Selamat Hari Film Nasional, Inilah 10 Film Indonesia Favorit Saya!

23 komentar

Hari Film Nasional

Bagi kalian yang menganggap film bukan cuma sekadar tontonan di waktu senggang, tapi tak ubahnya kegiatan religius yang begitu dirindukan, 30 Maret tentu bukanlah hari biasa. Yap, 30 Maret adalah Hari Perfilman Nasional yang tentu harus dirayakan dengan hingar bingar sinematik dan tersibaknya gorden layar perak.

Mungkin kamu bertanya-tanya, kenapa kok Hari Film Nasional jatuh pada tanggal 30 Maret?

Karena di tanggal itu pada tahun 1950, Usmar Ismail melakukan pengambilan gambar perdana untuk film pertamanya, DARAH DAN DOA (1950). Kendati Usmar sudah pernah merilis HARTA KARUN (1949) dan TJITRA (1949), dia selalu menyebutkan kalau DARAH DAN DOA adalah film pertamanya. Bagi Usmar, DARAH DAN DOA adalah momen dia memperoleh kebebasan dan menghasilkan karya seni lewat sebuah film, bukan cuma sekadar benda komersial.

Sejarah Hari Film Nasional sendiri memang tak pernah bisa lepas dari sosok Usmar Ismail. Karena bagaimanapun juga, DARAH DAN DOA adalah film nasional pertama. Memang, film yang dibuat pertama kali di Indonesia adalah LOETOENG KASAROENG (1926), tetapi film itu dibuat oleh pria Belanda, L Heuveldorp. Sehingga penyematan film Indonesia pertama lebih cocok ditetapkan kepada DARAH DAN DOA.

Sang pelopor drama modern sekaligus Bapak Film Indonesia kelahiran Bukittinggi ini memang sosok yang sangat penting dalam sejarah sinematik Nusantara. Bersama Djamaluddin Malik yang merupakan Bapak Industri Film Indonesia, Usmar mendirikan Perusahaan Film Nasional Indonesia.

Bahkan salah satu film buatannya, LEWAT DJAM MALAM (1954), merupakan salah satu film terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Film pertama yang direstorasi secara penuh oleh pemerintah Indonesia itu memenuhi seluruh kualitas naratis dan estetika sinematik, dengan standar yang luar biasa tinggi.

Mengingat betapa besar sumbangsih Usmar, Hari Film Nasional 2021 pun mengambil tema '100 Tahun Usmar Ismail'. Namun kali ini, saya akan mengajak kalian semua untuk menelusuri 10 film Indonesia terfavorit yang pernah saya tonton. Semoga kalian juga berkesempatan menonton semuanya, ya!

10 Film Indonesia Favorit yang Menurut Saya Terbaik

1. GIE (2005)

adegan film GIE

Dalam daftar film Indonesia yang paling saya sukai, GIE jelas ada di posisi nomor satu. Yap, inilah film Indonesia pertama yang membuat saya benar-benar jatuh hati dengan dunia sinematik nasional. Riri Riza sebagai sutradara mengajak saya menelusuri kehidupan Gie (Nicholas Saputra) sang pemberontak sekaligus pecinta alam, dalam menginisiasi pergerakan mahasiswa Indonesia di salah satu periode terkelam negeri ini.

Tak ada terlalu banyak orasi membara yang dilontarkan oleh Gie, tapi kita justru diajak mengikuti pemikirannya yang kritis, taktis, optimis dan realistis itu. Membuktikan bahwa Gie adalah minoritas yang menginginkan negeri ini jadi lebih baik.

Namun bahkan berdekade hingga kematiannya, impian itu masihlah menjadi lembaran-lembaran buku berdebu di lorong perpustakaan bernama Indonesia. Ada, tapi terlupakan. Menunggu ada yang cukup berani untuk mengambil dan melemparkan kepada bajingan-bajingan busuk di gedung Dewan sana.

Mungkin benar apa katanya,

Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda ~ Soe Hok Gie

2. FIKSI (2008)

adegan film FIKSI

Kalau disuruh memilih siapakah sutradara perempuan terbaik di Indonesia? Saya akan dengan tegas menjawab Mouly Surya. Bukan karena MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK (2017), tetapi justru film pertamanya, FIKSI yang membuat saya sangat terpikat dengan Mouly. Bersama dengan Joko Anwar kala itu, Mouly menuliskan skenario salah satu film psikologi-thriller terbaik yang pernah dibuat sineas Indonesia.

