Hikayat Pala, Primadona Jalur Rempah dari Negeri di Bawah Angin

20 komentar

pala buah surga
Saat memandang untuk kali pertama, banyak orang yang salah menyebutku sebagai buah duku. Padahal kalau diamati seksama, aku punya ukuran yang lebih besar. Bentukku bulat lonjong dan kamu bisa mencium aroma minyak atsiri yang menguar, serta memberikan ciri khas pada diriku. Ilmuwan memberikan nama yang begitu cantik yakni myristica fragrans padaku, tapi kalian bisa menyebutku sebagai pala.

Sebagai rempah asli Indonesia, aku bisa dengan mudah kalian temukan di masakan gulai, kari bahkan semur daging yang mungkin kerap kalian santap sehari-hari. Aroma harum yang kuhasilkan dengan ciri khas agak pedas, membuatku mampu menguatkan rasa sampai memberikan efek menghangatkan. Kemampuan yang akhirnya membuatku diburu sepanjang sejarah.

Bukan bermaksud sombong, bersama-sama dengan cengkih, aku bisa dibilang sebagai salah satu penggerak roda bangsa ini. Roda bangsa yang perjuangannya sudah dimulai sejak ratusan tahun lalu. Aku adalah saksi bisu bagaimana masyarakat Zamrud Khatulistiwa ini hidup makmur, jatuh terpuruk, menyerah dan bangkit kembali.

Lewat diriku dan rekan-rekan rempahku yang lain, negeri ini menorehkan tinta emas dalam catatan sejarah peradaban manusia di semesta ini. Semua bermula saat orang-orang dari berbagai belahan Bumi lain berlomba-lomba melintasi samudera ke arah timur, yang akhirnya menemukan sebuah negara kepulauan yang begitu luhur, bernama Indonesia.

Ceritaku yang Melintasi Ruang Sejarah Manusia Bumi

sebaran rempah Nusantara

Ada yang bilang kalau aku adalah buah emas.

Bukan sekadar metafora karena memang di masa lampau, nilaiku bahkan lebih berharga daripada emas atau minyak Bumi sekalipun. Namun sebutan buah emas ini memang benar-benar merujuk secara harfiah, lantaran aku bisa mencapai warna kuning keemasan saat mencapai separuh usia.

Eits, kalian tidak bisa memetikku ketika masih setengah ranum.

Kalian hanya boleh memanen pala saat warna kulitku sudah menjadi kuning kemerahan dengan bagian biji yang terbungkus salut biji (arillus) alias fuli (mace). Tidak bisa langsung dikonsumsi, bagian biji pala yang dimanfaatkan manusia untuk berbagai kebutuhan ini butuh waktu yang cukup panjang sebelum diperdagangkan.

Aku harus melewati masa pengeringan selama 6-8 minggu sampai bagian biji menyusut lalu pecah, dan kemudian bagian di dalam biji itulah yang begitu berharga.

Terdengar sangat panjang proses yang harus kulewati sebelum akhirnya aku bisa digunakan dalam berbagai kudapan entah makanan, minuman, atau obat-obatan?

Ahh, itu tidaklah sepanjang perjalananku dalam melintasi ruang-ruang kehidupan manusia di Bumi ini.

Percayakah kalian kalau aku ini merupakan buah yang jatuh dari surga?

Bahwa Tuhan memang sengaja membuatku untuk diletakkan di Indonesia?

Dalam bukunya yang berjudul Suma Oriental (1944), Tomé Pires sempat mengutip peribahasa para pedagang Malaka yang begitu memuja diriku sebagai anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Peribahasa itu berbunyi:

‘Tuhan menciptakan Timor untuk pohon cendana. Maluku untuk cengkih. Banda untuk buah pala. Barang dagangan ini tidak bisa ditemukan di tempat lain di seluruh penjuru Bumi, kecuali di tiga tempat tersebut’

Dan di pulau yang sering disebut sebagai Banda Neira itulah aku tumbuh dengan luar biasa melimpah.

Kalian harus tahu bahwa di seluruh pelosok Bumi ini, aku hanya bersedia tumbuh dengan kualitas terbaik di Banda saja. Paduan dari lokasi yang terpencil, tanah yang subur dan lumayan kering dalam iklim tropis yang kerap diguyur hujan, adalah kondisi spesifik yang aku butuhkan. Kenampakan alam yang mungkin hanya bisa ditemukan di Banda.

