Review 'THE SCIENCE OF FICTIONS' (2019): Hiruk-Pikuk Sejarah yang Belum Tentu Benar

37 komentar

review THE SCIENCE OF FICTIONS
Kalau disuruh memilih, apakah hal yang paling saya rindukan di masa pandemi Covid-19 ini, maka jawabannya adalah menonton di bioskop. Dan itu semua akhirnya terjadi pada 10 Desember 2020 malam lalu, ketika saya menonton THE SCIENCE OF FICTIONS.

Saya sebetulnya tidak ada masalah untuk menonton di bioskop menggunakan masker dan tanpa makan atau minum. Karena itulah yang sebetulnya saya rasakan waktu nonton di bulan suci Ramadhan saat siang hari.

Begitu pula dengan anjuran menjaga jarak sehingga setiap orang yang menonton tidak boleh berdempetan. Saya sungguh tidak bermasalah dengan itu. Lha wong biasanya juga nonton sendiri.

Sehingga ketika akhirnya ada kabar bahwa bioskop sudah buka kembali, saya seperti anak SMA yang begitu bahagia kembali ke sekolah. Bukan, bukan untuk bertemu guru atau belajar. Saya tidak semunafik itu. Tapi merindukan sensasi tertawa bersama para sahabat saat jam kosong.

Dan akhirnya film yang membuat saya bersedia kembali lagi ke bioskop adalah
THE SCIENCE OF FICTIONS.

Ada dua hal yang membuat saya sangat menanti THE SCIENCE OF FICTIONS bahkan sejak 2019 ini. Yakni pertama adalah sang sutradara Yosep Anggi Noen dan sosok Gunawan Maryanto si aktor utamanya. Apalagi Gunawan juga memboyong Piala Citra dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2020 sebagai aktor terbaik, berkat perannya dalam THE SCIENCE OF FICTIONS kali ini.

Gunawan dan Anggi memang tampak seperti Dynamic Duo yang begitu dibutuhkan industri film Indonesia. Memikat saya lewat ISTIRAHATLAH KATA-KATA (2016), mereka berdua sudah cukup jadi magnet kuat dari THE SCIENCE OF FICTIONS, bahkan tanpa perlu saya membaca sinopsis film ini.

Sinopsis Film 'THE SCIENCE OF FICTIONS'

History is the version of past events that people have decided to agree upon ~ Napoleon Bonaparte

Punya judul asli HIRUK PIKUK SI AL-KISAH, karya ini adalah film panjang keenam dari Anggi yang secara kebetulan sudah tayang perdana di Festival Film Internasional Locarno 2019.

Melalui THE SCIENCE OF FICTIONS, kita akan diajak mengikuti kehidupan Siman (Gunawan Maryanto), seorang pria di pedalaman Bantul yang pada tahun 1960-an, menyaksikan sekelompok kru asing tengah melakukan syuting pendaratan manusia di Bulan yang ternyata diambil di area Gumuk Pasir Parangkusumo itu.

adegan film THE SCIENCE OF FICTIONS
Adegan rekayasa pendaratan di Bulan oleh kru asing
Lantaran ketahuan, Siman pun akhirnya harus merelakan lidahnya dipotong supaya tidak membocorkan rekayasa pendaratan manusia di Bulan yang sangat diyakini manusia seantero Bumi, dan membuat nama Neil Armstrong itu populer. 

Dibungkam dan tak bisa bicara, hidup Siman pun berubah menjadi slow-motion. Seluruh gerakan tubuhnya mulai dari berjalan, mengambil minuman bahkan sampai bekerja, bergerak dengan sangat lambat, seperti para astronot di Bulan yang dia lihat.

Namun gerakan lambat Siman itu justru dimaknai sebagai orang gila oleh penduduk desa yang membuat Ibunya depresi lalu bunuh diri, lantaran anaknya tidak waras setelah datang ke tanah terlarang. Mungkin karena ketidak warasannya itulah, Siman juga lolos dari penculikan saat tetangga dan rekan-rekannya dituding sebagai PKI di medio 1965-1966.

adegan film THE SCIENCE OF FICTIONS
Siman bekerja di pasar dengan slow-motion
Belasan dan puluhan tahun berlalu, Siman tidak putus asa. Terus bergerak lambat demi menyuarakan kebenaran, meskipun malah akhirnya jadi bahan olok-olokan. Siman menolak untuk menyerah. Di tengah segala kekurangan dirinya, Siman bahkan sampai nekat membuat pakaian astronot dan membangun pesawat luar angkasa dari barang elektronik bekas, persis seperti yang dia lihat di malam laknat itu.