Film ini mengajak kalian mengikuti kisah Alisha (Ladya Cheryl) yang mengalami tekanan mental setelah melihat Ibunya bunuh diri waktu dia kecil, karena perselingkuhan sang Ayah (Soultan Saladin). Alisha yang meskipun bergelimang harta, tumbuh menjadi perempuan pendiam dan tertutup, hingga akhirnya datang Bari (Donny Alamsyah).

Ketertarikan Alisha justru menjadi obsesi yang membuatnya mengikuti Bari hingga ke tempat tinggalnya di rumah susun. Bari ternyata adalah seorang penulis yang tengah bingung menentukan akhir dari kisah fiksinya. Yang unik, karakter dalam kisah fiksi buatannya itu terinspirasi dari para penghuni di rumah susun.

Alisha yang ingin membantu Bari, justru nekat melakukan hal-hal keji di luar nalar kepada para penghuni yang menjadi tokoh dalam kisah fiksi buatan Bari itu. Jujur dalam 110 menit film ini berjalan, FIKSI sukses mengajarkan kepada saya bahwa mungkin saja realita dan fiksi itu tak pernah ada batasnya.

3. JAGAL: THE ACT OF KILLING (2012)

adegan film JAGAL THE ACT OF KILLING

Meskipun dibuat oleh sutradara Amerika Serikat bernama Joshua Oppenheimer, saya tidak bisa tidak memasukan JAGAL: THE ACT OF KILLING sebagai salah satu film Indonesia terbaik. Film dokumenter ini mengambil kisah salah satu peristiwa yang membuat saya sangat terobsesi, G30S PKI. Sebagai anak milenial, G30S PKI memang tampak seperti ironi karena saya dan mungkin kalian, tentu pernah menjadi salah satu yang merayakan kekejaman itu setiap tahunnya lewat film propaganda buatan Orde Baru.

Namun JAGAL tak berlebihan jika disebut sebagai antitesis karena film ini menceritakan secara lugas tanpa tedheng aling-aling, orang-orang yang terlibat langsung dalam pembantaian sadis itu. Adalah Anwar Congo dan kawan-kawan yang kini justru begitu dipuja sebagai pendiri organisasi paramiliter sayap kanan, Pemuda Pancasila (PP), justru pada tahun 1965 mengambil peran sebagai penjagal orang-orang yang oleh negara dianggap berbahaya di Sumatera Utara, mereka yang dituding sebagai PKI.

Tanpa adanya pembelaan, Anwar dan rekan-rekannya memperihatkan kekejaman yang sangat jujur dalam mengingatkan kembali salah satu momen laknat itu. Apa yang saya dapatkan setelah menonton JAGAL? Sebuah kengerian dan ketidaknyamanan karena saya dipaksa untuk seolah berjalan sendiri ke masa tahun 1965. Film ini tak ubahnya sebuah cermin yang memperlihatkan refleksi bencana moral itu sendiri, meskipun ada titik di mana Anwar merasa ada gemuruh meledak dari hati nuraninya.

4. MENGEJAR MATAHARI (2004)

adegan MENGEJAR MATAHARI

Generasi zaman sekarang mungkin begitu memuja 5CM (2012) sebagai film yang menggambarkan mengenai cinta, impian dan persahabatan. Namun kalau disuruh memilih, film bertema persahabatan terbaik yang pernah dirilis di negeri ini, saya akan menawarkan MENGEJAR MATAHARI.

Film yang membuat saya sangat rindu pada sentuhan magis Rudi Soedjarwo ini berkisah tentang persahabatan empat pemuda, Ardi (Winky Wiryawan), Damar (Fauzi Baadila), Nino (Fedi Nuril) dan Apin (Udjo Project Pop). Apa yang membuat persahabatan sejak kecil ini berbeda? Karena mereka berempat punya ritual permainan unik yakni 'mengejar matahari' dengan cara berlari di sekitar kompleks rumah susun.