Dan dari pulau yang pernah jadi tempat pembuangan tahanan politik Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda seperti Sang Proklamator Mohammad Hatta, Sutan Syahrir dan Cipto Mangunkusumo itulah, aku berpetualang ke seluruh penjuru Planet Biru. Menumpang kotak demi kotak para saudagar, berpindah dari satu kapal ke kapal lain, hingga akhirnya mencapai meja-meja makan mewah milik para Kaisar, Raja dan bangsawan.

Yap, jauh sebelum bangsa Eropa singgah ke Indonesia, ribuan tahun lalu aku sudah melintasi rute perjalanan yang menghubungkan antarpulau, suku dan bangsa. Rute kuno bernama Jalur Rempah inilah yang akhirnya mengenalkan Nusantara dengan dunia sekaligus cikal bakal budaya bahari.

Di mana melalui Jalur Rempah itulah, aku dan rekan-rekan rempah asli Indonesia lainnya berlayar hingga ke Asia Selatan dan Afrika Timur.

Tidak hanya itu saja, Jalur Rempah juga membawaku singgah ke Tiongkok serta India. Banyak biarawan Tiongkok menaiki kapal-kapal Nusantara demi belajar agama Buddha di Sriwijaya (Suvarnadvipa). Ketika Sriwijaya, Singosari, Mataram Hindu hingga Majapahit berkuasa di Tanah Air, aku adalah saksi bisu sejarah itu berganti.

biji pala terbungkus fuli
biji pala terbungkus fuli

Rakyat-rakyat jelata kerap mendamba memperolehku sementara para Tuan Tanah memberikanku sebagai upeti kepada sang penguasa. Semua ini sudah kujalani bahkan sejak 4.500 tahun lalu. Artinya, aku sudah ada di Bumi ini selama empat milenium dan menjadi magnet utama mata dunia tertuju ke negeri ini.

Kalau ada yang bilang aku si biji pala ini baru terkenal karena campur tangan para penjajah Portugis, itu jelas salah besar. Pedagang-pedagang lokal sudah aktif dalam jaringan perdagangan dunia yang membuat rempah-rempah Negeri Seribu Pulau sepertiku ini telah termahsyur hingga ke dataran Eropa, bahkan sebelum mereka mengenal ada wilayah yang begitu subur bernama Nusantara.

Kala itu orang-orang Timur Tengah menyebutku sebagai harta dari Negeri di Bawah Angin. Julukan ini sendiri sebetulnya merujuk ke Indonesia yang merupakan daerah bertemunya angin antar tropis. Bahkan dalam Hikayat Raja-Raja Pasai dan Sejarah Melayu, bentang alam Sumatera hingga Maluku disebut sebagai Tanah di Bawah Angin.

Kalian patut berbangga, Zamrud Khatulistiwa ini memang ada di posisi yang luar biasa strategis. Menghubungkan Samudera Hindia dengan Laut China Selatan, Asia Timur dengan Asia Barat hingga Timur Tengah, hingga tentunya Afrika dan Eropa nun jauh di belahan Bumi barat sana.

Ahh, aku jadi ingat bagaimana Jack Turner menjelaskan petualangan luar biasaku dalam bukunya yang berjudul Spice, The History of a Temptation (2005):

‘Tidak ada rempah-rempah yang menempuh perjalanan lebih jauh ataupun lebih eksotis daripada pala dan cengkih. Setelah panen di Banda atau di bawah bayangan gunung vulkanik Ternate dan Tidore, rempah melintasi pulau-pulau di Nusantara.

Dibawa juga oleh pedagang China yang sudah berdagang di Maluku sejak abad ke-13. Rempah bergerak ke barat, dikapalkan menuju pasar rempah di Malabar, lepas pantai India.

Komoditas itu kemudian dikirim dengan kapal Arab menyeberangi Samudera Hindia menuju Teluk Persia atau Laut Merah dan singgah di banyak pelabuhan-pelabuhan tua. Rempah lalu dialihkan ke karavan besar menyusuri gurung pasir, menuju pasar-pasar di jazirah Arab, Alexandria dan Levant. Ketika rempah mencapai perairan Mediterania, mereka pun tiba di tangan bangsa Eropa’

Mantra Gold, Glory, Gospel Saat Memburu Sang Biji Banda

jalur rempah pala
Posisiku sebagai komoditas dagang penting, sepertinya baru tercatat perkamen sejarah secara resmi pada abad ke-6. Kala itu Kekaisaran Byzantium atau Kekaisaran Romawi Timur berkuasa di Konstantinopel pada Abad Kuno dan Pertengahan. Berada di kota terbesar sekaligus termakmur di benua Eropa kala itu, artinya aku sudah menempuh jarak 12 ribu kilometer dari pulau Banda.

