Cerita Bulan Ramadhan, Mortal Kombat, dan Pac-Man

11 komentar

game jadul
© VectorStock/filata

Terlahir sebagai anak perempuan satu-satunya dalam keluarga, saya sebetulnya sudah terbiasa untuk bermain dengan laki-laki. Apalagi dalam satu generasi keluarga besar, sepupu saya kebanyakan memang kaum Adam.

Tidak hanya dengan sepupu, kakak dan adik kandung saya saja laki-laki yang membuat alat-alat permainan bocah pria lebih sering saya lakukan. Saya masih ingat waktu masih TK atau SD gitu, saat Ibu saya harus menjalani operasi usus buntu, Ayah membelikan mainan untuk saya dan kakak (adik saya waktu itu belum lahir hehe, dia anak gen Z).

Saat kakak saya memilih dua kotak puzzle berukuran A3, saya justru langsung mengambil action figure keluaran Bandai yakni Red Dragon Thunderzord. Kalau kamu terbiasa menonton series Mighty Morphin Power Rangers seperti saya, tentu zord milik Ranger Merah yang satu ini jelas bukanlah hal asing.

action figure Red Dragon Thunderzord
action figure Red Dragon Thunderzord

Dengan action figure itu, saya betah bermain berjam-jam sendirian bersama tumpukan LEGO, tanpa menanyakan kapan Ibu pulang karena harus inap beberapa hari usai dioperasi. Ayah tahu bahwa action figure jauh lebih menarik hati saya daripada boneka Barbie. Saya terakhir kali dapat Barbie ketika masih TK dan berakhir dengan semua rambut Barbie saya cukur gundul.

Sejak itulah orangtua memutuskan kalau saya memang prefer bermain dengan alat-alat mainan bocah laki-laki daripada perempuan pada umumnya.

Kebiasaan ini pula yang tanpa sadar membuat diri saya jauh lebih menyukai main game di konsol SEGA kami, daripada kumpul dengan anak tetangga main rumah-rumahan atau masak-masakan. Apalagi saat sepupu dari luar kota datang setiap libur Ramadhan, dua konsol SEGA yang dibelikan Ayah saat bekerja di Hong Kong yakni SEGA Genesis dan SEGA Mega Drive 2, tak akan pernah istrirahat. Saya ikut antri dengan sepupu laki-laki, bergiliran main game.

Game Jadul dan Nostalgia ’READY PLAYER ONE’

Lantaran saya dan kakak begitu suka main SEGA, waktu itu kami memiliki banyak sekali kaset-kaset game 16bit. Beberapa game jadul yang begitu saya suka mainkan kala itu adalah Sonic the Hedgehog 2, Streets of Rage II, Revenge of Shinobi, Castle of Illusion, Golden Axe II, OutRun, Quackshot Starring Donald Duck, Desert Strike, Aladdin, Super Street Fighter II, Dragon Ball Z, Contra dan ah tentunya, Ultimate Mortal Kombat 3.

Saat Ayah mengeluarkan konsol itu waktu libur sekolah, saya bahkan betah berjam-jam sambil rebahan di depan TV untuk bermain game. Jangan lupakan betapa marahnya Ibu karena saya dan kakak sampai belum mandi seharian atau lupa mengaji karena sibuk gaming.

Jika disuruh memilih dari kaset-kaset game di atas, bisa dibilang kalau Ultimate Mortal Kombat 3 adalah yang paling saya sukai.

tampilan game Ultimate Mortal Kombat 3
tampilan game Ultimate Mortal Kombat 3

Game bergenre fighting yang sudah dirilis pada tahun 1996 untuk konsol SEGA Genesis itu memang candu. Saya bahkan sampai berantem sebelum tidur dengan kakak karena terlalu terbawa pertempuran di arena. Jika karakter favorit kakak saya adalah Noob Saibot, maka andalan saya adalah Shang Tsung.

Lantaran terlalu tergila-gila pada Ultimate Mortal Kombat 3, kami bahkan punya buku khusus yang memuat cheat jurus Brutality ataupun Fatality.

Sungguh betapa totalitasnya saya waktu itu, haha.

Jika ada yang bilang jauhkan anak-anak dari game bermuatan kekerasan karena bisa mempengaruhi psikologisnya, saya dan kakak beruntung tidak mengalami hal itu. Kami terbiasa melihat adegan sadis di Ultimate Mortal Kombat 3 dan tidak berminat untuk melakukannya, bahkan kepada hewan lebih-lebih sesama manusia.

Bagi kami, bermain SEGA adalah kebahagiaan yang sangat dinanti.

Ayah membiarkan kami sama sekali tidak belajar. Sesuatu yang sangat saya sukai.

Satu-satunya hal yang bisa menghentikan SEGA itu adalah ketika malam takbiran tiba. Saya dengan kelompok ngaji di kampung waktu itu, akan melakukan takbir keliling dengan membawa obor sambil mengumandangkan kalimat tasbih, tauhid dan takbir memuja Allah SWT.

