https://www.idblanter.com/search/label/Template
https://www.idblanter.com
BLANTERORBITv101

Review BEFORE, NOW & THEN (2022): Cantik, Sendu dan Bebas

Jumat, 05 Agustus 2022
poster Before, Now & Then
Setelah apa yang dilakukannya di THE MIRROR NEVER LIES (2011), SEKALA NISKALA (2017) dan YUNI (2021), aku sepertinya tak butuh banyak alasan lagi untuk menyukai seorang Kamila Andini. Terlepas dari status grande-nya sebagai putri sulung salah satu sutradara legendaris negeri ini, Garin Nugroho ataupun istri dari sutradara berbakat masa kini, Ifa Isfansyah, Kamila punya sinarnya sendiri.

Sinar itu pula yang selalu berhasil dia perlihatkan dalam frame demi frame karyanya, termasuk di BEFORE, NOW & THEN (2022).

Mengadaptasi langsung bab pertama dari novel JAIS DARGA NAMAKU yang ditulis Ahda Imran (terlibat juga sebagai co-writer bersama Kamila), BEFORE, NOW & THEN membawa kita menelusuri kisah tiga babak kehidupan perempuan Sunda bernama Raden Nana Sunani yang akhirnya menjadi sebutan lain untuk film ini, NANA.

Babak BEFORE dibuka dengan Nana bersama bayinya menembus hutan belantara. Dia dan sang kakak, Ningsih (Rieke Diah Pitaloka), kabur dari kejaran gerombolan yang mana sang pemimpin ingin menikahi Nana. Sebuah pelarian yang harus dibayar mahal Nana lewat kematian sang Ayah (Sanjaya) dan kemungkinan besar suaminya juga, Raden Icang (Ibnu Jamil).

Meskipun tidak dijelaskan oleh Kamila dan aku belum membaca novelnya, jika melihat latar, pelarian Nana dan Ningsih besar kemungkinan terjadi pada masa 1950an.

Di era Revolusi Nasional tersebut, Jawa Barat memang tengah menghadapi pemberontakan kelompok milisi pro-Belanda yakni APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) yang dibentuk sekaligus dipimpin mantan kapten Tentara Hindia Belanda (KNIL), Raymond Westerling.

Pemberontakan APRA terjadi setelah negara-negara bagian milik Belanda di masa RIS (Republik Indonesia Serikat), membubarkan diri dan bergabung kembali ke kesatuan Republik Indonesia.

15 tahun berlalu setelah dirinya berhasil kabur, babak NOW membawa kita menemani Nana di tahun 1960an. Di masa ini, Nana sudah menjalani hidup yang jauh lebih bermartabat sebagai istri dari Darga (Arswendy Bening Swara). Menjadi istri Lurah yang sekalipun berusia lebih tua daripada dirinya, Nana memperoleh apa yang diidamkan perempuan di masa itu. Suami kaya raya, empat orang anak yang sehat, kehidupan finansial makmur, mengelola perkebunan yang luas dan para pembantu yang senantiasa mengikuti perintah.
Nana dan sang suami, Darga
Nana dan sang suami, Darga © Fourcolours Films
Hanya saja Nana sebetulnya tak pernah benar-benar bebas.

Ada rahasia yang selalu terpenjara di dalam pikirannya. Bayangan-bayangan luar biasa nyata soal kematian dan nasib sang suaminya di masa lalu, hingga sosok perempuan muda misterius (Arawinda Kirana), tak pernah bisa lepas dari benak Nana.

Seperti bagaimana putri kecilnya Dais (Chempa Puteri) bertanya kenapa perempuan yang sudah menikah harus menyanggul rambut panjang, Nana dengan lugas berkata ‘Karena seorang istri harus bisa menyimpan rahasia di balik konde’.

Prinsip mengubur dalam-dalam rahasia dan apa yang dia pikirkan itu membuat Nana hanya bisa bebas di saat malam hari. Ketika semua anggota keluarga bahkan sang suami tertidur, Nana dengan rambut panjang berantakannya itu, menghisap dalam-dalam sebatang rokok dan membiarkan dirinya tenggelam dalam pikiran atau imajinasi mimpinya yang begitu liar.
Diciptakan alam pria dan wanita, dua makhluk dalam asuhan dewata
Ditakdirkan bahwa pria berkuasa, adapun wanita lemah lembut manja
Wanita dijajah pria sejak dulu, dijadikan perhiasan sangkar madu
Lepas dari status sosialnya kini yang lebih terpandang, belasan tahun berlalu sejak dia jadi buruan para pria, penjajahan tak pernah sepenuhnya pergi dari hidup Nana.

Lebih pedihnya, ‘penjajahan’ kali ini dilakukan oleh sesama perempuan.

