K-Pop, Magnet Transaksi Digital Milenial Untuk Perekonomian Indonesia

Posting Komentar

Kpop transaksi digital milenial

Jujur saja. Apa yang ada di benak kalian kalau membicarakan soal K-Pop?

Sekumpulan pria-pria berparas 'cantik' yang cuma bisa berjoget di atas panggung dan melakukan operasi plastik?

Kuno!

K-Pop dalam kurun waktu lima tahun terakhir justru menjelma jadi sebuah kekuatan perekonomian dunia dengan nama yang begitu perkasa, K-Popnomics.

Dilansir Bloomberg, pendapatan K-Pop dari pasar global bahkan menyentuh US$4,7 miliar (sekitar Rp66,8 triliun) pada tahun 2016. Angka yang sangat besar dan membuat pemerintah Korea Selatan bisa tersenyum lebar tentunya, berkat stimulus luar biasa untuk perekonomian mereka. Nilai itu menjadikan K-Pop sebagai daya gedor utama ekspor komoditas budaya dengan prosentase 2% lebih tinggi daripada total pertumbuhan ekspor Korea Selatan.

Sebuah raihan yang tak pernah diduga pada satu dekade silam.

Gelombang Hallyu yang sangat masif ini memang ditopang oleh perkembangan teknologi internet yang makin menggila. Hal ini membuat K-Pop dengan mudahnya menyebar dari ibukota ke pelosok desa, dari generasi milenial penggemar TVXQ, Super Junior, Big Bang dan SNSD ke generasi Z pecinta BTS, Blackpink, NCT, TWICE hingga Seventeen.

Dan di mana ada kefanatikan, di situlah peluang ekonomi muncul.

Yap, K-Pop tak hanya membuat Korea Selatan makin kaya, tapi juga membuat sumber-sumber penghasilan baru bagi banyak orang termasuk generasi muda Indonesia, salah satu pasar terbesar Hallyu Wave. Mulai dari berjualan album K-Pop, merchandise para idol, produk-produk kuliner, aneka skincare Korea Selatan sampai membuat stuff K-Pop sendiri. Singkatnya, K-Pop menjanjikan produk-produk turunan yang mampu mendatangkan pundi-pundi Rupiah baik dalam industri skala kecil hingga skala besar.

Dibanderol dengan ratusan ribu sampai jutaan Rupiah pun tak masalah asalkan itu semua adalah pernak-pernik berbau K-Pop. Memang, apa sih yang membuat pasar K-Pop ini sangat 'basah'?

Loyalitas.

Kesetiaan yang mungkin dianggap sebagian orang sebagai perbudakan atas nama cinta ini justru menjadikan K-Pop sebagai magnet transaksi digital milenial dan juga generasi Z. Selayaknya industri dengan fundamental yang cukup kokoh, penjualan pernak-pernik K-Pop dan berbagai produk turunannya ikut menyapu pasar marketplace hingga membuat e-commerce raksasa rela turun tangan menjadikan para idol Hallyu itu sebagai Brand Ambassador (BA).

Baca juga:

K-Pop Pintu Gerbang Wirausaha Muda

Bukan cuma sebuah mimpi di siang bolong, Anisa Yubi kepada Merdeka adalah salah satu milenial yang berhasil dalam bisnis pernak-pernik K-Pop. Sarjana sebuah perguruan tinggi di Medan pada tahun 2014 lalu ini bahkan menyebutkan omzet kisaran Rp1 juta per minggu dari hasil barang-barang K-Pop. Mulai dari tumblr, t-shirt, hoodie, poster, photocard (PC), totebag, fan, lightstick hingga album musik, Yubi menjualnya mulai harga puluhan ribu sampai jutaan Rupiah. Pemasaran online adalah salah satu ujung tombak penjualan Yubi entah media sosial dan e-commerce karena memang mayoritas milenial-gen Z penggemar Korea ini menghabiskan waktu mereka di ranah online sehingga dunia maya adalah tempat terbaik berjualan.

