https://www.idblanter.com/search/label/Template
https://www.idblanter.com
BLANTERORBITv101

Penyala Lentera Masa Depan dari Pulau Para Dewa

Senin, 06 November 2023
I Gede Andika Wira Teja
I Gede Andika Wira Teja foto: Instagram @andikawirateja
“Waktu itu saya lagi pulang ke Pemuteran dan sedang persiapan kuliah S2 ke UK. Kondisinya sedang pandemi Covid-19 jadi banyak anak-anak yang tidak bisa sekolah. Saya mulai ragu. Apakah tetap lanjut kuliah ke luar negeri tanpa mempedulikan nasib anak-anak Desa Pemuteran, atau mulai melakukan perubahan?” – I Gede Andika Wira Teja.
Dika, sebagaimana dia disapa mungkin berbeda dengan kebanyakan gen Z di luar sana.

Pemuda kelahiran Buleleng pada 21 April 1998 itu jelas dikaruniai mata yang tajam dengan hati yang begitu peka. Dia mungkin bukanlah Puntadewa yang memiliki senjata pusaka serat jamus Kalimasada, tapi Dika memiliki pusaka yang tak kalah ampuhnya lewat pemikiran tajamnya.

Lima tahun menempuh pendidikan S1 di Universitas Udayana, Dika seperti banyaknya para sarjana memilih kembali ke kampung halamannya di Desa Pemuteran, Kabupaten Buleleng, Bali. Hanya saja kepulangan Dika ini tidak untuk menetap karena tujuannya sudah menggantung di depan dahinya, melanjutkan kuliah S2 ke United Kingdom pada September 2020.

Namun pendidikan yang hendak dia tempuh itu harus mengalami penundaan karena dunia baru saja diterpa pandemi Covid-19. Wabah corona yang menggila itu akhirnya tiba juga di Indonesia pada tahun 2020 yang membuat Dika harus menahan asanya untuk sesaat. Tentu bukan masalah besar karena ini hanya perkara waktu. Hanya saja lagi-lagi matanya yang begitu tajam, mulai merasakan ada yang tidak beres pada Pemuteran.

Pemuteran yang selama ini dikenal sebagai surga bawah laut berkat pilihan wisata snorkeling dan diving mendadak lumpuh total.

Ini jelas sebuah anomali yang begitu meresahkan, mengingat Pemuteran adalah destinasi wisata pantai yang mayoritas penghasilan warganya bersumber dari laut. Bahkan proyek biorock terbesar di dunia yang membenamkan sekitar 130 struktur besi bisa ditemukan di kedalaman samudera Pemuteran.

Tapi semua berubah saat pandemi menerjang.

Pemuteran kehilangan sinarnya.

Wisatawan kehilangan minatnya dan semua itu menggelinding mengerikan seperti bola salju yang melumat pelaku industri wisata di Pemuteran. Situasi yang tidak pernah dibayangkan itu terpampang di kedua mata Dika. Tentu baginya melihat Pemuteran yang tak dijejali wisatawan adalah sebuah hal yang luar biasa tak nyata. 

Namun bukan itu yang membuat hatinya berdesir pilu.

Dika justru sedih melihat anak-anak desa Pemuteran kehilangan kemampuan untuk belajar. Anjuran pembatasan sosial yang ditetapkan pemerintah memang mengharuskan sekolah-sekolah melakukan pembelajaran jarak jauh. Hanya saja konsep belajar daring ini tidak semuanya bisa dirasakan oleh anak-anak Pemuteran. Orang-orang tua mereka hanya menggantungkan hidup pada sektor wisata. Dan ketika pandemi menghancurkannya, pemasukan pun anjlok luar biasa.

Banyak biaya yang terpangkas termasuk pembelian kuota data internet untuk anak-anak mereka, yang sejatinya digunakan dalam belajar daring. Alhasil mereka yang tidak beruntung hanya bisa terbengong, meratapi kondisi yang tak pernah terbayangkan. 

Tinggal masalah waktu sampai api semangat untuk belajar itu padam sepenuhnya.

Dika merasa Pemuteran sedang melangkah menuju kegelapan.