Sebuah momen yang ternyata sangat begitu saya rindukan saat ini.

Bahkan jika ada yang bertanya, apa momen Ramadhan paling berkesan untukmu?

Saya akan tegas menjawabnya: Waktu-waktu saya bermain SEGA setelah sahur sampai Ashar, dan tentunya malam takbiran. Kedua peristiwa di mana saya yang masih bocah itu merasakan esensi kemenangan di bulan suci.

Dan tahun-tahun pun berlalu, saya beranjak dewasa. SEGA akhirnya saya tinggalkan karena kesibukan menjalani sekolah dan bertemu dengan teman-teman baru. Teknologi yang makin berkembang memang tak pelak membuat SEGA Genesis dilupakan. Namun tidak dengan kegemaran saya bermain game.

Ketika sekolah menengah, gaming berpindah ke konsol berbeda yakni PC. Pilihan saya jatuh ke game online bergenre MMORPG, Ragnarok Online (RO). Dirilis oleh Gravity, RO adalah cara saya memperoleh kewarasan di masa remaja.

Namun lagi-lagi karena usia bertambah, kesibukan sekolah dan akhirnya terjun ke dunia kerja, kebiasaan saya bermain game semakin tergerus kapitalisme. Menjadi budak korporat adalah keharusan demi bertahan hidup di dunia orang dewasa yang ternyata tidak semudah menaikkan level game.

Hingga kemudian kerinduan mendalam atas game-game jadul pun muncul saat READY PLAYER ONE dirilis tahun 2018 lalu. Film arahan Steven Spielberg itu begitu membangkitkan nostalgia atas game dan film jadul. Saya bahkan ikut tenggelam dengan petualangan Parzival alias Wade Watts (Tye Sheridan) di dunia virtual-augmented reality OASIS.

adegan READY PLAYER ONE saat Wade ada di dunia OASIS
adegan READY PLAYER ONE saat Wade ada di dunia OASIS

Ernest Cline selaku penulis skenario membenamkan banyak sekali easter egg dalam READY PLAYER ONE entah dari game, komik atau film. Mulai dari mobil DeLorean yang dikendarai Parzival. Kemudian ada Zemeckis Cube yang dibeli Parzival usai meraih kunci pertama sehingga membuatnya mengembalikan waktu satu menit ke belakang, semuanya jelas mengacu ke film BACK TO THE FUTURE (1985).

Jangan lupa juga bagaimana pemakaman James Halliday (Mark Rylance) alias Anorak Sang Maha Tahu, mengambil referensi STAR TREK, termasuk peti matinya yang begitu mirip milik Spock di STAR TREK II: THE WRATH OF KHAN (1982).

Cline juga membubuhkan beberapa pop culture game seperti stiker ceri dari Pac-Man di visor OASIS-nya Samantha Cook (Olivia Cooke) pemilik avatar Art3mis, Halliday yang mengenakan t-shirt Space Invanders, Duke Nukem yang berhasil dikalahkan Aech alias Helen Harris (Lena Waithe) saat PVP.

Dan ooh, epic-nya pertempuran final saat seluruh pemain OASIS berkumpul di planet Doom, siapapun tentu antusias saat banyak karakter film yang bermunculan. Mulai dari avatar Iron Giant yang dipakai Aech, Gundam yang digunakan oleh Daito alias Toshiro (Win Morisaki), munculnya Kraken, Hiccup dan Toothless, Gipsy Danger, Tokka, Chucky, Optimus Prime, Bumblebee, Snake Eyes, Katniss Everdeen, Harry Potter, Gandalf, Chun Li, Ryu, Kitana, Sub-Zero sampai T-1000 dan T-101.

Saya tak bisa menolak bahwa READY PLAYER ONE berhasil menemukan kembali sebuah kotak usang di hipppocampus dalam otak saya, yang selama ini tersimpan, berdebu dan tak dipedulikan. Sebuah kotak yang menyadarkan betapa game, pernah dan akan selalu membuat saya benar-benar bahagia.

Pensiun dan Kerinduan Main Game

Pandemi Covid-19 yang memaksa siapapun melakukan adaptasi perilaku sosial, sebetulnya bukanlah masalah berarti bagi saya. Setelah resign dari pekerjaan lama di tahun 2016 lalu, saya memilih jadi freelancer selama lima tahun terakhir dan sudah terbiasa kerja online di rumah.

Hanya saja saya tak menampik kalau pandemi membuat pikiran tidak tenang.

Kabar buruk wabah corona, berita kematian setiap harinya, kecemasan tak dapat orderan job hingga kekhawatiran Covid-19 dialami orangtua, membuat saya sedikit banyak mengalami tekanan mental.