Empat abad kemudian atau sekitar tahun 1.000 Masehi, Sang Bapak Kedokteran Modern yakni Ibnu Sina berjumpa denganku dan menyebutku sebagai jansi ban alias biji Banda.

Dokter kelahiran Persia (sekarang disebut Iran) itu bisa bertemu denganku karena pada masa itu, masyarakat Arab menggunakan pala sebagai barang barter. Seperti yang kubilang tadi, aku si buah surga ini pernah memegang kendali dalam sebuah transaksi.

Dari Jazirah Arab sana, aku akhirnya melanjutkan perjalananku ke Venesia di Italia karena bangsawan-bangsawan Eropa begitu menyukaiku sebagai tambahan perasa pada masakan mereka.

Aku boleh berbangga karena masyarakat Eropa begitu tergila-gila padaku. Bahkan sekitar abad ke-14 di Jerman, harga satu pon alias setengah kilogram pala sama dengan tujuh ekor lembu gemuk. Sebuah transaksi yang sudah pasti membuktikan betapa mahalnya diriku.

Sebagai komoditas rempah yang dianggap luar biasa, para penguasa pun mulai memburuku. Sebuah momentum yang nantinya membawaku ikut menggerakkan roda sejarah umat manusia di Bumi ini.

Semua dimulai ketika Konstantinopel berhasil ditumbangkan oleh bangsa Turki Ottoman di tahun 1453 dan mengubah nama ibukota Byzantium itu jadi Istanbul. Kebangkitan Turki Ottoman memicu embargo perdagangan di sepanjang wilayah mereka sehingga membuat pedagang-pedagang Arab dan Venesia enggan melakukan monopoli rempah.

Hal ini akhirnya memicu orang-orang Eropa yang memang begitu membutuhkan diriku, mencari rute perdagangan baru ke arah timur, ke East Indies (nama Indonesia di masa penjajahan). Semua ini terjadi karena banyak literatur milik Kekaisaran Romawi Kuno menyebutkan kalau mereka membeli rempah-rempah milik pedagang Arab seperti kayu manis, lada dan pala dari India serta East Indies.

Dan berawal pada abad ke-15, perburuanku sebagai komoditas berharga yang bahkan dianggap setara emas dan sutra kelak akan membuatku tenggelam dalam pusaran darah manusia.

Darah-darah yang harus tumpah karena mantra bangsa Eropa kala itu yakni Gold, Glory dan Gospel. Para penjelajah samudera yang awalnya bertujuan mencari dunia baru itu adalah gerbang dari praktek kolonialisme dan imperialisme yang dimulai oleh Spanyol dan Portugis.

Setelah Perjanjian Tordesilas disepakati di akhir abad ke-14 oleh kedua kerajaan Katolik paling berpengaruh di Eropa tersebut, mereka pun berbagi kekuasan. Portugis yang berhak atas dunia timur pun memulai penjelajahan samudera sembari memperoleh kekayaan (gold), kejayaan (glory) dan menyebarkan agama Katolik (gospel) yang kemudian menuju Nusantara.

Melintasi rute kuno Jalur Rempah, misi besar mencapai tanah kelahiranku pun membawa Alfonso de Albuquerque ke Malaka dan Banda di tahun 1511. Kedatangan Portugis yang awalnya tergiur pada hargaku yang tinggi di pasaran dunia itu, akhirnya turut memetakan Negeri di Bawah Angin dalam jaringan perdagangan global.

Pala si Pemicu Perjuangan Bangsa Indonesia

ilustrasi bongkar muat komoditas di pelabuhan Nusantara
lukisan bongkar muat komoditas di pelabuhan Nusantara

Berkat de Albuquerque sang jenius militer Portugis itu, sebuah benteng pun dibangun di Banda. Aku masih ingat bagaimana benteng yang terbuat dari kayu itu dibangun, seolah menjadi bukti kokohnya aksi monopoli Portugis atas pala di jaringan perdagangan dunia.

Lewat aroma semerbak minyak atsiri yang mampu menguatkan rasa, kemampuanku memberikan efek hangat dan harga jualku yang begitu menggiurkan, mengundang penjelajah-penjelajah Eropa lain ke Kepulauan Banda,.

Hingga akhirnya aku bertemu dengannya, si penjelajah yang membuat negeri ini harus rela dijajah Belanda selama 3,5 abad lamanya.