KREDIBALI, Tak Cuma Nyalakan Lentera Belajar Tapi Juga Lingkungan

Dika dalam kegiatan literasi di Bali
Dika dalam kegiatan literasi di Bali foto: Instagram @andikawirateja
“Usia itu adalah sesuatu yang seharusnya tidak disia-siakan. Tapi pandemi membuat anak-anak Pemuteran terancam kehilangan usia emasnya saat hak untuk sekolah terkikis. Tidak semua dari mereka bisa belajar online. Kita harus mengejar bonus demografi dan saya melakukannya lewat literasi terutama anak-anak di wilayah pinggiran dan pedalaman,” – I Gede Andika Wira Teja
Seperti Arjuna yang memiliki pusaka panah Pasupati untuk mengalahkan musuh-musuhnya, Dika sejatinya juga memiliki ‘senjata’ yang selalu dia asah yakni kemampuannya di bidang literasi. Pemuda yang kini berusia 25 tahun itu bahkan bisa dibilang tidak asing dengan literasi karena dirinya mendirikan komunitas Jejak Literasi Bali (JLB) pada 1 Juni 2019, kala berumur 21 tahun.

Sesuai dengan namanya, JLB adalah komunitas yang bergerak di bidang literasi terutama paada literasi baca, tulis dan digital yang dikhususkan pada wilayah pedesaaan dan pedalaman di Bali. Ada tiga program utamanya yang selalu dilakukan rutin oleh JLB yakni bedah perpustakaan, gerakan literasi sekolah hingga gerakan 1.000 buku dongeng.

Namun kepulangannya ke Pemuteran pada Mei 2020 setelah merah gelar S1 itu, membuat Dika melahirkan gebrakan baru lewat program KREDIBALI (Kreasi Edukasi Bahasa dan Literasi Lingkungan).
“Masalah terbesar di Pemuteran saat awal pandemi melanda itu adalah anak-anak tidak bisa sekolah luring. Dilema terbesar pada mereka yang kurang mampu, jadi semakin kesulitan sekolah daring. Jangankan memenuhi kebutuhan belajar daring, untuk kebutuhan pokok saja, orangtua mereka kesulitan. Karena tak punya uang buat beli kuota internet untuk belajar online, anak-anak itu terpaksa membolos dan ikut kerja di pantai juga,” - I Gede Andika Wira Teja.
Sadar bahwa Pemuteran merupakan salah satu destinasi wisata unggulan di Bali yang sering didatangi turis asing, Dika pun memilih membuka kelas bahasa Inggris. 

Bagi Dika, kemampuan berbahasa Inggris saat ini tak ubahnya sebuah investasi jangka panjang sekaligus membuka peluang anak-anak Pemuteran untuk membentangkan mimpi mereka hingga ke dunia internasional.

Tidak diduga, program kelas bahasa Inggris KREDIBALI secara offline itu langsung diserbu lebih dari 200 pendaftar. Hal ini membuktikan kalau anak-anak Pemuteran pada dasarnya begitu merindukan belajar tatap muka di sekolah.

Supaya KREDIBALI tetap bisa berjalan di saat wabah corona melanda, Dika akhirnya memutuskan akan memilih 75 anak saja sebagai angkatan pertama yang kegiatan belajarnya dibagi ke dalam tiga sesi. Anak-anak itu dipilih Dika setelah memenuhi sejumlah syarat seperti berasal dari keluarga tidak mampu karena orangtuanya kehilangan pekerjaan di sektor wisata, keluarganya memperoleh PKH (Program Keluarga Sejahtera) dan BLT (Bantuan Langsung Tunai) dari pemerintah.

Tentu tak selamanya KREDIBALI berjalan dengan menyenangkan. Dika bahkan harus selalu menyiapkan hati saat anak-anak didiknya terlambat datang ke sekolah lantaran bertempat tinggal cukup jauh dari Pemuteran.

Belum lagi kemampuan berbahasa Inggris setiap anak berbeda-beda, sehingga membuat Dika harus memantau masing-masing anak supaya mengetahui perubahan kemampuannya demi kelangsungan KREDIBALI. Namun itu jelas bukanlah air yang bisa memadamkan api semangat dalam diri Dika. Dia bahkan kembali melakukan inovasi sehingga membuat KREDIBALI berbeda dengan kegiatan literasi pada umumnya. 

Lewat apa? Wawasan lingkungan.

Bekerjasama dengan lembaga nirlaba di Bali yakni Plastic Exchange untuk mengelola bank sampah di Pemuteran, Dika mengajak para muridnya untuk mengumpulkan sampah plastik sebagai ‘biaya’ belajar bahasa Inggris. Di mana sampah-sampah plastik itu akan ditabung di Plastic Exchange sebelum akhirnya ditukar dengan beras yang dibagikan kepada penduduk lanjut usia dan kurang mampu di Pemuteran.

