlah rombongan yang muda dan berbahaya.

Perjalanan ke Penanggungan dari Malang

penampakan kami berenam di tenda puncak Bayangan, Penanggungan
penampakan kami berenam di tenda puncak Bayangan, Penanggungan

Berstatus sebagai budak korporat, kami waktu itu memutuskan untuk memulai perjalanan ke Penanggungan di sore hari. Memang sudah jadi kebiasaan kami untuk mendaki di malam hari, karena menurutku jauh lebih menyenangkan. Pendakian di malam hari relatif tidak cepat capek, karena udara yang dingin dan gelapnya malam membuat kita lebih fokus pada jalan-jalan setapak yang dipijak.

Intinya, tau-tau udah sampe puncak ajalah.

Dan tiba di hari yang disepakati, kami berkumpul di Supermarket Giant (sekarang sudah bangkrut) yang terletak di depan pabrik rokok Bentoel, di dekat Pintu Gerbang Tol Singosari. Seperti biasa aku hanya membawa daypack karena pendakian Penanggungan memang hanya membutuhkan waktu dua hari satu malam saja.

Waktu itu kami berenam hanya menggunakan tiga unit sepeda motor sebagai alat transportasi menuju Tamiajeng.

Hanya saja karena pendakian ini berlangsung di bulan Ramadhan dan kami berangkat dalam kondisi puasa, kami akhirnya mampir ke rumah temannya mas Otus untuk numpang berbuka. Sebagai orang yang tidak bisa naik gunung tanpa makan nasi, waktu itu kubiarkan diriku memang melahap segala makanan dengan rakus.

Tanpa sadar karena terlalu kenyang makan, waktu kami di rumah teman mas Otus yang berada di Pandaan pun akhirnya overtime. Lebih dari pukul 21.00 WIB kala itu, kami meninggalkan Pandaan menuju Tretes.

Setelah mampir di minimarket untuk membeli tambahan air mineral, susu, madu dan coklat batangan yang menjadi tiga item wajib bagiku setiap mendaki gunung, kami langsung melanjutkan perjalanan langsung melewati terminal Trawas dan akhirnya sampai di pos pendakian Tamiajeng.

Pendakian Gunung Penanggungan Lewat Tamiajeng

jalur gunung Penanggungan

Untuk bisa mendaki Penanggungan sebetulnya ada lima jalur resmi yang tersedia yaitu:

  • Pendakian lewat Tamiajeng, Trawas
  • Pendakian lewat Ngoro, Mojokerto
  • Pendakian lewat Kedungudi, Trawas
  • Pendakian lewat Jolotundo, Trawas
  • Pendakian lewat Wonosuryo, Betro, Gempol

Hanya saja mas Otus saat itu menyarankan agar kami melewati Tamiajeng yang memang merupakan jalur paling favorit bagi pendaki ke Penanggungan. Meskipun karena lewat Tamiajeng, kami harus rela tidak menemukan satu sumber air pun sepanjang perjalanan.

Pos Pendakian – Pos 2

Sekitar pukul 22.30 WIB kami berenam sudah tiba di Pos Pendakian. Setelah memarkirkan sepeda motor di dekat rumah-rumah warga, kami pun melakukan pendaftaran pendaki seperti normalnya naik gunung. Tentu saja yang mengurusi semua administrasi adalah mas Otus dan Lila saat itu.

Usai buang air kecil dan berkumpul untuk berdoa, kami pun mengenakan headlamp karena memang apa yang kalian harapkan saat naik gunung di malam hari? 

Ada lampu Philips berjajar terpasang di jalurnya?

Trek pertama yang kami lewati usai dari Pos Pendakian adalah jalanan berbatu yang mulai menanjak hingga Pos 1. Menuju Pos 2, trek mulai berubah menjadi jalan tanah dan rumput-rumput liar yang kanan-kirinya dipenuhi pepohonan dan semak khas gunung. Biasanya vegetasi seperti ini dijuluki sebagai hutan Montane. Kalian bisa menemukan beberapa gubuk di sepanjang jalan ini yang memang kalau malam, semuanya jelas sepi dan kosong.

Bagi pendaki profesional biasanya perjalanan dari Pos Pendakian menuju Pos 2 cuma membutuhkan waktu 30 menit saja. Namun karena kami berjalan di malam hari dan sering duduk rebahan mengatur napas, perjalanan saat itu sepertinya lebih panjang.

