Antara Zahra, Ji Eun Tak dan Gong Yoo

31 komentar

sinetron ZAHRA Indosiar

Kalau ngomongin soal sinetron Indonesia, sebetulnya saya bukanlah penonton setia. Saya pernah ngikutin PARA PENCARI TUHAN terutama jilid-jilid awal, meskipun makin ke sini sudah berbeda komposisi pemainnya, tetap one of the best Indonesian television soap operas . Tapi kayaknya kali ini saya pengen ngungkapin uneg-uneg di hati perihal sinetron ZAHRA Indosiar.

Sebagai anak yang Ibunya demen banget semaleman nonton IKATAN CINTA demi mas Aldebaran, ZAHRA bukanlah sinetron yang sering tayang di TV rumah. Kalau kata Ibu saya sih, jajaran cast di ZAHRA ini kurang menarik, pun begitu ceritanya.

I'm so proud of ma motha

Ibu, sama seperti saya, memang nggak terlalu suka dengan kisah soal poligami. Tapi ketika kontroversi sinetron ZAHRA Indosiar ini makin ramai dibicarain di media sosial, Ibu punya alasan lagi untuk nggak terlalu ngikutin yakni kisah pernikahan usia dini, yang tentunya juga sangat saya antipati.

Sebagai orang yang lagi merintis mimpi di dunia skenario, saya sebetulnya sepakat kalau sinetron Indonesia itu masih banyak 'cacatnya'. Tapi di lain pihak, saya juga menghormati para scriptwriter senior yang begitu luar biasanya bertahan di tengah pergulatan batin dalam membuat naskah sinetron. 

Kalian harus tahu, bahwa sebetulnya tidak ada penulis skenario sinetron yang mau karya mereka jadi bulan-bulanan netizens. Namun untuk kasus sinetron ZAHRA dihujat kali ini, saya mau tak mau setuju karena menurut saya, Indosiar sudahlah sangat keterlaluan.

Dan untuk mengetuk hati para produser sinetron yang cuma mendewakan rating ini, saya harus membuat perbandingan sekali lagi mengenai kondisi industri serial TV di Indonesia dengan industri serial TV di Korea Selatan. Sebuah alasan kenapa sinetron-sinetron Tanah Air masihlah sangat panjang perjalanannya jika ingin bersaing dengan serial drama Korea (drakor). 

Alasan Saya Ikut Menghujat Sinetron 'ZAHRA'

poster ZAHRA

Ada tiga alasan utama kenapa saya akhirnya sampai mau ngebahas panjang lebar soal sinetron SUARA HATI ISTRI: ZAHRA ini.

Yang pertama adalah poligami

Tirta dan ketiga istrinya
Zahra - Putri - Tirta - Ratu

Sebagai seorang Muslim, saya paham bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang melakukan poligami dalam pernikahannya. Berbagai literatur yang menyebutkan kalau istri Muhammad mencapai 11 orang. Hal ini yang akhirnya membuat banyak laki-laki masa kini yang melegitimasi poligami dengan dalih sunnah

Padahal tahukah kalian? Meskipun ilmu Agama Islam saya ini dangkal, saya tahu kalau Rasulullah melakukan poligami dengan pertimbangan panjang dan tujuan pasti, bukan cuma sekadar tertarik pada kecantikan fisik. 

Hal inilah yang membuat saya tak pernah bisa menerima poligami di masa kini dengan alasan apapun. Membagi cinta itu hanyalah sesuatu yang bisa dilakukan secara sempurna oleh Rasulullah di era yang relevan. Bagi saya, perceraian jauh lebih baik daripada harus poligami. Janji surga untuk istri yang bersedia dipoligami? Silahkan. Tapi saya tak pernah merindukan surga lewat jalan seperti itu, periodt.

