Review ‘SQUID GAME’ (2021): Mengintip Neraka dari Permainan Anak-Anak

22 komentar

Review Squid Game

Sebelum saya memulai review SQUID GAME, saya ingin mengajak kalian melintasi memori di masa kecil dulu.

Ingatkah kalian betapa menyenangkannya bermain petak umpet, bola bekel, gundu, tali karet, gobak sodor atau congklak dengan teman sebaya? Mau dimainkan saat jam-jam olahraga, sepulang sekolah, ketika libur di lapangan dekat rumah atau sebelum waktu mengaji tiba, kenangan permainan tradisional itu memang sulit terlupa bahkan tak bisa dibandingkan dengan game-game online masa kini.

Membayangkan melakukan permainan tersebut di usia dewasa tentu bakal terdengar sangat childish dan terkesan memalukan.

Namun bagaimana jadinya kalau kita diajak melakukan berbagai permainan bocah itu demi memperoleh hadiah miliaran Rupiah?

Rasa-rasanya akan banyak orang dewasa yang sangat tertarik dan berbondong-bondong mendaftar.

Tapi kalau pilihannya hanyalah menjadi pemenang atau nyawa melayang, apakah kalian masih tertarik melakukannya?

Premis mengerikan itulah yang ditawarkan dalam Korean series terbaru yang tayang di Netflix pada bulan September 2021 ini, SQUID GAME.

Sinopsis ‘SQUID GAME’

Terbentang sebanyak sembilan episode yang dirilis langsung oleh Netflix sejak 17 September lalu, review SQUID GAME fokus pada kehidupan Seong Gi Hun (Lee Jung Jae). Sebagai tipikal manusia yang gagal menjalani hidupnya, Gi Hun memang memenuhi berbagai penderitaan laki-laki dewasa.

Setelah bercerai dari istrinya (Kang Mal Geum) dan kehilangan hak asuh putri semata wayangnya, Seong Ga Yeong (Jo A In), Gi Hun hanya hidup berdua dengan Ibunya (Kim Young Ok). Terjerat hutang ratusan juta won karena gagal mengembangkan bisnis usai dipecat dari pekerjaan 10 tahun lalu, Gi Hun menghabiskan hari dengan kecanduan judi pacuan kuda.

Sialnya saat dia memenangkan taruhan, uang itu justru dicuri oleh gadis imigran Korea Utara, Kang Sae Byeok (Jung Ho Yeon). Gi Hun pun berakhir dijejar-kejar rentenir yang mengancam akan mengambil ginjalnya. Dalam kondisi di ujung tanduk itulah, dia bertemu dengan Suit Man (Gong Yoo) yang mengajaknya bermain ddakji.

Gong Yoo sang Suit Man saat bertemu Gi Hun
Gong Yoo sang Suit Man saat bertemu Gi Hun

Sempat kalah dan jadi sasaran tamparan, Gi Hun berhasil menang. Di waktu itu pula, Suit Man memberikan kartu emas dengan logo lingkaran, segitiga dan persegi pada Gi Hun, sebagai undangan untuk terlibat dalam sebuah permainan yang akan mengubah hidupnya.

Mengira penipuan, Gi Hun akhirnya menghubungi nomor telepon di balik kartu emas itu dan menyetujui ajakan bermain Suit Man. Gi Hun lalu dijemput mobil misterius, pingsan dan bangun di sebuah ruangan besar dengan jaket berwarna hijau bertuliskan angka 456 yang dia kenakan. Di tempat asing itu, Gi Hun sempat emosi saat berjumpa lagi dengan Sae Byeok pemain nomor 067, serta cukup kaget akan kehadiran teman masa kecilnya, Cho Sang Woo (Park Hae Soo) yang memperoleh nomor 218.

Gi Hun menatap Sang Woo dengan penuh emosi
Gi Hun menatap Sang Woo dengan penuh emosi

Ternyata orang-orang yang hadir di permainan itu adalah sekelompok orang dengan masalah finansial seperti dirinya. Mereka semua harus menyelesaikan enam jenis permainan yang mana jika berhasil menang, akan berhasil membawa uang 45,6 miliar won.