Formasi kami masih sama, laki-laki di bagian awal dan akhir barisan. Di mana mas Otus berjalan terdepan dan Guntur ada di posisi belakang, sedangkan empat perempuan lainnya mengisi bergantian di barisan tengah.

Pos 2 – Pos 4

pendakian Penanggungan via Tamiajeng
© Manusia Lembah

Lepas dari Pos 2, trek sudah sampai di jalur tanah yang lebih padat tapi juga makin menanjak. Normal kalau kalian mulai merasakan lelah apalagi jalur Tamiajeng ini bisa dibilang ‘tak ada bonus’ dan semuanya harus menuju puncak.

Kami yang sebelumnya masih bercanda dan mendengarkan dongeng mas Otus bahwa Penanggungan diyakini sebagai salah satu gunung suci di Pulau Jawa ini, akhirnya mulai sibuk mengatur napas. Duduk berjam-jam di depan komputer, sungguh menghajar kemampuan metabolisme dan kekuatan otot kami. Padahal sebetulnya tidak terlalu jauh jalur Pos 2 dan Pos 3, hanya saja kalian harus siap full trekking dan membuat kaki memang harus lebih kuat daripada biasanya.

Setelah melepas lelah sejenak di shelter kecil pada Pos 3 yang berada di tepi jalur pendakian, kami pun berlanjut ke Pos 4 yang jauh lebih ‘jahanam’. Dengan jalur yang terus menanjak, aku merasa makanan yang kusantap waktu berbuka sudah hilang entah ke mana.

Untung saja kami mendaki di musim panas saat bulan Juni waktu itu, sehingga kondisi trek begitu kering. Bisa dibayangkan jika mendaki Penanggungan lewat Tamiajeng di musim hujan, jalur menuju Pos 4 sudah pasti akan cukup lincin. Bagi pendaki pengalaman, biasanya Pos 2 sampai Pos 4 bisa ditempuh dalam waktu 60 menit.

Pos 4 – Puncak Bayangan

arjuno welirang dari puncak bayangan penanggungan
Gunung Arjuno-Welirang dari Puncak Bayangan Penanggungan

Perjuangan sepertinya belum selesai karena perjalanan dari Pos 4 ke Puncak Bayangan bisa dibilang lebih nelongso.

Trek di jalur ini tak hanya menanjak saja, tapi juga berbelok-belok dan ada yang sempit, sehingga membuatku harus benar-benar fokus melihat jalur yang kupijak dengan headlamp. Kami satu rombongan beberapa kali berhenti, mengatur napas, minum air atau merebahkan punggung. Kala itu waktu sudah menunjukkan lebih dari pukul 00.00 WIB.

Angin dingin semakin berhembus kencang saat kami sudah makin dekat dengan Puncak Bayangan Gunung Penanggungan. Dengan jalur yang cukup berat, kami membutuhkan waktu lebih dari satu jam untuk sampai. Vegetasi di tempat ini sudah sangat berbeda yakni padang rerumputan (stepa pegunungan) yang didominasi gelagah, alang-alang serta pepohonan kaliandra.

Usai menemukan tempat untuk mendirikan tenda, aku langsung rebahan dan mencoba menyesuaikan napas karena dari ketinggian ini, oksigen memang sudah mulai berkurang. Hampir-hampir tenda sulit kami dirikan kala itu karena angin di area Puncak Bayangan benar-benar berhembus sangat kencang. Kami pun butuh waktu yang cukup lama untuk bisa mendirikan tenda. Sementara di dekat-dekat kami, sudah ada banyak para pendaki lain yang telah tiba lebih dulu.

Dari tempatku berada, aku bisa melihat lampu-lampu rumah di Mojokerto berpendar begitu syahdu di bawah sana.

Sementara itu sosok yang gagah berdiri di depan kami, Gunung Arjuno-Welirang seolah memberikan salam di pagi hari yang sangat dingin itu. 

Aku melirik jam tangan, sekitar pukul setengah tiga dini hari.

Akhirnya Menggapai Puncak Pawitra

kemiringan lereng 45 derajat ke puncak Penanggungan
kemiringan lereng 45 derajat ke puncak Penanggungan

Jika dibandingkan Arjuno dan Welirang yang berdiri di depannya, Penanggungan memang tampak mungil. Namun jangan pernah kalian meremehkan trek yang ditawarkan, karena Penanggungan benar-benar bakal menghajar tanpa ampun seolah kalian hendak mendaki Mahameru.