Perempuan-perempuan dari kelas atas itu selalu saja memberikan komentar pedas atas latar belakang Nana, termasuk bagaimana dia menjalani kehidupan sebagai seorang istri dan Ibu Lurah Darga. Sebuah hal klasik soal bibit, bebet dan bobot yang sama sekali tak pernah hilang dari tatanan masyarakat hingga saat ini.

Sebuah perspektif yang begitu tajam dan nyata. Sesuatu yang memang bisa dieksekusi dengan gemilang oleh Kamila Andini.

Tanpa banyak berceramah, Kamila mereka ulang dan menampilkan pada kita soal kegetiran menjadi perempuan. Di era apapun, perjuangan perempuan memang lebih berat. Terlebih pada masa kehidupan Nana yang mana tunduk pada suami adalah harga seorang perempuan.

Termasuk saat dirinya tahu Darga mulai bermain dengan perempuan lain.

Tidak seperti kisah-kisah perselingkuhan dalam sinematik masa kini yang dihiasi dengan konfrontasi tajam dan saling maki, Nana memilih bungkam.

Ironisnya, pada perempuan yang menjadi ‘madu’ dari Darga itulah, Nana mulai melihat angin kebebasan.

Melalui Ino (Laura Basuki), perempuan penjual daging sapi di pasar, Nana membangun keberaniannya.
Ino dan Nana dalam adegan BEFORE, NOW, THEN
Ino dan Nana dalam adegan BEFORE, NOW, THEN © Fourcolours Films
Hubungan Nana dan Ino memang bisa dibilang tidak lazim (seorang istri sah dan selingkuhan suami), tetapi setiap kali Kamila meramu adegan kebersamaan mereka, aku menyadari kalau inilah saat kecantikan Nana benar-benar berpijar.

Bersama Ino, Nana menemukan sinarnya.

Bahkan lewat adegan-adegan mereka berdua yang merokok bersama di malam-malam sunyi (kupilih sebagai adegan favoritku dalam film ini), saling merebahkan kepala di pangkuan ketika piknik, hingga moment coming of age di tebing sungai, aku akhirnya sadar kalau BEFORE, NOW & THEN bukanlah film dua perempuan yang saling berebut pria.

Ini adalah film soal dua perempuan yang saling bantu menemukan kebebasan.

Ino mungkin adalah anomali. 
Sebuah ketidakteraturan yang dibutuhkan dalam kehidupan teratur Nana.
Ino dan Nana saat merokok bersama
Ino dan Nana saat merokok bersama © Fourcolours Films
Seperti kutipan puisi Lewat Jendela karya Taufiq Ismail yang berkumandang dalam sebuah adegan kontemplasi di BEFORE, NOW & THEN, seperti itulah Ino merangsek ke dalam kehidupan Nana.
Sebuah jendela meraihkan malam bagiku
Seperti beribu malam yang lain, ia berkiut, pada engsel waktu
Ia membawa tempias, debu dan cahaya bulan persegi
yang jatuh miring ke atas meja tulis
Layaknya peran pendukung, Ino memang tidak berusaha mencuri sinar yang mulai dipijarkan Nana. Dia tak tampil superior, meskipun itulah yang justru membuatku takjub. Tak heran kenapa Laura berhasil meraih penghargaan Silver Bear untuk kategori Penampil Pendukung Terbaik dalam ajang luar biasa bergengsi, Festival Film Internasional Berlin, Februari 2022 lalu.

Mencapai penghujung babak kedua, Kamila kembali mengarahkan sorotan ke Nana yang sudah mulai menemukan keinginannya. Termasuk pertemuan rahasianya dengan Icang.
Kebersamaan Nana dengan Icang
Kebersamaan Nana dengan Icang © Fourcolours Films
Tak bisa kupungkiri, kebersamaan Nana dan Icang memang terasa begitu sinematik. Sinar-sinar kuning yang romantis, permainan visual yang disuguhkan mau tak mau membawaku teringat pada suasana yang dihembuskan Wong Kar Wai di film IN THE MOOD FOR LOVE (2000). Hanya saja Kamila tak serta merta menyalin, tapi dia membuat sentuhan sendiri dengan bantuan Batara Goempar yang begitu brilian meramu sisi sinematografinya.

Standing applause jelas patut diberikan juga pada Ricky Lionardi yang bertanggung jawab di departemen Music Composer. Pemilihan musik yang ditempatkan sepanjang film, memperkuat suara pergulatan para tokohnya. Bukan Sabda Alam-nya Ismail Marzuki, aku justru terpikat pada magisnya lagu Sunda berjudul Djaleuleudja yang dinyanyikan Nada Kentjana.