Dan ketika tema poligami ini masih jadi miskonsepsi di masyarakat, Indosiar tanpa tedheng aling-aling justru dengan bangga mengusung ZAHRA. Dikisahkan karena kondisi ekonomi keluarganya, Zahra (Lea Ciarachel) si bocah SMA harus rela dinikahkan dengan Tirta (Panji Saputra), seorang juragan kampung kaya raya. Namun ternyata Tirta sudah memiliki dua orang istri sebelumnya yakni Ratu (Zora Vidyanata) dan Putri (Metta Permadi). Akhirnya Zahra si bocah SMA polos itu harus merelakan mimpi dan cintanya kepada Alsyad (Bryan Andrew) karena memilih jadi istri ketiga Tirta.

Problem kedua adalah pernikahan di usia dini

cuplikan adegan ZAHRA (4)
cuplikan adegan ZAHRA

Percayalah, saya termasuk yang tak pernah yakin kalau pernikahan usia muda itu bisa membawa kebahagiaan. 

Berdasarkan riset dari tim peneliti Sekolah Medis Pittsburgh seperti dilansir Independent, masa dewasa secara sains dimulai pada usia 25 tahun. Artinya, manusia bisa dibebankan tanggung jawab kehidupan dewasa termasuk pernikahan dan berumah tangga setidaknya di umur 25 tahun, ketika bagian-bagian otak seperti striatum yang berfungsi dalam hal motivasi, interaksi sosial dan daya ingat sudah bekerja optimal.

Tapi dalam sinetron ZAHRA Indosiar ini, si Zahra masihlah duduk di bangku SMA yang setidaknya dia berusia 16-18 tahun dan sudah dinikahkan sebagai istri ketiga! Bukankah itu glorifikasi dan romantisasi PUA (Perkawinan Usia Anak) yang sudah jelas dilarang oleh pemerintah Indonesia?

Cobalah itu para produser sinetron Indosiar mempelajari UU No.16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang berlaku sejak 15 Oktober 2019. Dimana sekarang Indonesia sepakat bahwa batas usia pernikahan untuk perempuan minimal 19 tahun, bukannya 16 tahun lagi, ah elah si Bambang!

Dan alasan ketiga yang terakhir adalah gap usia 

Panji Saputra dan Lea
Lebih cocok jadi Bapak - Anak?

Tentunya gap usia ini antara Lea Ciarachel si pemeran Zahra dan Panji Saputra si pemeran Tirta.

Kalau kamu tidak tahu, Lea Ciarachel ini terlahir pada 5 Oktober 2006 yang artinya dia masih berusia 14 tahun saat ini! Sementara Panji Saputra lahir pada 16 September 1981, alias berusia 39 tahun. Artinya, gap alias jarak usia mereka berdua adalah 25 tahun!

Yeah my darling, fu**ing twenty five years!

Saya nggak habis pikir kenapa si produser, sutradara, even her parents, ngebolehin bocah 14 tahun beradegan mesra dengan bapak-bapak usia 39 tahun? Termasuk aneka adegan romantis mulai dari ucapan-ucapan mesra, scene malam pertama hingga elus-elus perut hamil.

cuplikan adegan ZAHRA (3)
cuplikan adegan ZAHRA
Apakah sesama pemain di lokasi syuting ZAHRA tidak menganggap itu semua janggal? Pernah nggak mereka melihat bagaimana ekspresi dan perasaan si Lea melakukan berbagai adegan itu? Apa yang ada di benak Lea saat harus melakukan adegan-adegan tersebut? Ke mana ini KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia)? Jangan cuma pas audisi badminton Djarum aja vokal banget pak, bu!

Nggak ngerti lagi.

'ZAHRA' yang Dibully dan 'GOBLIN' yang Dipuja

cuplikan adegan ZAHRA

Sedikit banyak kontroversi gap usia dalam sinetron ZAHRA Indosiar ini mengingatkan saya pada serial drakor favorit, GOBLIN (2016). Meskipun inti ceritanya berbeda, GOBLIN juga mengusung kisah seorang gadis SMA yakni Ji Eun Tak (Kim Go Eun) yang jatuh hati pada ahjussi super tampan, Kim Shin (Gong Yoo) yang ternyata adalah seorang Goblin alias Dokkaebi berusia 900 tahun++.