Dibalut ritual pengejaran sang Surya, MENGEJAR MATAHARI adalah salah satu film paling jujur yang membahas kompleksitas cinta, persahabatan dan keluarga dalam balutan harapan, kegagalan dan perpisahan yang sangat nyata. Saya sangat takjub dengan bagaimana Titien Wattimena bisa menjadi salah satu penulis skenario film perempuan favorit saya, karena mampu menggambarkan keempat karakter berbeda yang saling menopang dan punya porsi sama-sama kuat itu.

5. LASKAR PELANGI (2008)

adegan film LASKAR PELANGI

Saya mungkin termasuk yang benar-benar emosi ketika bagaimana WARKOP DKI REBORN: JANGKRIK BOSS! PART 1 (2016) menggulingkan LASKAR PELANGI dari posisi puncak film terlaris di Indonesia. No hard feeling, karena bagaimanapun juga, film arahan Anggy Umbara itu tidaklah bisa dibandingkan dengan perjuangan para bocah Belitong. Bahkan dibandingkan dengan film Warkop asli pun, tetap sangat jauh.

Riri Riza seolah mencurahkan segala hal dalam dirinya lewat film yang diangkat dari novel best-seller karya Andrea Hirata ini. LASKAR PELANGI datang tanpa adanya amunisi yang begitu bergengsi. Menawarkan kisah perjuangan bocah-bocah miskin Belitong yang kebetulan dibintangi oleh anak-anak lokal sana, dalam menempuh pendidikan. Sebuah potret kesenjangan jika dibandingkan dengan kehidupan para penggemar film di ibukota.

Dengan kesederhanaannya, LASKAR PELANGI justru mampu tampil sangat mewah dan begitu genuine, sebuah hal yang mungkin sangat langka ditawarkan oleh film-film Indonesia masa kini terutama yang memotret kondisi nyata masyarakat pinggiran. Andai saja film ini ditayangkan di era saat ini, mungkin dengan mudah bisa menendang DILAN 1990 (2018) atau DILAN 1991 (2019) yang begitu gombal dan tidak berguna, tapi ditonton jutaan remaja itu.

6. 27 STEPS OF MAY (2018)

adegan film 27 STEPS OF MAY

Dari banyaknya film Raihaanun, 27 STEPS OF MAY tentu saya pilih sebagai penampilan terbaiknya. Film yang diarahkan oleh Ravi Bharwani dan ditulis skenarionya oleh Rayya Makarim ini mengajak kita untuk menemani trauma yang dirasakan May (Raihaanun), setelah jadi korban pemerkosaan Kerusuhan Mei 1998.

Kekerasan seksual yang dirasakan May di usia belia ini membutuhkan waktu delapan tahun baginya, untuk akhirnya bisa berdamai, meskipun itu tak akan pernah menghapuskan luka. Karena bagaimanapun juga, trauma mental tak akan bisa disembuhkan dan menjadi sebuah pekerjaan seumur hidup. Apalagi trauma yang disebabkan oleh pelecehan seksual, taruhan dengan saya, tak bisa dijadikan mudah.

Peristiwa laknat itu mengubah May jadi perempuan yang menutup rapat-rapat dunianya, bahkan kepada Ayahnya (Lukman Sardi). Menurut saya, Ravi dengan tepat dan cermat bisa memperlihatkan seperti apa dunia para penyintas perkosaan yang mungkin tak pernah repot-repot diceritakan media, kecuali bagaimana cantiknya paras si korban.

27 STEPS OF MAY mungkin hanya satu dari sedikit film Indonesia yang dengan sempurna menggambarkan rapuhnya perempuan. Ketika mereka dipaksa melakukan hal yang tak pernah mereka mau, jangan anggap 'kenikmatan' yang mungkin terjadi itu karena keinginan. Karena di saat nilai dirinya itu direnggut, para korban perkosaan juga sudah kehilangan kendali atas dirinya sendiri, untuk selama-lamanya sampai dia berhasil berdamai dengan belenggu tersebut.

7. MENCARI HILAL (2015)

adegan film MENCARI HILAL

Ada satu alasan utama kenapa saya tak terlalu doyan menonton film Indonesia yang membawa nafas Islami. Sekalipun saya seorang Muslim, film-film Islami di Indonesia selalu saja terkesan menggurui dan itu menyebalkan. Beruntung, MENCARI HILAL seolah menjadi rejimen atas pesimisme saya.