Tak heran kalau akhirnya banyak yang bilang jika Penanggungan ini adalah jelmaan atau miniatur Gunung Semeru. Mitos ini disebut-sebut berasal dari Kitab Tantu Panggelaran Saka 1557 (1635 M). Konon waktu ini Pulau Jawa yang begitu tak stabil dan terombang-ambing di lautan, membuat para dewa memindahkan Mahameru dari Jambhudwipa ke Jawadwipa.

Bagian terbesar Mahameru jatuh ke Gunung Semeru yang menjadi atap sekaligus gunung tertinggi di Pulau Jawa, sedangkan puncak Mahameru yang dipotong, dilemparkan ke bagian lain dan menjadi Penanggungan atau dikenal sebagai Pawitra (puncak berkabut)

Apa cerita itu benar? Tak ada yang tahu.

Hanya saja jika ditanyakan padaku, aku memilihnya sebagai sebuah kisah generasi ke generasi yang begitu menarik didengar. Menandakan sudah cukup tualah bangsa kita in

Setelah istirahat sejenak dan melakukan sahur di Puncak Bayangan, usai matahari terbit kami bersiap-siap untuk menuju Puncak Pawitra. Banyak pendaki yang bahkan terhenti di Puncak Bayangan dan tak lanjut ke Pawitra karena bagian puncak Penanggungan ini selalu diselimuti kabut. Namun kami berenam saat itu beruntung karena cuaca Penanggungan benar-benar cerah dan terik.

istirahat di lereng menuju puncak Penanggungan
istirahat di lereng menuju puncak Penanggungan

Perjalanan dari Puncak Bayangan menuju Puncak Pawitra bisa kubilang sebagai trek yang paling berat selama mendaki Penanggungan. Kalian harus sekuat tenaga menahan tubuh tetap stabil supaya tidak tergelincir, karena kemiringan lereng ini bahkan mencapai 45 derajat. Kendati tidak terlalu tinggi dan tidak seperti pendakian ke puncak gunung berapi aktif lainnya, kecuraman menuju Pawitra juga cukup menantang. Namun serunya, kalian bisa beristirahat sejenak di bebatuan besar sambil menatap Arjuno, Welirang atau Kawi di seberang.

pemandangan puncak Pawitra, Penanggungan
pemandangan puncak Pawitra, Penanggungan

Sekitar satu jam waktu yang kami butuhkan untuk mencapai Puncak Penanggungan dan benar-benar menguras tenaga. Hingga akhirnya dengan perasaan bersalah, aku pun menyerah atas puasaku hari itu, padahal baru beberapa jam usai sahur karena rasa haus yang luar biasa dengan tubuh lelah dihajar lereng curam.

puncak gunung Penanggungan
puncak gunung Penanggungan

Lantaran merupakan gunung istirahat, Puncak Pawitra memang cukup tandus. Seolah tak ada kehidupan, Pawitra tampak gundul jika dibandingkan dengan Puncak Bayangan. Kawah mati yang sudah menjadi daratan cukup luas inilah yang menjadi titik tertinggi Penanggungan pada 1.653 meter di atas permukaan air laut. 

Aku menghela napas panjang-panjang, takjub menatap pemandangan dari posisi ini. Kulihat sekeliling, seperti ini rupanya puncak gunung yang akan kalian lihat dari jendela kabin, saat naik pesawat dari Malang menuju Jakarta.

Kubiarkan senyumku melebar, berdusta pada letih di kaki meskipun sempat keseleo senejak dalam perjalanan. Nun jauh di sana dari tempatku berdiri pada arah barat laut, Semeru menopang tubuhnya dengan gagah dan luar biasa angkuh seolah menanti waktu bercumbu.

Dalam hati kujawab, semoga kita segera bertemu lagi.
Arai Amelya
I'm a driver, never passenger in life

Related Posts

21 komentar

  1. Ulala, cakep, sudah 10 tahun lebih aku tidak mendaki, kangen suasana, keren nih gunung, moga next kesampaian mendaki, salam dari Bali kak

    BalasHapus
  2. Perjuangannya berbuah manis ya Mbak. Cakep banget pemandangan dari atas Penanggungan. Nyerahlah aku kalau naik gunung...Hebat mb Arai semangat...