Tapi, tapi kenapa GOBLIN dipuja orang-orang di seluruh dunia termasuk saya, sementara saya malah menghujat ZAHRA padahal karakter utama perempuannya sama-sama duduk di bangku SMA?

Sebelum saya jelasin, kalian harus tahu bahwa GOBLIN juga sempat diserang oleh netizens Korea yang merasa hubungan asmara gadis SMA dengan ahjussi bukanlah hal yang layak dipertontonkan saat itu. Bahkan tak sedikit yang menuding kalau GOBLIN turut mempromosikan pedofilia.

Kim Shin dan Eun Tak di Quebec
Kim Shin dan Eun Tak di Quebec

Namun sepertinya kontroversi tidak berlangsung lama karena Go Eun si pemeran Eun Tak, sudah berusia 25 tahun saat bermain dalam serial drakor tersebut. Sementara itu Gong Yoo saat menjadi Kim Shin sudah berusia 37 tahun. Sehingga gap usia mereka berdua saat syuting GOBLIN adalah 12 tahun, lebih dari setengah gap usia Lea dan Panji dalam sinetron ZAHRA Indosiar.

GOBLIN juga jelas dibuat dengan departemen cerita yang jauh lebih baik daripada ZAHRA. Adegan-adegan romantis yang terjadi antara Kim Shin dan Eun Tak tidaklah sevulgar Tirta dan Zahra yang diperlihatkan sudah menikah, padahal Eun Tak merupakan seorang mempelai Dokkaebi dengan usia asli 10 tahun lebih tua daripada Lea.

Gong Yoo - Kim Go Eun
Gong Yoo - Kim Go Eun

Alih-alih fokus pada sentuhan fisik, GOBLIN mengusung jalinan kisah yang kuat mengenai perjuangan makhluk abadi yang ingin mengakhiri kehidupannya, tapi justru jatuh cinta dengan sosok yang bisa membuatnya musnah. Belum lagi saya sebut dengan berbagai soundtrack yang membekas di hati, rasa-rasanya membandingkan ZAHRA dengan GOBLIN adalah sebuah tindakan yang tidak layak.

adegan kocak dalam GOBLIN
adegan kocak dalam GOBLIN
Tapi, tapi bukankah serial drama Korea juga ada yang dibuat dengan gap usia lebih jauh besar daripada antara Gong Yoo dan Go Eun?

Oh, Anda benar sekali. 

Ada I CAN HEAR YOUR VOICE (2013) yang bercerita tentang bocah SMA bernama Park Soo Ha (Lee Jong Suk) yang jatuh hati dengan pengacara Jang Hye Sung (Lee Bo Young). Saat itu Jong Suk berusia 24 tahun dan Bo Young berumur 34 tahun. Atau yang lebih jauh si Lee Byung Hun dan Kim Tae Ri di MR. SUNSHINE (2018) dengan gap usia 20 tahun, Yoo Ah In dan Kim Hee Ae di SECRET AFFAIR (2014) berjarak usia 19 tahun, Lee Sun Kyun dan IU di MY MISTER (2018) berselisih umur 18 tahun, hingga Ji Chang Wook dan Kim Yoo Jung di BACKSTREET ROOKIE (2020) yang gap usia 12 tahun dan juga sempat kontroversi.

adegan I CAN HEAR YOUR VOICE
adegan I CAN HEAR YOUR VOICE
Tapi semua judul serial drakor yang saya sebutkan itu sama sekali tak melakukan hal konyol seperti ZAHRA. Meskipun gap usia para pemeran cukup jauh dan karakter yang dimainkan lebih muda, tak ada adegan-adegan perkawinan anak yang ditonjolkan.

Jadi, sudah paham kan kenapa saya tetap memuja GOBLIN?

Solusi Cerdas Indosiar: Ganti Pemain Lewat Kecelakaan!