Diarahkan oleh Ismail Basbeth, MENCARI HILAL membawa benang merah mengenai bagaimana menghadapi, memaknai dan berdamai dengan perbedaan lewat sosok Mahmud (Deddy Sutomo) yang taat bahkan cenderung kolot beragama, dengan putranya, Heli (Oka Antara) yang sangat jauh dari agama, dalam mencari hilal. Karena kondisi keuangan, Mahmud mengulangi tradisi mencari hilal Idul Fitri secara tradisional, alih-alih menggunakan serangkaian alat seperti era saat ini.

Sebagai sebuah road movie, perjalanan dalam MENCARI HILAL tak ubahnya perjalanan religius para penonton. Ada banyak hal yang dijumpai oleh Mahmud dan Heli termasuk isu intoleransi di negeri ini sepanjang memburu hilal itu. Namun Ismail sekali lagi tidak menggurui, bahkan membiarkan penonton menentukan sendiri soal apa yang dialami oleh kedua tokohnya. Saya harap, film-film yang memberikan nilai tapi tak tampak sok pintar seperti MENCARI HILAL bisa hadir lebih banyak di negeri ini.

8. PETUALANGAN SHERINA (2000)

adegan PETUALANGAN SHERINA

Saya masih ingat, menonton film ini di salah satu bioskop di Malang bersama Ibu dan kakak laki-laki saya. Waktu itu saya masih SD entah kelas berapa, rela antri hanya untuk menonton Sherina. Bisa dibilang, Sherina adalah ultimate girl crush dan tipe gadis ideal saya, jika saya adalah laki-laki. No offense ya Baskara Mahendra, istrimu ini memang cantik dan cerdas, period.

Apa yang membuat saya sangat menyukai PETUALANGAN SHERINA bahkan meskipun film ini sudah berusia 20 tahun? Karena film ini adalah salah satu karya terpenting dalam sejarah sinematik nasional. Berkat PETUALANGAN SHERINA, industri film yang mati suri bangkit kembali. Namun PETUALANGAN SHERINA juga meletakkan sebuah standar yan luar biasa tinggi dalam film anak dan film musikal negeri ini.

Bisa dibilang, saya belum menemukan film anak bergenre musikal yang mampu melampaui kualitas PETUALANGAN SHERINA hingga sekarang. Saya beruntung termasuk yang besar di era Sherina dengan lagu-lagu yang hingga saat ini masih sangat nyaman didengar. Jujur, impian saya untuk bisa melihat Canopus, Capella dan Vega di Boscha masih menjadi salah satu bucket list yang belum terwujud hingga sekarang.

9. ADA APA DENGAN CINTA? (2002)

adegan film AADC

Jujur di hati saya yang terdalam, hingga saat ini tak ada yang bisa menandingi kharisma seorang Rangga (Nicholas Saputra) sebagai bocah SMA idaman banyak perempuan di negeri ini. Rangga yang tidak sok puitis tak perlu repot-repot harus jadi kapten geng motor dan melontarkan rayuan untuk membuat siapapun histeris. Karena itu, tak ada yang menyalahkan Rangga saat dia membuat banyak pemuda negeri ini insecure bukan hanya wajah tampannya, tapi juga tatapan tajam dan kecuekannya.

ADA APA DENGAN CINTA? adalah salah satu film remaja terbaik sekaligus meletakkan standar cukup tinggi dalam perfilman nasional. Pemilihan karakter yang tepat dan skenario sangat berkualitas dari seorang Jujur Prananto, belum lagi deretan lagu soundtrack yang seolah tak lekang oleh waktu, membuat Rangga dan Cinta (Dian Sastrowardoyo) sebagai pasangan yang paling dicintai negeri ini.

Bahkan hampir 20 tahun berlalu, Rangga dan Cinta tetap jadi kisah asmara paling favorit lintas generasi. Meskipun sekuelnya ADA APA DENGAN CINTA? 2 (2016) tidak berhasil meneruskan estafet kualitas sang predecessor, Rangga dan Cinta tetaplah layak diabadikan.