Apa yang Siman lakukan masih tetap sama, menyuarakan kebenaran yang tidak pernah digubris oleh banyak orang. Dan sama seperti orang-orang yang selalu mengatakan kebenaran, Siman pun tergerus oleh waktu ketika tahu kebenaran itu tak akan pernah mendarat di tempat yang tepat.

Review 'THE SCIENCE OF FICTIONS' Menurut Saya

History is a pack of lies about events that never happened told by people who weren't there ~ George Santayana

Menonton 106 menit THE SCIENCE OF FICTIONS, tentu adalah sebuah pengalaman sinematik yang bisa saya bilang terbaik di tahun 2020 ini. Saya jadi ingat ucapan sutradara Angga Dwimas Sasongko ketika Anggi merilis trailer filmnya untuk kali pertama pada tahun 2019 lalu.

"Pas lihat premis filmnya Anggi Noen, gua jadi malas jadi sutradara. Biar dia aja deh bikin film, gua gali sumur aja!"

And I couldn't agree more!

Anggi memang cukup sinting dalam meletakkan batu standar perfilman Indonesia.

Bayangkan saja, setelah menggambarkan sosok Wiji Thukul sebagai seorang suami dan Ayah yang merindukan keluarga alih-alih buronan politik, Anggi kini bermain dengan salah satu teori paling populer dalam sejarah eksistensi manusia yakni pendaratan di Bulan.

Saya jadi curiga, jangan-jangan Anggi juga bisa bikin film soal Adolf Hitler yang dimakamkan di Surabaya dan menikah dengan gadis Sunda, atau soal Atlantis yang ada di lautan Indonesia.

Namun premis yang tak biasa itu justru menjadi bingkai dari pesan penting untuk direnungkan setiap orang, lewat sosok Siman yang selama film berlangsung, sama sekali tidak mengeluarkan dialog apapun (kecuali melenguh ketika sedang berhubungan intim).

Bagi kamu yang suka menonton film dengan dialog dan timeline waktu jelas (termasuk pesan moral atau bahkan plot twist), maka THE SCIENCE OF FICTIONS berhasil mengoyak itu semua dan bikin kening berkerut.

Kenapa begitu?

Karena THE SCIENCE OF FICTIONS hadir sebagai tontonan yang tidak linear dan penuh tanya. Anggi tidak banyak menjelaskan soal setting waktu kecuali penonton yang akan menyadarinya sendiri. Anggi tampak sengaja membungkam dan membuka di waktu yang tepat. Dimana kisah dalam masa lampau digambarkan dengan visual monokromatik dalam aspect ratio 4:3, sementara setting masa kini memperlihatkan visual penuh warna dengan aspect ratio 16:9.

adegan film THE SCIENCE OF FICTIONS
Siman sesaat setelah kehilangan lidahnya

Begitu pula dengan hadirnya tokoh-tokoh dalam masa lalu Siman yang seharusnya sudah ditelan oleh waktu. 

Sebut saja Ndapuk (Yudi Ahmad Tajudin) yang merupakan tetangga Siman dan sudah ditangkap sebagai antek PKI di tahun 1965, mendadak muncul sebagai karakter baru bernama Tupon, si juragan pentas kuda lumping yang akan mengajak Siman sebagai badut astronot. Lalu ada juga Wanto (Alex Suhendra) yang adalah penjahit baju astronot dan pencuri uang simpanan Siman, sekonyong-konyong hadir sebagai Gun, anak buah Tupon.