Di tempat sama sekali tidak dia ketahui itu, Gi Hun berkenalan dengan orang-orang malang yang kepepet lainnya. Mulai dari gangster Jang Deok Soo (Heo Sung Tae) pemain nomor 101, kakek Oh Il Nam (Oh Yeong Su) pemain nomor 001 yang menderita tumor otak dan menanti mati, perempuan manipulatif bernomor 212 bernama Han Mi Nyeo (Kim Joo Ryoung) dan pekerja migran asal Pakistan yang tidak digaji berbulan-bulan yakni Abdul Ali (Tripathi Anupam) si nomor 199.

Disangka hanya permainan biasa, mereka semua langsung shock berat saat tahu permainan pertama Mugunghwa Kkoci Pieot Seumnida atau Lampu Merah Lampu Hijau Korea berubah jadi sebuah survival game kematian. Karena pemain yang terdeteksi bergerak saat kepala patung berbalik, langsung ditembak hingga tewas.

sang patung laknat di permainan pertama 'SQUID GAME'
sang patung laknat di permainan pertama 'SQUID GAME'

Dalam waktu sekejap, hanya tinggal setengah dari jumlah peserta yang selamat bahkan Gi Hun hampir saja tewas jika tidak diselamatkan Ali. Merasa permainannya terlalu mengerikan, setengah peserta yang tersisa sepakat untuk menghentikan kematian dan kembali ke tempat asal mereka. Namun karena mereka semua adalah orang-orang yang memiliki banyak hutang, mereka pun tak berdaya dan tak punya pilihan selain kembali ke arena.

Perjalanan kembali ke arena ternyata tanpa disadari dibuntuti oleh seorang polisi muda bernama Hwang Jun Ho (Wi Ha Joon) yang mencari keberadaan kakaknya, Hwang In Ho. In Ho dilaporkan hilang tak berbekas dan cuma meninggalkan kotak berisi kartu emas undangan para peserta survival game.

Empat game berturut-turut pun dimainkan oleh peserta mulai dari dalgona/ppogi, tarik tambang, kelereng dan menyeberangi pijakan kaca. Bukannya makin mudah, permainan justru makin brutal dan membuat peserta terus berkurang entah karena tewas ditembak lantaran gagal dalam permainan, atau dibunuh oleh peserta lain maupun Front Man (Lee Byung Hun), sang pemimpin arena maut tersebut.

Sebuah nasib yang dialami oleh Byeong Ki (Yu Seong Ju) si pemain nomor 111 sekaligus dokter yang menyelundupkan organ ilegal jenazah para pemain, serta beraksi curang dengan beberapa staff. Kecurangannya itu membuat Front Man murka.

mayat-mayat pemain disingkirkan dari area
mayat-mayat pemain disingkirkan dari area

Permainan kelereng bisa dibilang yang paling mempertanyakan moral para pemain, karena saat harus dipasangkan itulah, mereka wajib jadi pemenang atau gagal jadi yang tewas ditembak. Hal pilu inilah yang dialami Ali karena dirinya dikhianati oleh Sang Woo, kakek Il Nam yang rela dikelabui oleh Gi Hun, hingga bagaimana Ji Young (Lee Yoo Mi), pemain nomor 240 yang mengalah demi Sae Byeok.

Di lain pihak, Jun Ho yang menyamar jadi salah satu staff permainan dan menyelinap ke ruang rahasia Front Man mengetahui fakta bahwa survival game ala neraka ini sudah berlangsung selama 30 tahun. Di mana kakaknya In Ho, adalah pemenang pada tahun 2015.

Berusaha kabur dari kejaran Front Man, Jun Ho pun menyelam menyeberangi pulau ke pulau lain. Masih dalam usaha mengirimkan bukti-bukti permainan keji itu, Front Man berhasil memojokkan Jun Ho. Betapa kagetnya Jun Ho saat Front Man membuka topengnya, ternyata sosok itu adalah In Ho yang kemudian menembaknya hingga jatuh dari jurang dan lenyap ditelan lautan.