Tak main-main, hingga saat ini KREDIBALI sudah mengumpulkan sekitar 475 kilogram sampah plastik di Pemuteran. Di mana 80% sampah plastik itu diambil oleh Plastic Exchange untuk dimanfaatkan sebagai beras demi kebutuhan mereka lansia yang tak beruntung.
Anak-anak KREDIBALI mengumpulkan sampah plastik
Anak-anak KREDIBALI mengumpulkan sampah plastik foto: KREDIBALI
Sungguh, lentera literasi yang sudah dinyalakan Dika itu ternyata mampu berpijar hingga ke lebih banyak orang. Meningkatkan manfaatnya secara eksponensial hingga ke salah satu masalah paling sering dilupakan oleh manusia, kepedulian terhadap lingkungan.

Menggedor Pintu Masa Depan dari Pemuteran untuk Indonesia

Relawan pengajar KREDIBALI
Relawan pengajar KREDIBALI foto: KREDIBALI
“Jadi sekarang itu saya sudah lebih lancar membaca, berbicara dan menulis bahasa Inggris. Saya juga makin percaya diri saat harus berbincang dengan bahasa Inggris,” – Nando Sastrawan (murid KREDIBALI)
Mengenakan kaos kuning dan celana pendek hitam, Dika memang tak ingin membuat kelas bahasa Inggris KREDIBALI terasa menjemukan. Dengan masker hitam yang menutupi wajahnya, kegiatan belajar itu dilangsungkan Dika di setiap hari Minggu dengan durasi 2 – 2,5 jam lamanya. Dan setelah setahun menjadi single fighter, Dika kini memperoleh sekitar 61 orang relawan untuk ikut mengajar bahasa Inggris seiring dengan lingkup KREDIBALI yang terus melebar.

Bersama dengan komunitas JLB, KREDIBALI menyelenggarakan program hingga ke Puhu di Kabupaten Gianyar, wilayah Gunung Batur di Kintamani sampai Denpasar bagian utara. Yang menarik, konsep literasi lingkungan yang diajarkan di wilayah-wilayah tersebut memiliki perbedaan dengan apa yang terjadi Pemuteran. Anak-anak di Batur misalnya, biaya kelas bahasa Inggris KREDIBALI adalah melalui kegiatan menanam dan menyiram pohon asuh karena wilayah hutan di wilayah Kintamani cukup memprihatinkan.

Seperti layaknya hukum tabur tuai, Dika pun akhirnya memanen bibit-bibit kebajikan yang sudah dia tanam dan rawat penuh kasih.
Andika Wira saat mengajar anak-anak
Andika Wira saat mengajar anak-anak foto: andikawirateja.com
PT. Astra International Tbk yang memang selama ini peduli pada individu-individu luar biasa perubah peradaban Nusantara pun melirik Dika menjadi salah satu penerima SATU Indonesia Awards (SIA) 2021. Menyingkirkan sekitar 13.148 peserta lainnya, Dika menjadi satu-satunya penerima SIA 2021 untuk kategori khusus Pejuang Tanpa Pamrih di Masa Pandemi Covid-19 di bidang pendidikan. Kala itu usianya masihlah 23 tahun.
“Saat ini ruang lingkup KREDIBALI lebih luas dan kami sudah memiliki 400 anak asuh di berbagai wilayah. Harapan saya ke depannya, KREDIBALI akan bisa menjadi sekolah non-formal untuk memfasilitasi pendidikan anak-anak kurang mampu tak hanya di Pemuteran. Sehingga mereka bisa juga belajar hal-hal kognitif, hardskill sampai softskill. Karena pada dasarnya setinggi apapun pendidikan kita, sejauh apapun pengalaman kita, kontribusi pada desa adalah langkah awal mengabdi pada bangsa dan negara,” – I Gede Andika Wira Teja.
25 tahun umurmu, jelas bukanlah sebuah waktu yang sia-sia.

I Gede Andika Wira Teja, semangatmu jelas terbentang tak hanya untuk hari ini tapi juga melintas jauh hingga masa depan Indonesia.

#SemangatUntukHariIniDanMasaDepanIndonesia #KitaSATUIndonesia

Tulisan ini diikutsertakan dalam Anugerah Pewarta ASTRA 2023.

Author

Arai Amelya

I'm a driver, never passenger in life