Bahkan sosok pelacur bernama Nadiyah (Asmara Abigail) yang akhirnya membuat Siman berteriak beringas dan berperilaku normal itu juga hadir pada masa lampau sebagai salah satu warga kampung, ketika Siman baru saja kehilangan lidahnya. Belum lagi Ecky Lamoh yang menurut saya berperan sebagai karakter paling misterius, karena di tahun 1960-an dia hadir dalam syuting adegan rekayasa pendaratan di Bulan dan menyimpan file rekaman di dalam kaleng Khong Guan, tiba-tiba muncul lagi saat Siman pentas jadi badut.

Keajaiban-keajaiban itupun memuncak pada sosok Siman yang sama sekali tak bertambah tua mulai dari tahun 1960-an hingga akhirnya hidup di masa modern ketika smartphone telah muncul. 

Begitu pula seluruh gerakan Siman mendadak normal ketika dirinya dipenuhi emosi. Dua emosi paling purba yang dimiliki oleh manusia yakni amarah dan birahi. Yap, ketika uangnya dicuri oleh Wanto atau nafsu birahinya tak tertahan dengan Nadiyah, Siman bersikap layaknya manusia biasa yang menggebu-nggebu dan siap tempur.

Perubahan perilaku Siman ini seolah mengingatkan saya pada sosok pelawak Bolot, yang berpura-pura tuli tapi ketika membahas soal uang dan wanita, langsung bisa mendengar dan diajak berbincang normal kembali.

Hingga akhirnya saya tiba pada muara, apakah yang dilihat Siman itu nyata? Ataukah semua yang terjadi ini hanya imajinasi Siman untuk menutupi fakta bahwa dia dalam kondisi tidak waras?

Namun bukan Anggi namanya jika tidak membuat film yang sangat terbuka dengan berbagai adegan puitik dan semiotika seperti ini.

Anggi seperti menikmati orang-orang yang sibuk berdebat soal apa yang dia paparkan dalam THE SCIENCE OF FICTIONS. Seolah-olah kita yang bingung, kita yang berdebat, ini adalah sebuah film, sementara Anggi dan Siman adalah penontonnya. 

Hal inilah yang akhirnya membuat saya paham kenapa Anggi menutup THE SCIENCE OF FICTIONS dengan adegan orang-orang yang mendatangi rumah pesawat luar angkasa Siman sambil merekam lewat smartphone. Karena menurut saya, orang-orang itu tidaklah mengabadikan karya Siman, tapi mengabadikan kita para penonton yang terlalu hiruk-pikuk dengan kisah dalam THE SCIENCE OF FICTIONS. 

Lantas, Siapakah Kita ini Manusia?

Siapakah kita ini, manusia
Yang dalam diam, riuh, ragu, dan tak mampu
Ada rahasia, tidak rahasia
Ada di sini ada di situ
Diseret-seret waktu
  ~ Lagu Pejalan (Sisir Tanah)

Jika disuruh memilih, apakah adegan yang paling saya sukai dalam THE SCIENCE OF FICTIONS? Maka jawabannya ada dua.

Yang pertama adalah adegan ketika Siman melihat rumah pesawat ruang angkasanya itu tertutup kepulan asap putih tebal, yang ternyata berasal dari alat fogging demam berdarah. Buat saya, itu adalah salah satu adegan tercantik dalam perfilman Indonesia. 

adegan film THE SCIENCE OF FICTIONS
Siman melihat asap putih menutupi rumah astronotnya

Bagaimana Siman berdiri, bagaimana Siman melihat asap putih itu akhirnya menghilang dan rumahnya tampak kembali, bagaimana tukang fogging itu tiba-tiba meminta bayaran kepada Siman, seolah menganalogikan kalau kadang untuk melihat sebuah kebenaran, kita harus menghilangkan kepulan imajinasi yang menutupi pikiran kita. 

Bahwa sebuah kebenaran, kadang muncul dari tempat yang tidak diduga. Tinggal kita yang bersedia menerima atau menolaknya.