Seperti kebiasaan di Indonesia yaitu nunggu viral baru diselesaikan, hal serupa juga terjadi pada sinetron ZAHRA Indosiar ini. Saat berbagai hujatan sudah ramai di media sosial sampai jadi trending di Twitter, barulah KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) dan Indosiar mencari solusi meredam emosi netizens.

Apakah mereka menghentikan kisah Zahra?

Oh tentu tidak saudara-saudaraku se-Tanah Air.

Indosiar mengambil solusi yang luar biasa cerdas lewat Zahra ganti pemain.

Seperti kebanyakan adegan klise di sinetron Indonesia saat pemerannya tak bisa lanjut tapi si produser ogah menghentikan tayangan karena rating tinggi (entah karena hujatan atau memang kisahnya menarik), Zahra terlibat dalam kecelakaan parah hingga jatuh ke jurang dan harus...operasi plastik lalu berganti wajah.

Dalam bumper iklan ZAHRA terbaru, sosok Lea Ciarachel akhirnya resmi digantikan oleh Hanna Kirana. Berbeda dengan Lea yang memang masih piyik, Hanna diketahui lahir pada tahun 1997 yang artinya dia berumur 24 tahun pada 2021 ini sehingga jarak usia dirinya dengan pemeran Tirta adalah 15 tahun.

Hanna Kirana si pemeran Zahra terbaru
Hanna Kirana si pemeran Zahra terbaru

Apakah saya puas?

Tentu saja tidak.

Seperti yang saya bilang, ada tiga hal yang membuat saya sangat nyinyir dengan sinetron ZAHRA Indosiar ini. Jika alasan ketiga yaknigap pemain sudah diselesaikan oleh Indosiar, masih ada dua alasan lain yakni soal normalize poligami dan perkawinan anak

Lea bolehlah diganti dengan Hanna. 

Tapi ini tak menutup fakta kalau kisah ZAHRA ini dari awal sudah bermasalah. Indosiar sudah terlanjut mengotori tangannya dengan mengusung kisah poligami yang masih menuai kontroversi di Indonesia, serta secara tidak langsung memberikan suguhan romantisasi pernikahan dini gadis-gadis SMA. Mau cuci tangan seperti apa? Cuma Indosiar dan Tuhan Yang Maha Esa yang tahu jawabannya.

Jadi Sampai Kapan Sinetron Indonesia Seperti Ini? 

Melihat bagaimana perkembangan sinetron ZAHRA Indosiar hingga saat ini, sepertinya jawaban dari pertanyaan di atas masihlah muram. Meskipun begitu, judul-judul seperti PREMAN PENSIUN, TUKANG OJEK PENGKOLAN atau SI DOEL ANAK SEKOLAHAN masihlah bisa menyelamatkan wajah sinetron Tanah Air masa kini.

Rasa-rasanya ingin kembali ke beberapa tahun lalu. Seperti saat LORONG WAKTU, DI SINI ADA SETAN, KIAMAT SUDAH DEKAT, CANDY, PERNIKAHAN DINI, LUV, RATU MALU DAN JENDERAL KANCIL, ANGEL'S DIARY, KELUARGA CEMARA, CINTAKU DI RUMAH SUSUN dan LUPUS MILENIA tayang.

Saya pernah ikut dalam sebuah webinar bulan Mei lalu yang digelar oleh Logos ID bertajuk Di Balik Ikatan Sinetron. Dalam webinar via Zoom itu turut mengundang dua penulis naskah sinetron populer yakni Keke Mayang dan Venerdi Handoyo. Sedikit banyak, saya akhirnya tahu betapa kerasnya dunia skenario sinetron Tanah Air.

Keke dan Venerdi bergantian menyebutkan bahwa para penulis skenario sinetron di negeri ini tidaklah seburuk tudingan netizen. Mereka juga memiliki kapasitas untuk membuat kisah berkualitas tinggi. Namun tahukah kalian, keinginan itu selalu saja gagal terwujud karena kekuatan dari sinetron adalah rating TV.