    BalasHapus
  3. Luar biasa cerita pengalaman mendaki gunungnya. Apalah aku yang jalan bentar aja udah ngos-ngosan apalagi mendaki gunung ya

    BalasHapus
  4. Waah, serunya yang bisa muncak. Saya terakhir muncak itu tahun 2018. Mendaki puncak Ciremai. Pengalaman yang luar biasa, memang butuh effort besar untuk bisa naik ke puncak. Sampai berpikir untuk cukup sekali saja muncak ke Ciremai hahaha

    BalasHapus
  5. Cantiknya 😍😍😍 pegunungan gitu bikin relaks, ya, Kak ... Adem pula.

    BalasHapus
  6. Keren banget, puasa ngedaki. Kalau aku udah pasti angkat bendera putih mbak. Wkwkwk.. udah kebayang ngos-ngosannya. Tapi sebanding lah ya, pemandangan puncak Pawitra, Penanggungan ini cakep banget

    BalasHapus
  7. Daku sepertinya akan ngos-ngosan kalau pas bulan puasa, eh gak bulan puasa pun juga akan begitu hehe.
    Yang pasti serunya kebangetan ya Uni Arai dan semoga bisa kembali ke
    puncak gunung Penanggungan

    BalasHapus
  8. AKu gak pernah anggap mudah setiap perjuangan menaklukkan gunung ini pasti punya kisahnya masing-masing yaa..
    Dan uniknya, jadi tahu nih Puncak Pawitra yang tandus dan gak ada tanda-tanda kehidupan.

    BalasHapus
  9. Kerennya pendaki itu mau bekerja keras dan menaklukkan kekuatan tubuh dan mental. Pada akhirnya bisa mendapatkan keindahan alam ketika sudah sampai di puncak. AKu tak sanggup membayangkan bisa mendaki ketika puasa. Wah bisa tepar.

    BalasHapus
  10. Aku pengen bangetttt tapii takut ga kuat. Takut kesasar dan ketakutan-ketakutan yang lain yang biasa ramai diberitakan di luar sana.

    BalasHapus
  11. kayaknya seneng banget deh nih bisa naik gunung, ya. Saya kok nggak ada pengalaman mendaki gunung gini.

    BalasHapus
  12. waah mashaAllah menikmati Ramadhan di puncak gunung, pasti perjuangnnya luar biasa

    BalasHapus
  13. Aamiin! Semoga bisa berjodoh dan ketemu lagi ya Arai. Seneng deh ngikutin perjalananmu meskipun ngga bisa ikutan juga wkwkwk

    BalasHapus
  14. kalau anak anak sudah besar dan bisa ditinggal, mau bulan madu dengan cara seperti ini
    ya bulan madu yang tertunda lama sekali

    BalasHapus
  15. mbak, rumah kakakku deket sama sini nih, duh aku lupa nama daerahnya hahaha. jadi kangen naik gunung nih, nagih banget ya mbak

    BalasHapus
  16. seru banget kak, aku pengen banget bisa barengan temen gitu naik gunung ya, belum kesampean hehe.. sekaraang kayanya bawa keluarga kecil asik kali ya hihi

    BalasHapus
  17. Wah strong sekali mbak. Aku mendaki gunung aja belum pernah, apalagi mendaki gunung pas Ramadan. Kayaknya aku nggak sekuat itu.

    BalasHapus
  18. Aku jadi bisa membayangkan bagaimana keindahan visual yang sedang mb Arai nikmati di puncak sana. Keren banget mb, mendaki saat puasa. Aku belum pernah sama sekali mendaki, pengen sih. Tapi takut ga kuat huhu

    Btw, temen-temen kantornya asik ya mb. Punya kesukaan yg sama!

    BalasHapus
  19. Wah, keren mbak, puasa-puasa mendaki gunung. Nggak puasa aja capeknya minta ampun. Aku selalu pengen naik gunung, cuma belum pernah kesampaian. Waktu kuliah, cuma pernah sekali naik gunung ungaran, itu pun nggak sampai puncak. Pengen kapan2 sekeluarga naik gunung gitu, pasti jadi pengalaman yang seru juga buat anak-anak.

    BalasHapus
  20. Wah iya, dulu pas SMA pernah naik gunung
    Sekarang da lama banget g naik gunung
    Anak anak masih kecil kecil soalnya

    BalasHapus
  21. Wowww kereen mbaa..
    Bener juga yaa lebih asyik mendaki di waktu malam hari yaa.
    Apalagi lagi bulan puasa gini.

    BalasHapus

Posting Komentar