Lalu adegan berikutnya yang saya sukai adalah ketika Siman tampil sebagai badut astronot dalam pentas kuda lumping. Suara gong yang berdentum berkali-kali itu seolah menendang gendang telinga saya, tampak seperti alarm penyadaran yang dibuat oleh Anggi kepada para penonton mengenai apa maksud dari kebungkaman Siman dan perilaku slow-motionnya itu.

adegan film THE SCIENCE OF FICTIONS
Siman sebagai badut astronot di pentas kuda lumping
Bagi saya, THE SCIENCE OF FICTIONS seolah menjadi gambaran dari kehidupan masa kini,sekaligus bukti bahwa sejarah itu diciptakan oleh para pemenang. Entah pemenang yang berdiri dalam sisi benar atau sisi salah. 

Saya pun tak heran kalau Anggi menggunakan sedikit porsi peristiwa PKI dalam film ini, karena memang kejadian itu adalah pengejawantahan kalau sejarah memang bisa dilenturkan oleh pemenang. Dipadukan dengan teori pendaratan manusia di Bulan, Anggi berhasil menciptakan latar yang sempurna untuk peristiwa yang masih diperdebatkan kebenarannya itu.

Tarian slow-motion yang dilakukan Siman dalam upaya mengutarakan kebenaran atas berita palsu pendaratan di Bulan, tak ubahnya upaya masyarakat dalam menyuarakan kebenaran, yang kadang dibungkam paksa atau sengaja dibisukan oleh pemangku kuasa.

Namun bukan tak mungkin pula bahwa kita sama seperti warga di kampung Siman atau rekan-rekan kerja Siman yang sibuk tertawa dan memilih meyakini informasi palsu. 

Bahkan lebih lanjut, mungkin juga kita sama seperti orang-orang yang mendatangi rumah Siman, sibuk memotret tragedi yang dialami Siman. Seperti kebiasaan masyarakat masa kini yang sibuk mengangkat smartphone untuk memperoleh konten paling gres, daripada sibuk menyelamatkan korban dari tragedi itu sendiri.

Atau mungkin, kita sendiri adalah Siman yang memilih bersikap lambat untuk hal-hal yang memiliki dampak bagi banyak orang, tapi kemudian langsung menggebu-nggebu dan tidak sabaran jika berkaitan dengan uang, serta tentunya hawa nafsu.

Apapun itu, THE SCIENCE OF FICTIONS adalah salah satu film terbaik di tahun 2020, sekaligus sepanjang sejarah industri sinema Indonesia itu sendiri.

Arai Amelya
I'm a driver, never passenger in life

Related Posts

37 komentar

  1. Aduh baca sinopsisnya koq agak "serem" ya. Keknya seru tapi apa saya berani nontonnya? Tapi penasaran. Duh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tenang kak, filmnya nggak serem sama sekali kok. Gada pembantaian PKI, adegan pas lidah dipotong juga gada hehe. Aman. Buruan ditonton mumpung masih tayang kak

      Hapus
  2. Hey, Arai!

    Wuiiih.. aku bacanya aja menggebu-gebu lho, pengen cpt nonton filmnya. Rasanya udah jarang skali ada yang mau jadi Siman di zaman sekarang.

    Tapi kalo Bolot mah realitanya memang banyak yang begitu yak, eh.. hihi..

    Duh, ini film bisa aku tonton dimana ya Araaaii ? huhu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di bioskop kaak. Tapi beberapa kota besar memang belum nayangin kayak Surabaya, Denpasar, Medan huhu. Semoga Siman segera mendarat di kotamu ya kak!

      Hapus
  3. btw aku kemarin baca review film ini juga dimana yaa.
    filmnya emang bikin mikir yah katanya.
    kayaknya lagi rame juga bahas film ini, jadi penasaran sendiri.
    siman gimana nasib akhirnya yak.

    BalasHapus
  4. kalimat penutupnya kok membuatku tersinggung sih mbak, soalnya iya banget suka gitu, huhu

    btw, film ini aku kira awalnya film luar nih, ternyata indo yaaa, wiji thukul pula pemerannya. menarik nih, mau cari trailernya juga deh

    BalasHapus
  5. Asli! Aku pengiiiin nonton film ini mbak arai. Genre film yang jarang aku tonton, ini film ada orang dibalik layarnya yang keren, dapet award lagi. Pasti bagus ini