Selama penonton Indonesia masih menyukai kisah-kisah tangisan para istri, konflik perebutan harta, tokoh hilang ingatan dan anak yang tertukar, maka panjang nafas sinetron Indonesia masihlah akan berkutat pada hal-hal tersebut. Kamu mungkin bisa menghujat kenapa kok sinetron Indonesia sampai ada adegan boneka Hello Kitty direbus? Pihak TV jelas dengan bangga akan menjawab, 'penonton suka, kok!'

Jadi ngapain repot-repot bikin cerita ala MY LOVE FROM THE STAR (2013), REPLY 1988 (2015), DESCENDANTS OF THE SUN (2016), PENTHOUSE (2020) atau VINCENZO (2021) yang buang-buang banyak uang ketika kisah istri yang tersakiti dan menangis di bawah air hujan masih bisa menghasilkan uang banyak?

Ya, nikmati sajalah sinetron ZAHRA Indosiar sementara saya lebih baik melipir ke layanan streaming yang juga menawarkan aneka judul serial Indonesia berkualitas. Rekomendasi saya, cobalah nonton IMPERFECT: THE SERIES (2021) dan KISAH UNTUK GERI (2021) yang sama-sama di WeTV, serta ANGKRINGAN THE SERIES (2021) di Mola TV.

Arai Amelya
I'm a driver, never passenger in life

Related Posts

31 komentar

  1. Sependapat di segala macam aspek yang dibahas dalam film ini. Terutama soal poligaminya. Wkwkw.

    BalasHapus
  2. Tetep jatuh cinta lihat Ahjussi yang tampannyaaaa uwuuuu banget di segala spek juga. Lagu lama banget sih ganti pemeran lewat kecelakaan terus teriak..."Ahh dokter..ini bukan wajahku..". Lha iya oneng itu wajah orang lain pan elu oplas. Jadi inget perinya bidadari yang ganti pemain. Inget Lala kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buset, iya. Lala kan ganti dari Marshanda ke Angel Karamoy. Ah, kita secara implisit memperlihatkan rentang usia ke khalayak umum

      Hapus
  3. pernah heboh nih di dunia sosmed tentang film zahra, bahkan sampai skrg aja masih heboh.. poligami yg di umur 15 tahun walaupun sinetron sih tapi saya hampir gak pernah nonton apalagi mengikuti secara full

    BalasHapus
  4. AKu baru tahu sinetron Zahra ini kak, soalnya nggak pernah nonton TV duh, dan memang kalau dari ulasanmu aku sih nggak setuju menampilkan cerita yang poligami dan digambarkan jelas begitu. Terlebih usia yang beda jauh. Meski sebenarnya aga, tapi alangkah baiknya masyarakat diberikan tontonan yang lebih berkualitas ya. Miris.

    BalasHapus
  5. Saya ingin keluarkan unek unek juga soal sinetron yg entah kenapa ibu saya doyan nton ini huhu bikin kezel deh. Sy gk suka sinetron in krn mendiskriminasi perempuan dan seolah poligami sprti itu dengan alasan gk punya anak lah apalah itupun diserumahkan. Yg sy sayangkan knp pihak MUI diam bae ya? Yg ngekritik cuma netizen doang

    BalasHapus
  6. Baru sekarang saya baca artikel yg bahas perfilman smp selesai dan jadi faham soal persinetronan. Iya sih, jadi maklum kenala dihujat netizen. Segitunya ya produser memertahankan sinetron yg skripnya amburadul demi rating...Miris...

    BalasHapus
  7. ah mba artikelnya saya baca sampai kata perkata, mba sudah menyuarakan pemikiran saya, setuju dengan 3 hal yang mba sebutkan. film-film di kita masih jauh dari kata mendidik dan soal poligami ini paling menyolot hati saya, jadinya banyak orang yang misperesepsi soal pernikahan yang diusung oleh Rasulullah untuk mengangkat derajat perempuan janda saat itu. Semoga pihak-pihak terkait makin jeli lagi dalam meloloskan acara TV

    BalasHapus
  8. alasan yang diterangkan Kak Arai itu juga yang membuat saya malas nonton sinetron. Lebih suka dengan film. Selain durasi, plot yang asik, tema cerita pun bukan soal perkawinan dan bukan yg termehek².