Yubi mungkin hanyalah satu dari sekian banyak seller merchandise K-Pop di jagat internet Selain dia. masih banyak sekali seller yang bisa kalian temui di marketplace atau media sosial. Dengan rentang usia 18-30 tahun, para penjual ini bahkan mampu meraup omzet jutaan Rupiah secara mudah tiap bulannya. Memanfaatkan promosi online, produk yang dijual tidak hanya impor dari Korea Selatan, tapi ada juga yang menciptakan stuff berdesain lokal yang punya harga jual tinggi seperti cupsleeve, bookmark hingga stiker.

Tak berlebihan kalau prospek bisnis yang dipilih generasi muda dengan memanfaatkan Hallyu Wave ini, tanpa sadar menjadikan mereka sebagai pelaku bisnis UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah). Situasi ini tentu senada dengan upaya Bank Indonesia (BI) mengajak milenial dan gen Z, agar jadi agen perubahan dalam ekosistem ekonomi digital.

Seperti yang sudah disebut sebelumnya, ampuhnya pesona artis Korea ini disadari pula oleh para petinggi e-commerce. Yang cukup heboh mungkin Shopee di tahun 2018 lalu saat menggandeng Blackpink sebagai BA. Tampil di empat stasiun TV nasional, Shopee bahkan membukukan rekor lebih dari 12 juta transaksi digital di Filipina, Vietnam, Singapura, Malaysia, Thailand, Taiwan dan Indonesia. Dari jumlah transaksi digital itu, 5,4 juta di antaranya berasal dari Indonesia. Membuktikan kalau keperkasaan K-Pop dalam bisnis digital Tanah Air benar-benar tak bisa diremehkan, seperti dilansir Katadata.

Bisnis Digital, Masa Depan Perekonomian Indonesia

Benci atau tidak, fanatisme terhadap K-Pop ini akhirnya menjadi salah satu roda penggerak bisnis digital. Generasi muda ini memanfaatkan betul kehadiran marketplace untuk memasarkan pernak-pernik Hallyu. Sebagai kelompok usia yang anti ribet, platform e-commerce memang sangat menjawab gaya belanja anak muda yang ingin instan baik dalam hal memilih produk, melakukan pemesanan dan metode pembayaran. Kebiasaan ini akhirnya semakin mengenalkan e-commerce sebagai wadah belanja yang efektif, inovatif dan efisien kepada masyarakat yang lebih luas karena makin populer.

Bahkan imbas dipilihnya artis K-Pop sebagai ambassador e-commerce pun turut menyumbang meningkatnya omzet bisnis digital yang terus mencatat raihan fantastis. Menurut Mirza Adityaswara selaku Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGS BI) kepada Liputan 6 tahun 2019 lalu, sektor ekonomi digital khususnya e-commerce terus tumbuh dari waktu ke waktu hingga menyentuh angka transaksi Rp13 triliun per bulan.

pengunjung web bulanan

Selama pandemi Covid-19 yang sampai memicu resesi ekonomi Indonesia pada November 2020 lalu, BI mencatat transaksi ekonomi dan keuangan digital terus bertumbuh karena banyak masyarakat yang menggunakan platform e-commerce. Para penjual di marketplace yang mayoritas adalah pelaku bisnis UMKM ini juga ikut merasakan tingginya traffic pengunjung berkat terpilihnya artis-artis K-Pop sebagai ’wajah’ dari e-commerce yang menaungi bisnis mereka.

Lantaran berbelanja online saat ini seolah jadi gaya hidup, tentu masyarakat sudah makin terbiasa memilih transaksi digital seperti QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard), internet/mobile banking hingga e-money/e-wallet alih-alih menggunakan uang tunai dalam membayar pembelanjaan.