Pria yang namanya paling sering diperbincangkan dalam sejarah Indonesia.

Cornelis de Houtman.

Bersama adiknya Frederik, Cornelis si pedagang Belanda yang pernah dipenjara Portugis karena mencuri rute rahasia menuju Hindia Timur tempatku berada, ditunjuk sebagai pemimpin empat kapal dagang bernama Verre Company. Kala itu kedatangan pedagang-pedagang Belanda di Nusantara disambut dengan baik karena mereka bersikap ramah.

Namun banyaknya kapal dagang Belanda yang datang ke Nusantara membuat harga rempah-rempah pun anjlok. Hingga akhirnya di tahun 1601, VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie) alias Perusahaan Dagang Hindia Timur pun terlahir.

VOC inilah yang akhirnya membuat nasib orang-orang yang menanamku menjadi begitu suram.

Upaya ingin melindungi harga rempah pun membuat VOC gelap mata dan bersikap brutal. Apalagi saat desas-desus menyebutkan jika aku diyakini bisa menjadi obat berbagai penyakit termasuk wabah pes yang tengah menghantui Eropa, membuat VOC nekat melakukan berbagai upaya.

lukisan pembantaian warga Banda oleh VOC
lukisan pembantaian warga Banda oleh VOC

Aku melihat bagaimana VOC membantai orang-orang asli Banda demi menguasai perkebunan pala. Bahkan ambisinya untuk memonopoliku dan teman-temanku membuat Belanda rela menukar Nieuw Amsterdam (kini dikenal sebagai New York), salah satu koloni mereka dengan Pulau Rhun, tanah kelahiranku yang dikuasai Inggris.

Ya, Rhun adalah salah satu bagian dari Kepulauan Banda yang merupakan penghasil pala terbesar di dunia.

Tak berhenti di situ, aku melihat bagaimana VOC dengan tegas membakar puluhan ribu pohon-pohonku dan membuatku jadi korban kerakusan mereka. Aku dan teman-temanku di Pulau Lonthoir, Ay dan tentunya Rhun pun hangus menjadi abu yang memang merupakan tujuan mereka, agar pulau-pulau itu tidak diminati bangsa Eropa lainnya. Belanda bahkan melarang ekspor pohon pala sampai membasahinya dengan jeruk nipis, supaya jadi tidak subur.

Datangnya 2.000 tentara Belanda ke Banda adalah sebuah pembantaian massal yang membuat berkurangnya penduduk hingga 1.000 orang. Penduduk yang tersisa pun diperbudak lewan jalan kekerasan oleh VOC dengan tujuan yang masih sama, sebagai penguasa mutlak perkebunan pala.

Demi mempertegas kekuasaannya, Belanda sampai membangun Benteng Nassau di Banda Naira pada tahun 1607. Berdiri di bekas pondasi benteng Portugis, benteng itu adalah saksi bisu sejarah Jalur Rempah yang kini bisa kalian temui puing-puingnya. Nassau jelas hanya satu dari banyaknya benteng yang dibangun oleh VOC di Banda.

benteng Balgica/Nassau di Banda Neira
benteng Balgica/Nassau di Banda Neira

Benteng Nassau sama sepertiku yang hanya bisa diam mengamati bagaimana para penjajah ini menjarah hasil Bumi Nusantara untuk kantong-kantong mereka sendiri, tanpa peduli jiwa-jiwa penduduk asli Banda yang melayang.

Namun perdagangan rempah tidaklah hanya membawa kisam suram. Justru perburuan pala hingga ke Kepulauan Banda ratusan tahun lalu itu bisa menghubungkan pribumi dengan bangsa-bangsa di belahan Bumi lainnya.

Karena berkat mereka, negeri ini pun akhirnya tercipta,

Seperti yang kubilang bahwa aku sudah menjejak di dalam roda sejarah umat manusia, aku bisa dengan bangga mengklaim jika karena pesonaku si pemilik aroma sepanjang zaman, kolonialisme pun terbentuk di Nusantara. Kolonialisme alias penjajahan yang terjadi ratusan tahun lamanya itupun menghidupkan api semangat rakyat pribumi untuk bersatu padu memukul mundur penjajah.

Sebuah aksi perjuangan yang mungkin tak akan terjadi jika negeri ini masih berupa kerajaan-kerajaan kecil seperti Kerajaan Ternate atau Kerajaan Tidore.