    Semoga lebih baik lagi ya sinetron kita kedepannya

    BalasHapus
  9. Itulah kalo industri hiburan hanya memikirkan rating. Mereka gak akan peduli dengan soal-soal hukum. Padahal dari ilmu yang saya peroleh, sesederhana menulis cerpen pun referensinya harus jelas dan legal.

    BalasHapus
  10. Woaahh ini yang sepat menjadi perbincangan beberapa hari yang lalu ya, iya mbak sayang banget sih, malah menurunkan kualitas film Indonesia aja. Mending nonton film imperfect dan yg mbak sebutkan di akhir artikel.

    BalasHapus
  11. Sependapat, memang Indosiar sudah keterlaluan dengan meloloskan produksi film ini. Bukan cuma temanya yang kontroversial, tapi aktris utama yang terlalu muda dan adegan romantis di ranjang hanyalah sekian dari kecatatan yang mesti digugat. Kita ingin punya acara televisi yang bermutu, makanya warganet peduli. Semoga Arai kesampaian jadi penulis skenario agar turut membantu tersedianya tontonan lebih beradab dan berkelas.

    BalasHapus
  12. Sinetron Indonesia bukan masih banyak cacatnya, tapi emang cacat semuanya, wkwkwkwk....

    Saya hampir nggak pernah melihat tayangan tv nasional (kecuali tayangan berita TVOne), soalnya acaranya semakin nggak berbobot, kayak sinetron, acara gosip, acara pamer harta, acara lawakan yang penuh dengan body shamming, acara musik alay dan masih banyak lagi. Mendingan saya lihat YOuTube.

    Maka dari itu, saya nggak tau perkembangan sinetron Indonesia itu apa aja yang terbaru. Ini ada baru lagi Zahra?? OMG kapan akan kelarnya nih sinetron

    BalasHapus
  13. Memang banyak tayangan serial di Indosiar yang sering menampilkan adegan janggal. Yang lebih bikin kesal adalah, kejahatan dari pemain antagonis yang dibalas sok bego dari pemain protagonis. Banyak gak masuk akalnya.

    BalasHapus
  14. Saya sempat melihat dua episode Zahra ini, dan langsung berhenti menonton setelah melihat jalan ceritanya. Banyak hal yang menggemaskan persis seperti yang diungkapkan oleh Mbak Arai. Semoga sinetron ini segera diakhiri saja ya...

    BalasHapus
  15. Aku suka nonotn TV itu dulu waktu masih belum nikah di rumah ortu, sejak nikah udah jarang malah skr ga pernah nonton, tapi nontonya film paling. Makanya ga tahu nih ada kasus di sinetron ZAHRA. Nah, kalau Goblin aku udah nonton nih. Kalau tentang gap usia ada tuh Romance is a Bonus Book cuma yang lebih tua tokoh perempuannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyes bener kak, ROMANCE IS A BONUS BOOK itu Lee Jong Suk sm Lee Na Young. Beda usia 10th, sama kayak Jong Suk main sm Lee Bo Young di I CAN HEAR YOUR VOICE. Kayaknya si Jongsuk ini langganan main sm noona

      Hapus
  16. Poligami sih bagi saya masih wajar asal dalam komteks yang sesuai. Kalau dijadikan bahan mainan atau guyonan semata yaa saya geram juga.
    Indosiar kok enggak bisa nyari penulis cerita yang layak sih jadi sinetron.
    Malu aku tuh...

    BalasHapus
  17. Setuju banget, Mbak. Asli dah, sinetron Zahra itu udah keterlaluan banget. Dan entah ke mana KPAI. Giliran kayak gini diem, pas audisi badminton djarum, koar-koarnya minta ampun.

    BalasHapus
  18. Daeebaakk isi artikelnya mewakilkan isi hatiku banget. Kadang sampe heran jga kenapa masih ada sih org yg suka nonton sinetronnya. Pdahal dliat dr cover jga udh ga banget. Kenapa ga skalian bikin sintron yg mendidik gtu ya.