Pujian juga layak mendarat pada Vida Sylvia sang Production Designer dan Retno Ratih Damayanti sebagai Costume Designer. Lewat kejelian mereka, kehidupan Pasundan di era 1960an bisa terekam cukup nyata. Tak lupa juga kerja keras tim pelatih budaya Sunda, Taufik Faturohman serta mendiang Nana Munajat.

Berkat mereka (kita lupakan Happy Salma yang memang kelahiran Sukabumi), Laura Basuki yang berdarah Jawa, Tionghoa, Vietnam dan Arswendy bisa bertransformasi seutuhnya sebagai orang Sunda, lengkap dengan bahasa Sunda lawas yang pastinya cukup sulit itu. Tanpa perlu dialek berlebihan ‘ini teh’ yang sering kita lihat menyebalkan dalam sinetron, FTV atau bahkan film-film kelas menengah lainnya.

Kamila mungkin tidak cukup berhasil mempercantik emosi di penghujung film seperti yang dia perlihatkan dalam YUNI. Namun BEFORE, NOW & THEN menutup kisah Nana dengan cukup memuaskan, termasuk bagaimana rambut panjang itu sudah tergerai bebas dan terungkapnya identitas gadis muda misterius yang selama ini dilihat Nana.

Karena pada dasarnya, perempuan yang tahu apa yang dia inginkan, memang terlihat luar biasa menawan. Kecantikan mereka, seolah terpanar tanpa halangan. 
Kamila membiarkan Nana berjalan mengikuti risalahnya yang sendu, cantik dan bebas. Seperti ombak lautan, lembut dan begitu rindu saat menyentuh tubuh.

Bagiku, BEFORE, NOW & THEN sudah lebih dari sanggup ada di posisi teratas film terbaik Indonesia sejauh ini di tahun 2022. 
Before, Now & Then Still5 (c)Fourcolours Films

Author

Arai Amelya

I'm a driver, never passenger in life

  1. Nana sama Ino bakalan jadi bestie gitu? Atau bakalan ada intrik gitu? Emang gak lazim sih kok bisa akrab wkwkw.. menarik! Kalau baca ulasannya, sepertinya jalan ceritamya padat banget, dan related juga sama keseharian, udah hidup enak ada aja nyinyiran, padahal udah jadi istri lurah, ada aja slentingan nggak enak, apalagi dari sesama perempuan, miris sih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ditonton aja kak di Prime Video, yang pasti bukan rebutan cowok, atau pelakor marah-marah kayak sinetron

      Hapus
  2. Waw bisa jadi film terbaik..., Membuat daku penasaran nih buat nonton secara langsung. Secara juga lagi pada bertaburan film baru dan sekuel, hmm, apakah kisah Nana ini bakal menjadi sesuatu apalagi kok bisa sohiban sama selingkuhan suaminya sendiri?

    BalasHapus
  3. wow! dari judulnya kukira film luar, aku baru tau film ini, kok keren sih :) jadi pengen nonton yaa :)

    BalasHapus
  4. Awalnya pas baca judul saya kira ini mau review produk dan disertakan kapan nya. Eh ternyata review dan itu nama judul film nya ya. Heheh... Sebagai orang Sunda saya penasaran ingin melihat bagaimana akting mereka deh. Harus nonton filmnya nih

    BalasHapus
  5. Wah cerita seru juga
    Senang banget, sekarang film Indonesia makin banyak dan bagus bagus ceritanya

    BalasHapus
  6. Filmnya begitu menggoda untuk ditonton. Gimana gregetnya kalau ada wanita idaman laki yang malah jadi penawar kebebasan. Biasanya kan jadi minyak yang bikin bara kemarahan semakin berkobar.

    BalasHapus
  7. Di era apapun, perjuangan perempuan memang lebih berat. Setuju banget. Btw dari reviewnya terlihat sendiri kalau ini merupakan film yang berkelas.

    BalasHapus
  8. aku belum nonton ketiga film itu mba. penasaran juga dan sebetulnya masuk list untuk aku tonton karena suka ama topik dan nilai2 yang diusung

    BalasHapus
  9. Kayaknya ini film asyik ditonton ya...bener2 mencerminkan karakter wanita sesungguhnya. Apalagi jika melihat nuansa yang ditampilkan dalam film ini serasa melihat film2 sejenis film Kartini yang mencerminkan sosok wanita sejati, kecantikannya alami dan bukan pura-pura.

    BalasHapus
  10. Dari judulnya Before, Now and Then kirain film luar mba. Eh ternyata film Indonesia dengan background cerita di tahun jadul. Tp menarik sih melewati tiga latar belakang yang berbeda. Jadi penasaran nih pengen nonton.