Karena lewat satu kesatuan warna yang sama yakni Merah dan Putih, aku melihat bagaimana putra dan putri bangsa ini meruntuhkan kolonialisme dan menjadikan bangunan-bangunan yang ditinggalkan para penjajah itu sebagai artifak sejarah di sepanjang Jalur Rempah.

prasasti ditemukan di puing benteng Nassau
prasasti ditemukan di puing benteng Nassau

Pala dan Jalur Rempah untuk Warisan Masa Depan Dunia

Aah, tanpa sadar aku sudah bercerita terlalu panjang lebar. Kuharap kalian tidak terlalu bosan membaca hikayat panjang yang sudah kurampingkan dari berbagai serat-serat sejarah ini.

Satu keinginanku saat ini ialah kalian akan melihatku secara berbeda, tidak hanya sekadar bumbu dapur yang dijual di pasar tradisional.

Aku pala si buah surga dari pulau Banda ini adalah rempah yang istimewa.

Aku adalah penghela perkembangan politik, ekonomi hingga sosial budaya baik dalam lingkup lokal hingga global.

Perjalananku sudah melalui pertaruhan nyawa para pedagang yang menjemputku dari Banda dan dibawa ke benua Eropa, perjuangan juru-juru masak dalam meramuku untuk melezatkan hidangan, hingga usaha tabib-tabib yang menggunakanku sebagai obat.

Aku adalah pengrajut diplomasi antar manusia dan antar bangsa itu sendiri, sehingga peradaban manusia di Bumi ini berjalan.

lukisan kapal-kapal pembawa komoditas Banda
lukisan kapal-kapal pembawa komoditas Banda

Sedikit banyak demi memperoleh diriku secara langsung, sistem pelayaran modern pun dikenal. Ketertarikan manusia akan aroma diriku yang begitu candu, turut mengubah wajah-wajah negara di Eropa yang menganut sistem monarki feodal menjadi negara progresif.

Dan semua khazanah yang ada di dalam diriku ini jelas tak akan bisa termahsyur seantero Bumi tanpa adanya Jalur Rempah.

Rute kuno yang diwariskan ribuan tahun lalu itu adalah identitas Indonesia.

Jika Tiongkok begitu ambisius dengan One Belt Initiative yang bernilai ratusan triliun demi mengenalkan kembali Silk Road alias Jalur Sutra yang menjadi rute perdagangan mereka, kenapa kita tidak mulai berbangga diri dengan Jalur Rempah?

Jalur Rempah bukanlah sekadar jalur perdagangan samudera. Namun itu adalah jalur pertukaran antarbudaya dan pengetahuan yang bahkan melintasi ruang dan waktu.

Kini aku yang tumbuh subur di Pulau Banda, siap mengulurkan tangan pada kalian generasi penerus bangsa. Mengajak untuk tetap selalu berpijak pada Jalur Rempah, demi memupuk rasa persaudaraan sekaligus perdamaian.

Karena lewat Jalur Rempah itulah, aku yang sudah mengarungi empat milenium waktu ini sadar bahwa semangat keadilan, kesetaraan, pemahaman antarbudaya dan pengakuan atas keberagaman tradisi, sekaligus menjunjung tinggi harkat martabat manusia adalah yang terpenting.

Jalur Rempah tidak hanya menguatkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Namun Jalur Rempah adalah pembentuk peradaban Nusantara.

Menghargai Jalur Rempah, artinya kalian ikut menghargai aku si biji pala dan rempah-rempah asli Indonesia lainnya.

Jadi, siapkah kalian menjaga warisan tersebut untuk generasi masa depan negeri yang lebih baik nantinya?

 

 

Sumber:

  • Media Indonesia
  • Jalur Rempah Kemdikbud
  • Kompas
  • Tempo
  • Kemenparekraf
  • Historia
  • Jawapos
  • Good News From Indonesia

Arai Amelya
I'm a driver, never passenger in life

Related Posts

20 komentar

  1. Konsep tulisannya menarik dengan POV akunya si Pala. Jadi bisa belajar sejarah rempah ini dengan seru. Ini lomba kan ya? Semoga menang ya Kak

    BalasHapus
  2. Saya suka sekali gaya menulis, Mbak. Mengambil sudut pandang dari si Pala. Dan saya ingat di Museum Bank Indonesia Kota Tua Jakarta, ada juga diorama perjalanan jalur rempah ini, dan pastinya, Pala jadi pemain utamanya hehehe.
    Dulu di Makassar, saya suka dikasih manisan pala oleh teman saya. Modelnya juga menarik dan berwarna. Walau agak pahit, tapi enak dan segar hehehe. Biji pala juga untuk banyak masakan.