    BalasHapus
  19. Huaa lengkap banget mba. Aku baca ini jadi tahu kenapa nitizen sangat geram dengan sinetron Zahra. Cacat nya banyak juga ya. Aku pribadi juga ga suka kalau sampai isu poligami dibawa ke sinetron apalagi ada anak2 di sana. Lha wong dulu rasulullah saja poligami setelah istri pertamanya meninggal dunia kok. Lha zaman skrg istri pertama masih pada segar bugar dan sehat lho.oh ya rekomendasi di wetv dan mola tv nya noted banget

    BalasHapus
  20. Tolong jangan bandingkan dengan Goblin hahaha. Tapi bener itu alasannya valid semua, sih. Cuma emang sempat agak gimana gitu dengan alur cerita Goblin, ini kek mendukung anak2 SMA pacaran sama om-om tajir hehehe.

    BalasHapus
  21. Aku tu suka menghindari menonto tayangan mengenai poligami. BUkan apa-apa sih. Akunya belum menikah, khawatir berpikiran macem-macem eh terus jadi ngeri sendiri. Makanya agak ngeh dengan acara-acara TV. Hehehe

    BalasHapus
  22. Tertarik dengan pembahasannya mengenai sinetron Zahra ini. Saya malah baru ada sinetron ini di Indosiar. Demi mengejar rating ya sampai segitunya. Miris juga kenapa sinteron yang gak mendidik seperti ini banyak disukai emak-emak (nggak semua emak-emak sih) tapi ya ada saja emak-emak yang doyan nonton sinetron yang alur ceritanya ngeselin kayak gini.. Pantesan juga banyak mamah2 muda yang larinya nonton drakor ketimbang sinetron dalam negeri sendiri karena kualitanya beda jauh seperti yang juga sudah diulas di atas.

    BalasHapus
  23. rasa rasanya produser gak akan gambling dengan memproduksi sinetron yang "aman", karena sinetron yang mengandung nilai kontroversi lebih laku di negara kita ini...

    BalasHapus
  24. iya nih, keterlaluan produsernya
    biasanya ada tekanan dari atasan (pemilik tv) untuk dapat cuan banyak
    biasanya ya bikin sinetron kontroversi kayak gini
    makin aneh dan bisa dihujat, ya makin naik viewsnya
    padahal ya gak ada kualitas

    BalasHapus
  25. Duh lihat para pemainnya kok udah gimana duluan ya,, scr yg sering tayang di FTV setiap hari kecuali si Zahra nya ini. Tp selamat deh buat sutradara & orang² yg behind the scenes sinetron Zahra ini,, bagaimana pun kan mereka sudah berkarya.

    BalasHapus
  26. Sebagai anak yang Ibunya demen banget semaleman nonton IKATAN CINTA demi mas Aldebaran

    hahaha......sempet tertawa ngakak pas baca kalimat diatas....

    alhamdulillah hingga saat ini emak gue ga doyan nonton sinetron

    BalasHapus
  27. Sangate setuju dengan paragraf terakhir. Hehe... Saya pun lebih memilih menonton di platform lain seperti we tv, Disney Hotstar ketimbang nonton tayangan tv yang seperti itu

    BalasHapus
  28. Saya udah lama nggak ngikutin perkembangan sinetron di Indonesia. Karena dulu yang suka nonton sinetron cuma ibu. Sejak ibu meninggal otomatis ga ada yang nonton sinetron deh.

    Dan tahu kasus Zahra ini karena ramai di instagram. Semua poin yang ditulis di atas, saya jelas sangat setuju banget.

    BalasHapus
  29. Saya termasuk yang malas liat sinetron, jadi gak tau perkembangan persinetronan di Indonesia kaya gimana. Kalo sepintas sih rata rata sinetron Indonesia jln ceritanya itu diambil dari Drakor atau film India. Bener gak gitu?

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email