Tapi aku pasti akan kembali dalam satu purnama
Untuk mempertanyakan kembali cintanya.
Bukan untuknya, bukan untuk siapa, tapi untukku
Karena aku ingin kamu, itu saja ~ Puisi Rangga by Rako Prijanto

10. CEK TOKO SEBELAH (2016)

adegan film CEK TOKO SEBELAH

Ada banyak komika, Youtube dan content creator negeri ini yang pindah jalur sebagai sineas. Hasilnya? Sudah pasti banyak yang gagal dan menghasilkan ampas. Namun kalau disuruh memilih, Ernest Prakasa jelas tak masuk dalam daftar. Komika Tionghoa favorit saya ini justru bisa dibilang sebagai salah satu hidden gem yang untung saja berhasil ditemukan oleh produser film.

Dari banyaknya karya Ernest, CEK TOKO SEBELAH adalah yang paling saya sukai. Tidak banyak film komedi keluarga yang muncul dan mampu memberikan kesan healing bahkan sekalipun ditonton bertahun-tahun kemudian, tetapi itu bisa dilakukan oleh CEK TOKO SEBELAH. Film ini memperlihatkan bahwa urusan toko bagi kaum Tionghoa bukanlah sekadar mata pencaharian, tapi itu adalah tempat dimana berbagai kenangan, impian dan cinta mereka disematkan.

Hingga saat ini, saya bahkan masih selalu menangis dengan adegan di makam saat Koh Afuk (Chew Kinwah) meminta maaf kepada Yohan (Dion Wiyoko). Kedua aktor ini adalah tulang punggung yang menjadikan CEK TOKO SEBELAH, sebagai salah satu film wajib tonton setiap keluarga di Indonesia.

Sebetulnya, masih ada banyak sekali film-film Indonesia lain yang saya sukai. Sebut saja seperti CLAUDIA/JASMINE (2008), KERAMAT (2009), SANG PENARI (2011), POSESIF (2017), KUCUMBU TUBUH INDAHKU (2018) atau DUA GARIS BIRU (2019). Saya sengaja hanya memasukkan film-film era 2000-an, karena di tahun itulah saya tumbuh besar dan mulai menyukai film. Meskipun memang tak dipungkiri ada banyak film legendaris Indonesia yang bahkan punya kualitas jauh lebih baik dari 10 yang saya sebutkan di atas.

Namun daftar di atas memang layak jadi favorit karena mampu mengubah dan mempengaruhi betul pandangan saya terhadap film. Tentu 10 pilihan di atas bersifat bias dan kalian tak perlu sepakat 100%. Karena bagi saya, film sama seperti selera kita terhadap makanan atau lawan jenis, bakal berbeda-beda penilaiannya. Saya mencoba menghargai setiap orang dengan setiap film yang mereka sukai.

Intinya, di Hari Film Nasional 2021 ini, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada seluruh pelaku sinematik negeri baik penulis skenario, sutradara, para produser, editor, kameramen dan seluruh kru lapangan beserta para aktor dan aktris. Semoga industri film negeri ini semakin baik lagi di masa depan dan karya-karya kalian semakin dihargai.

If it’s a good movie, the sound could go off and the audience would still have a pretty clear idea of what was going on ~ Alfred Hitchcock

Arai Amelya
I'm a driver, never passenger in life

Related Posts

23 komentar

  1. Yang jagal itu keknya aku mau nonton daridulu tapii ngga kesampaiann 😭😭mau dong filmnyaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. pakai jalur ilegal, purun?

      Hapus
    2. wkwkwkwk, sepat di blokir ya kak filmnya. sekarang di yutub juga gak ada

      Hapus
    3. Iyaa, kudu gercep. Waktu itu nonton di event film lokal yang eksklusif biangat. Sulit emang nontonnya, habis ditonton pun sulit juga nggak kepikiran

      Hapus
  2. Ternyata juga ada film favorit saya disini, laskar pelangi dan ada apa dengan cinta. Diputer berulang kali gak bosen² 😍😍

    BalasHapus
  3. Kak kalo sekarang mau nonton film Gie dimana ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa di aplikasi Netflix atau Vidio, kak

      Hapus
  4. Kak Arai sukses bikin aku senyum lebar di poin pertama, Gie. Lalu mengernyit. Mengenang pengalaman menonton. Bersorak di poin Petualangan Sherina dan menutup semua dengan manis di bagian Cek Toko Sebelah.