    BalasHapus
  3. Saya kok sedih baca ceritanya. Kebayang Aku si Buah Pala, jadi saksi sebuah komoditi. Ngeri banget lukisan rakyat Banda dibantai gitu.
    Nah, sekarang saatnya bangkit ya menguatkan jalur maritim Nusantara melalui rempah. Semoga menang artikelnya Kak...

    BalasHapus
  4. Tulisan mbk Arai ini emang juara, jadi seolah-olah beneran merasakan perjalanan si Pala dari Pulau Banda. Tapi bener loh mbak, banyak yang gak tahu dengan buah pala ini.

    BalasHapus
  5. Wah mbak kusuka banget gaya tulisanmu yang pake sudut pandang si buah pala, unik dan jarang nemu yang begitu haha. Tapi ternyata buah pala kecil itu sejarahnya panjang banget ya! Dan dia salah satu penggerak bangsa! Kuerenn.

    BalasHapus
  6. wuah aku baca tulisan ini merasa menjadi pala beneran, hahaha
    jadi paham banget dengan kisah perjalannya pala yang jaman dulu dielu-elukan

    BalasHapus
  7. Karena dirimu ikut kotak-kotak para saudagar, jadilah daku mengenalmu wahai pala. Aku berharap kamu tetap lestari ya, karena generasi penerus ini kan ingin kenalan juga denganmu, bukan daku saja. Tenang, kami siap menjagamu

    BalasHapus
  8. Aku suka story tellingnya, sudut pandangnya n gimana menambahkan visual peta dan ilustrasi zaman dahulu mengenai sejarah si pala. Semoga kita bisa lebih menghargai n bisa kembali menjadikan pala ini sebagai benda yang lebih berharga dari emas dan pertama seperti di masa lalu, tanpa penindasan penjajah terutama

    BalasHapus
  9. Keren, informasinya lengkap banget dan gaya menceritakannya menarik dengan membuat si pala seolah sebuah tokoh yang hidup.

    BalasHapus
  10. keren nih ulasannya lengkap.. semoga menang ya..yg oasti saya suka pala soalnya saya suka makaroni schotel kalo pake pala harum banget dan enak

    BalasHapus
  11. Seolah membaca dongeng dengan tokoh utama si buah pala...keren mbak. Jadi kembali belajar sejarah bangsa Indonesia. Memang sebagai warga negara yang baik kita harus ikut melestarikan peradaban bangsa...termasuk melestarikan buah pala ini agar tetap menjadi khasnya Indonesia.

    BalasHapus
  12. Saya berasa main ke jaman dulu membaca cerita pala ini. Ternyata pala ini menjadi rebutan penjajah di masa lampau yaa

    BalasHapus
  13. ternyata pala itu cuma bisa bertahan hidup dan subur di Banda ya, keren sekali dia karena udah jadi bahan masakan yang mendunia dan mewah di masanya.

    BalasHapus
  14. Ya ampun dah. Abis baca novel sejarah Nusantara, aku baca blogpost ini. Rasanya makin bangga jadi orang Indonesia. Dan sebagai penggemar manisan buah pala, aku mau bilang, "Hey Arai, tulisanmu keren sekali!"

    BalasHapus
  15. lucu banget cara delivery tulisannya. jadinya kayak baca cerpen dengan tokoh utama Pala. 😁

    BalasHapus
  16. Ngalir banget ceritanya
    Pala memang anugerah Tuhan tak terbayarkan karena manfaatnya banyak pun nilai bisnis makin lancar

    BalasHapus
  17. Baru tahu pala dulu nilainya tinggi kayak emas. Auto kaya dong kalau jualan pala jaman dulu. Pantes aja penjajah ngiler banget sama hasil kekayaan rempah Indonesia.

    BalasHapus
  18. Saya malah paling mengenal banget biji pala ini soalnya sudah semacam keharusan kalau ada acara hajatan di kampung menggunakan pala saat masak besar. Jadi kadang saya kebagian mecahin biji pala untuk diulek.

    BalasHapus
  19. Bahkan sampai sekarang pun pala menurutku jadi komoditas yg mahal. Harganya 1 biji aja 2ribuan di sini. Keren bangett, ikut bangga punya pala dari Indonesia <3

    BalasHapus
  20. Menari sekali kalau sudah membahas rempah serta sejarahnya di Indonesia. Kembali mengingat jadinya

    BalasHapus

Posting Komentar