    BalasHapus
  6. Baca review film ini aku jadi ingat konspirasi tentang manusia pertama yang singgah ke bulan. Katanya Neil A. itu kalau dibaca terbalik jadi? Nah... itulah yg memang mendarat dan mungkin ada di bulan. Maafkan emak2 ini kalau termakan konspirasi 😁 stay safe ya kak arai biar tahun depan bisa nonton berdua bsreng pasangan halalnya. Eaaaa 😁

    BalasHapus
  7. Keren mbak reviewnya, bikin saya serasa terbawa seperti mbak yg lagi review deh.. gara2 baca ini jadi penasaran pengen nonton :)

    BalasHapus
  8. kak arai, tutur kata dalam review film kali ini keren banget. saya sampai bertanya ini kak arai ahli sinematografi kah? atau kuliah perfilman? heheh . saya sampai pengen nonton filmnya dan ikut merasakan pengalaman ka arai nonton film ini. saya aja baru tai film ini, semacam konspirasi yang banyak di bicarakan netizen beberpa waktu lalu ya, soal benarkan manusia pernah mendarta di bulan? mantap

    BalasHapus
  9. Kumplit banhet review filmnya mba aku ndak nonton filmnya pun tahu bagaimana alur veritanya bagus banget deh

    BalasHapus
  10. Aku kangen banget ke bioskoppppp hiks hiks... Sering lewat cinema 21, XXI, cgv itu beneran berat banget gak nengok cuma sekedar liat aja... Udah pada buka si, tapi kok masih takut. Sementara hanya VIU dan netflix yang jadi temen nonton.

    BalasHapus
  11. Waw. Hebat sekali sutradaranya. Tapi Mba juga bagus deh nulis reviewnya. Bagus sekali pemilihan katanya. Saya sampai tergoda untuk menonton trailernya dan ternyata menarik sekali trailernya. Saya suka nih film multitafsir begini. Walau sudah dapat gambaran endingnya akan seperti apa, saya tetap akan menonton.

    BalasHapus
  12. Mbak saya terpukau lho bukan dengan filmnya tapi dengan cara Mbak merangkai kata mengulas film tersebut. Keren euy bikin saya jadi penasaran pengen nonton the Science of Fiction ini yang tadinya saya kira juga film luar negeri hehe

    BalasHapus
  13. saya juga merindukan kursi bioskop, ada satu film dari Jepang yang ingin sekali aku tonton hmm

    BalasHapus
  14. Baca review 3kok jadi penasaran pengen liat filmnya, seru ya sepertinya

    BalasHapus
  15. Ide ceritanya cerdas, sejarah ditulis para pemenang, seperti kisah pembantaian mereka yang dituding PKI dan entah berapa lagi kisah suram yang ditutupi dari subyektivitas para pelaku pemenang sejarah

    BalasHapus
  16. Review-nya benar-benar lengkap. Gambaran jalannya film, juga piawai menghubungkan dengan hal2 di luar film. Jagoan banget. Terkesan dengan "Pas lihat premis filmnya Anggi Noen, gua jadi malas jadi sutradara. Biar dia aja deh bikin film, gua gali sumur aja!".. Apakah karena premisnya Anggi yang sak karep e dewe? Hehe...Menurutku ini film pas banget buat pecinta film, suka film, atau maniak film lah ya. Kurang pas kali buatku yang tak sabar kalau ada film kok nggak ada suaranya. hee...terus ratio layar yang out of the box juga kesannya mbeda gitu.. finally, reviewnya keren banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya juga setuju, kak arau jago review film ya. terlihat mahir dan pro, hehe

      Hapus
  17. Saya bacain tulisan ini serius, tanpa meninggalkan titik koma, eh pas sampai di baca di adegan penutup, saya senyum-senyum sendiri. Hihihi. Hebat ini sutradaranya. Gak heran film ini bisa muncul di festival film internasional.