Dalam waktu inilah game menjadi salah satu solusi terbaik. Bahkan sekalipun saya ’dipaksa’ pensiun gaming karena keadaan, game kembali memanggil dengan lantang.

Hanya saja karena dua konsol SEGA keluarga kami sudah rusak, PC yang meskipun sudah Intel Core i3 tapi karena berusia lebih dari satu windu, membuatnya tak sanggup dipasang game spesifikasi berat, serta smartphone yang sedikit ’kentang’, membuat saya cukup kesulitan memilih game yang menyenangkan.

Beruntung, saya menemukan hidden gems di internet yakni situs penyedia game-game online gratis bernama plays.org.

Tak perlu ribet diunduh pada smartphone atau PC, kamu tinggal masuk ke website resmi Plays lalu memilih salah satu game paling favorit. Ada banyak sekali genre dan kategori game yang disediakan seperti game tentang petualangan, arcade, kesenian, olahraga, balapan, adu taktik sampai asah otak.

Tampilan Pac-Rat
Tampilan Pac-Rat

Salah satu favorit saya adalah Pac Rat yang dari namanya saja kamu tentu tahu jika game ini terinspirasi dari Pac Man. Yap, salah satu game jadul 16bit favorit saya di SEGA Genesis itu memang nggak pernah ada matinya. Suaranya yang begitu khas dan gameplay memakan apapun di depannya sambil menghindari musuh, membuat saya tanpa sadar menghabiskan waktu lama dengan Pac Rat.

Kadang di sela-sela bekerja atau istirahat, saya langsung mengarahkan gawai untuk bermain Pac Rat. Ikutan sebal saat akhirnya ditangkap musuh sampai antusias saat naik level, membuat saya sedikit banyak lupa pada kepenatan hidup.

Bagi saya, game memang lebih dari sekadar permainan belaka. Game adalah dunia yang membuat pikiran saya tenang, diri jadi makin kompetitif dan puas luar biasa.

Sebuah antusias yang rasa-rasanya saya harap, bakal bisa merasakannya seumur hidup. Bahkan jika saya sudah menikah dan punya anak nanti, saya masih ingin main game dengan buah hati kelak.

Tentu akan sangat menyenangkan!

Arai Amelya
I'm a driver, never passenger in life
Terbaru Lebih lama

Related Posts

11 komentar

  1. Hey, Arai!

    Aduh, tetiba jadi inget SEGA aku tuh, zaman SD tahun nggak enak pokoknya, wkwk.. Game Kingkong, Sonic, dkk.

    BalasHapus

  2. Wah sepertinya seru ya main game, memang keseruan menikmati sesuatu satu orang dengan orang lain akan berbeda, seperti saya yang suka memasak dan merawat tanaman yang menurut saya asyik banget.

    BalasHapus
  3. Aku jadi kangen banget ngegame. Jaman SD suka ngegame di platform apapun. Jadi familiar sama game2 di atas. Ah jadi pingin ngegame lagi :') agendakan ah buat nostalgia.

    BalasHapus
  4. Ya ampun SEGA? aku jadi inget kakakku yg suka bgt nongkrong di rentalan game, lalu main game di sana dan aku jadi tukang nyari nyari disuruh ortuku.

    BalasHapus
  5. Pacman, dulu TV yang ada oac man nya kayaknya keren banget hehehe

    BalasHapus
  6. Pac Man, favorit banget deh, dan nggak pernah bosen maininnya.

    BalasHapus
  7. Wakakak pacman itu mainanku waktu kecil. Keknya sery banget ya 😂

    BalasHapus
  8. Mortal kombat ini dlu pernah juga kumainkan lewat SPICA wkwkwk inget ga tuh, waktu nintendo masih mahal, kami belinya SPICA, dimaeninnnya gantian. Pacman juga seruuuu, maen di game pc sampe yg cepet banget larinya

    BalasHapus
  9. waaaa tau ku cuma pacman mbak hihii.. selalu bisa jadi hiburan yaa, sekarang lewat hp juga udah ada :)

    BalasHapus
  10. masya allah tiap mampir ke mbak arai aku selalu merasa muda hwkakaka mainan mcam gini mana paham , tapi membaca ulasannya aku jadi tahu oh gini toh yang lagi digandrungi anak2. terus aku nostalgia sama game jadulnya hihih

    aku juga merasa butuh mainan game kayak mbak arai deh biar lebih loss..sejak resign rasanya gelut dengan urusan domestik membuat otak mendidih juga haha amakany aku sekg ngeblog salah satunya melpeas hormon stress hwkakaka di rumah saja

    BalasHapus
  11. pacman aku mayan tahu mbak, tapi dari kecil nggak pernah ngegames aku eheheh
    karena gak ada medianya, sampe sekarang juga gak bisa ngegames. Paling yang gampang2 baru bisa

    BalasHapus

Posting Komentar