    BalasHapus
  11. Ulasannya sangat menarik Kak, serasa mau nonton nih film. Yang saya paham dari ulasannya, Nana dan Ino tetap akrab yaa, malah saling melengkapi kekurangan masing-masing, tanpa drama seperti saat ini, drama pelakor.. Hahaa.
    Disisi lainnya, bagaimana pun kondisi kita, tetap ada saja pro-kontra, tetap ada yang gak senang melihat kita senang, seperti kehidupan Nana setelah menjadi Istri Sang Lurah.
    Otw, hunting nih film.. Hehee

    BalasHapus
  12. kisah yang menggambarkan bagaimana perempuan saling dukung. Film dengan perspektif berbeda dan cukup menantang untuk ditontong. Judulnya juga membuat penasaran sih ini. Mari mencari tahu!

    BalasHapus
  13. Baguss inii penasaran pengen nonton sampai tuntas. Aku kira film luar ternyata film Indonesia yang berkualitas. Semoga tahun ini banyak film bagus yang di hasilkan dintahun ini (gusti yeni)

    BalasHapus
  14. Definisi Woman Support Woman ya kah mbak?
    Kalau dilihat dari judulnya sepertinya tidak asing mbak. Bahkan kalau membaca reviewnya ini jadi lebih penasaran seperti apa jalan ceritanya, dan bagaimana Nana selanjutnya

    BalasHapus
  15. aku baca reviewnya jadi ngebayangin kalau film ini bener bener berkarisma dalam hal pengambilan gambarnya yang cinematic, penokohannya. kerennn
    dari segi cerita memang "nggak biasa" ya, ada cerita perselingkuhan juga
    di masa lalu kayaknya selingkuh juga bukan hal yang biasa ya.
    Nana bisa sabar banget gitu kalau ketemu Ino ya, kalau sekarang misalkan ada di kehidupan nyata yang ada malah cek cok mungkin ya

    BalasHapus
  16. Aku menikmati sekalian ulasan film begore now and then ini kak. Di setiap kata tak ada yang aku lewatkan. Aku jdi pensaran deh. Film dengan isu agak sensitif menurutku melihat perempuan meroko dan jadi kelas 2 saat inj.

    Eh tapi melihat keunguulan2 di film ini mkain openasaran ..

    BalasHapus
  17. Scene terakhir cakep sekali komposisi dan tone
    Seolah merasakan juga suasana yang dialami gadis berpayung tersebut

    BalasHapus
  18. Eh, asyik juga alur ceritanya film ini, mbak. Keren sinematikanya lah!.Jadi pengen nonton deh

    BalasHapus
  19. Sesungguhnya, aku juga penggemar film yang gak hanya bagus dari sisi cerita apalagi dramatisasinya melalui sinematografi yang memanjakan mata penonton. Aku juga suka dengan latar belakang massalah yang diangkat mengenai isu perempuan Jawa. Ini tuh yang membuat perempuan merenung bahwa pernah melalui masa-masa seperti itu dari dulu hingga saat ini dan salut banget sama film Before, Now and Then yang menyelesaikannya dengan indah.

    BalasHapus
  20. Kok pikiran saya jadi melayang teringat film BUMI nya om Pramoedya.. berbeda cerita tapi sama latar belakang, jaman kolonial.. kekecewaan, percintaan dan perselingkuhan.. dan tema ini ga akan lekang oleh waktu..

    BalasHapus
  21. belajar banyak nih dari cara meulis resensi kak, bagus banget ulasannya bisa detail dan mengajak pembaca untuk menyelami sbeuah film yang belum dilihatnya sehingga bisa membayangkan bagaimana filmnya
    perempuan itu istimewa dengan caranya masing-masing, suka dengan tema yang diangkat sutradaranya, terlepas siapapun sosok di balik layarnya, yang pasti ciamik nih filmnya, suka

    BalasHapus
  22. Review yang sangat menarik memberi insight dan memberi inspirasi film yang diangkat dari karya sastra.

    BalasHapus
  23. Baca judulnya kukira bakalan review film dari luar, ternyata dalam negeri punya. Dan tidak kalah keren. Pemain-pemainnya juga top jadi tidak diragukan kalau bakalan jadi film teratas.

    BalasHapus
  24. Saya jarang nonton film sih vrapi Before, Now and Then perlu ditonton.

    Pemerannya asing sih bagiku. Kecuali Happy Salma. Hehe...

    Tapi membaca review ini, yakin kalau perannya maksimal. Mudah-mudahan bisa nonton lah.

    BalasHapus
  25. ini film yang laura basuki dapet penghargaan ya? keren. aku baru nonton yuni aja untuk karya kamila andini, tapi jadi penasaran sama film lainnya

    BalasHapus