    BalasHapus
  18. Wow baru kali ini aku menikmati sekali baca review film
    Baca reviewnya aja aku jadi mikir banget
    Apalagi kalau nonton filmnya ya
    Wah harus banget nonton ini
    Hebat ih ide sutradaranya
    Keren reviewnya mas, sukses bikin aku penasaran

    BalasHapus
  19. Dua emosi paling purba ya Mbak, amarah dan birahi. Btw jadi pinisin itu Nadiyah secantik apa ya... review yang lengkap wah sutradara harus baca ini nih biar semangat diapresiasi ama Mbak Arai

    BalasHapus
  20. Ulasan yang sangat apik, saya membacanya dari awal sampai selesai. Memang beda kalau yang menulis adalah penikmat film sejati.

    BalasHapus
  21. Kak Arai selalu totalitas dalam menulis review sebuah film. Saya menikmatinya seakan saya menonton langsung.
    Tampaknya film ini berhasil membangkitkan Keinginan saya untuk menonton film ini dan menyaksikan adegan-adegan keren secara langsung.

    BalasHapus
  22. Kak, review-mu bikin aku terpaku
    Film The Science of Fiction keren bangets. Beneran sinting sutradara dengan ide dan segala kretatifitasnya
    Ending yang sesuai realita..duh benar adanya. Jleb banget. Orang tahu kebenaran dan dibungkam penguasa, banyak yang sibuk update biar viral dan ga peduli dengan sisi pesonal...orang yang ga tahan dengan nafsu dan uang saat berada di depannya..huhuhu
    Banyak benenr pesan moral film ini dan semua dikemas cantik begini
    Jujur tahun 2020 ini ga ngikuti perkembangan film Indonesia akkutuuu,tapi kusetuju kalau ini adalah film keren yang pernah ada di negeri ini

    BalasHapus
  23. Ngeri ka ngebayangin lidahnya dipotong.

    BalasHapus
  24. Ini aku pernah baca juga ada yang review tentang film ini, menarik sih menurutku sudut pandang yang diambilnya dan juga banyak nilai tersiratnya juga,

    BalasHapus
  25. Baca review ini aja sudah terbayang filmnya pasti keren. Banyak pesan yang ingin disampaikan oleh film ini ya. Btw saya penasaran pengin nonton karena latar belakang lokasi yaitu Bantul dan Parangkusumo. Hehehe..

    BalasHapus
  26. Penasaran banget sama film nya kak tapi agak ngeri pas liat fotonya lidah siman habis dipotong itu lho.. Auto bergidig aq kak

    BalasHapus
  27. Simbolik sekali ya filmnya. Tapi nunggu ada di Netflix atau semacamnya aja, soalnya masih belum berani ke bioskop hikss

    BalasHapus
  28. Kak Araa selalu suka baca review film kamu, asyik, yes setuju, sejarah memang sengaja diciptakan dan sejarah itu berulang

    BalasHapus
  29. Jago sekali kak arai dlm merangkai kata2nya. Wah ini bener gk eaa si neil amstrong pernah mendarat di bulan? Hehe siman nyeleneh ya :) jadi kangen bioskop 😊

    BalasHapus
  30. Penuh pean moral ya film ini jadi pengen nonton tapi nanti lah tunggu ada di saluran berbayar hehehe blm berani saya mah ke bioskop

    BalasHapus
  31. Ulasan yang begitu dalam. Saya suka. Saya juga rindu nonton film. Film bertema sejarah ini memang selalu menyenangkan dan membuat penasaran. Aku belum nonton kisah siman ini. Baca review ini aku jadi optimis nonton ini nggak bakal kecewa karena cerita sejarah dan pengembangan imajinasinya dapet...

    BalasHapus
  32. Ai..... kamu aja deh yang nulis skenarionya. udah keren gitu tiap kali ngereview film. sekalian aja jadi sutradaranya. biar meroket pula karirmu di dunia perfilman. haiya.... jadi penasaran nih sama filmnya. aku list ya buat dilihat. masih ada kan di bioskop?

    BalasHapus
  33. wah mantab banget ulasan mbak arai ini. Dari judulnya saya fikir film luar ternyata karya Indo ya mbak. Kebetulan saya juga lagi cari-cari referensi film. makasi ulasannya mba

    BalasHapus
  34. Jadi pengen nonton filmnya, dari reviewnya aja udah bikin penasaran buat nonton. Saya pun jg udah kangen buat nonton ke bioskop kayak dulu, smg pandemi segera berlalu ya

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email