Semakin terbiasanya masyarakat dengan transaksi digital ini pun diperkuat dengan pernyataan Perry Warjiyo selaku Gubernur BI. Dilansir CNCB Indonesia, Perry menyebutkan kalau transaksi uang elektronik (e-money) pada Desember 2020 mencapai Rp22,1 triliun (tumbuh 30,44% secara year-on-year). Sedangkan untuk volume transaksi digital banking di periode yang sama, mencapai 513,7 juta transaksi senilai Rp2.774,5 triliun alias lebih besar dari APBD 2020 atau APBN 2021 sekalipun.

GMV

Data ini seolah menegaskan proyeksi Facebook dan Bain & Company yang menyebutkan ada 137 juta konsumen digital di Indonesia pada 2020 alias 68% dari total populasi. Tak heran kalau akhirnya nilai transaksi belanja online di Tanah Air diperkirakan mencapai US$72 miliar (sekitar Rp1.047,6 triliun) pada tahun 2025 mendatang, sementara di tahun 2020 sudah menembus US$26 miliar (sekitar Rp364 miliar).

Baca juga:

Dukungan Bank Indonesia Untuk Kemudahan Transaksi Digital

kebijakan Bank Indonesia

Menyadari kalau transaksi digital adalah masa depan perekonomian, banyak perusahaan yang mulai melakukan penyesuaian bisnis. Hal ini akhirnya membuat BI cukup optimis kalau perekonomian Indonesia di tahun 2021 akan kembali ke jalur positif dengan level pertumbuhan 4.8% - 5%. Demi mewujudkan ambisi itu, BI pun mengeluarkan lima kebijakan lanjutan guna mendukung pemilihan ekonomi nasional 2021.

Salah satu dari lima kebijakan lanjutan itu adalah BI terus mendorong digitalisasi ekonomi dan keuangan digital. Tak main-main, BI memasang target 12 juta pelaku bisnis UMKM sudah terdaftar menggunakan QRIS di tahun 2021. Demi mewujudkannya, BI pun merumuskan beberapa kebijakan khusus untuk mendorong transaksi digital pada 2021 ini. Apa saja?

1. Ajakan agar masyarakat Indonesia memlih transaksi pembayaran nontunai, bisa lewat digital banking, e-money hingga QRIS

2. Pembebasan biaya transaksi pemrosesan QRIS khusus pedagang kategori usaha mikro oleh PJSP (Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran) efektif sejak 1 April - 30 September 2020

3. Menjamin keberlangsungan operasional sistem pembayaran BI baik tunai dan nontunai, serta sistem pembayaran industri

4. Penurunan biaya SKNBI (Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia) dari capping maksimal Rp3,500 jadi Rp2,900 yang berlaku efektif pada tahun 2020 lalu

5. Bersama pemerintah, BI mendukung penyaluran dana bansos (bantuan sosial) program pemerintah lewat PKH (Program Keluarga Harapan), kartu sembako hingga kartu prakerja

Melihat kebijakan yang ditawarkan, BI sepertinya sangat serius memaksimalkan potensi transaksi digital terutama di kalangan milenial dan generasi Z demi kemajuan ekonomi nasional. Kelompok muda produktif yang selama ini mungkin terlalu tenggelam dalam hobinya yang kadang dianggap buang-buang uang, justru bisa dimanfaatkan sebagai celah bisnis yang menjanjikan oleh masyarakat Indonesia, agar perekonomian bisa bangkit lagi.

Dan akhirnya, semua hal-hal positif yang sudah diulas di atas akan bermuara pada percepatan inklusi keuangan yang berefek domino ke pulihnya daya beli masyarakat, menggeliatnya UMKM dan bangkitnya perekonomian nasional.

Kalau memang itu semua bisa dilakukan dengan campur tangan K-Pop sebagai magnet transaksi digital, kenapa tidak?

Jadi yuk, manfaatkan transaksi digital untuk kemajuan ekonomi nasional bersama-sama!

Arai Amelya
I'm a driver, never passenger in life

Related Posts

Posting Komentar

Follow by Email