    BalasHapus
  5. Yang epic yang jd favorit aku adalah laskar pelangi, petualangan sherina, AADC, cek toko sebelah. Nostalgia bgt baca ini. Selamat hari film ya ;) semoga ttp maju di tengah pandemi

    BalasHapus
  6. Selamat hari film nasional!!! kita sesama movie lover nih, yang ngebedain cuman blog film aku belum aktif, wekekekek. kebanyakan blog , ecieee. Btw tos dulu dong, semua film favorite nya kak arai aku juga suka. Paling suka sih tiga film, ada apa dengan cinta, Gie dan sherina. Jagal aku udah nonton, tapi udahnya perut rasanya mual, mengetahui kisah kelam masa perang, jadi gak aku terusin. Pak suami yang nerusin terus ceritain ke aku, hahahaha

    BalasHapus
  7. Yeay, selamat hari film nasional. dari 10 rekomendasi film tersebut yg baru aku tahu itu ttg raihanuun, itu yang bikin istrinya nadiem makarim bukan mbak? hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan kak Ghin hahaha. Rayya itu kakak kandungnya Nadiem Makarim. Rayya pernah jadi penulis kenario PASIR BERBISIK (2001)

      Hapus
  8. Dari 10 film di atas, nomor 2 dan 3 belum pernah nonton. Steps of May sempat nonton, tapi ketiduran karena alurnya lambat banget...

    Kalau di antara 10 film ini, bingung pilih antara Gie atau AADC, wkwk. Ketahuan karena ada Nicholas Saputranya nih :D :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. 27 STEPS OF MAY memang punya pace yang sedikit lambat. Mungkin karena memang ingin menggambarkan pergulatan hati May, trauma emosional yang membuat May menutup diri, hal-hal kayak gitu memang nggak bisa diselesaikan dengan grasa-grusu kali ya. Kita seperti ngelihat dunia dari kacamata si penyintas

      Hapus
  9. AADC sama Petualangan Sherina emang ga boleh kelewat sih ☺ Tapi Cek Toko Sebelah juga sukaa

    BalasHapus
  10. Ye kebanyakan sama dengan aku kak asikkk ada temennya
    semua film Indonesia nggak kalah keren dari luar ya Kak

    BalasHapus
  11. Keren banget sih penuturannya berasa sekilas liat filmnya selain sebagian besar aku dah nonton juga hahaha. Baca sambil manggut-manggut iya bener.

    Aku suka dan setuju sekali. Hanya dengan tatapan mata saja Rangga suah bikin jatuh cinta. Ini seakan mengalahkan pesona si geng motor yang rajin ngegombal hahaha.. tapi selera ornag beda2 ya.

    Aku tim cuek sih.makin cuek makin tjakep. Hahaha..
    Aku ingin nonton ulang cek toko sebelah jadinya. Nontonnya dulu fokus sama yg lucu2 hahahah...

    BalasHapus
  12. Entah kenapa kisah di film korea jau lebih menarik daripada film Indonesia masa kini. Anyway selamat hari film nasional.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena industri Korea jauh lebih stabil dan konsisten, penonton juga paham betul dg komoditas sinema dan sangat menghargai. Industrinya bisa berjalan. Indonesia masih jauh, tapi harapan itu ada. Cuma sinergi penonton dan pemerintah yang belum jalan, akhirnya kualitasnya masih mayoritas rendah

      Hapus
  13. Yang udah aku tonton gie, laskar pelangi, mengejar matahari, aadc, cek toko sebelah, sheirina

    BalasHapus
  14. dari 10 list yang kutonton baru 1 mbak hehehe, harus berguru ke mbak arai nih soal perfileman

    BalasHapus
  15. AADC dan petualangan sherina seperti paling membekas buat saya dan ga lekang oleh waktu ya filmnya, lainnya beberapa sudah kutonton juga

    BalasHapus
  16. waaah satu selera,, gie sama mengejar matahari ni film lawas yang paling aku sukaaaaa,,,

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email