Jun Ho - In Ho, adik kakak dengan nasib berbeda
Jun Ho - In Ho, adik kakak dengan nasib berbeda

Dari 16 orang yang tersisa di permainan kelima menyeberangi jembatan kaca, hanya tiga orang yang berhasil lolos ke partai puncak yakni Sang Woo, Sae Byeok dan Gi Hun karena berada di tiga urutan terakhir yang menyeberang. Namun malang saat kaca-kaca itu meledak, ada bilah kaca tajam yang menembus perut Sae Byeok. Di malam sebelum permainan puncak yakni Squid Game, Sae Byeok yang dalam kondisi kritis justru tewas dibunuh oleh Sang Woo padahal Gi Hun berusaha mencari pertolongan.

Sang Woo - Gi Hun - Sae Byeok, tiga orang peserta terakhir
Sang Woo - Gi Hun - Sae Byeok, tiga orang peserta terakhir

Bagi Gi Hun dan Sang Woo, game cumi-cumi bukanlah hal asing bagi mereka. Permainan mirip gobak sodor ini sudah mereka mainkan sedari kecil. Kali ini di arena permainan terakhir, Gi Hun berperan sebagai penyerang dan Sang Woo menjadi pihak bertahan. Tak ada lagi keraguan dalam diri Gi Hun karena dia sadar kalau Sang Woo sudah berubah. 

Sang Woo yang dikenal sebagai pria cerdas alumni Universitas Nasional Seoul sekaligus ketuatim investasi di perusahaan sekuritas itu, seolah gelap mata dan rela melakukan hal keji demi memperoleh uang.

Dan di bawah guyuran hujan deras sambil disaksikan para tamu VIP, Gi Hun pun berhasil mengalahkan Sang Woo dalam duel hidup mati. Melihat Sang Woo yang terlentang tak berdaya, Gi Hun mengurungkan niat untuk mengklaim kemenangan dan memilih mengajukan penghentian permainan sesuai pasal tiga dalam kontrak.

Namun Sang Woo justru bertindak nekat dengan menusuk sendiri lehernya hingga tewas. Dalam kondisi bersimbah darah, Sang Woo sempat meminta Gi Hun untuk menjaga Ibunya (Park Hye Jin). Gi Hun pun kembali ke tempat tinggalnya sebagai pemenang, sekaligus memperoleh kartu kredit bernilai 45,6 miliar won. 

Dalam kondisi penderitaan yang luar biasa karena melihat sahabatnya tewas di depan mata dan banyak rekan-rekan seperjuangan gugur, Gi Hun kembali harus menghadapi fakta kalau Ibunya sudah meninggal dunia saat dia pulang lantaran terlambat dioperasi.

Kehilangan demi kehilangan yang dialami Gi Hun membuat mentalnya hancur. Dia bahkan menghabiskan 12 bulan kehidupannya ke depan tanpa menyentuh sepeserpun uang kemenangannya itu, dan malah jadi gelandangan. Hingga di suatu malam, Gi Hun memperoleh kartu emas kembali yang mengundangnya ke sebuah hotel. Betapa kagetnya Gi Hun saat sampai di ruangan hotel itu, dia menemukan kakek Il Nam yang seharusnya sudah tewas di permainan kelereng setahun lalu, tengah terbaring di ranjang.

Gi Hun pun langsung murka saat menyadari jika kakek Il Nam lah otak di balik arena permainan maut yang dia datangi. Il Nam yang luar biasa kaya itu merasa hidupnya jenuh dan akhirnya menemukan gairah untuk hidup saat kembali melakukan permainan-permainan tradisional yang pernah dia lakukan waktu kecil. Dia pun sangat bangga dengan Gi Hun yang memperlakukannya bak seorang manusia setara, dan bisa bertemu temannya itu sebelum menghembuskan napas terakhir.

Setelah kematian Il Nam, Gi Hun pun bertekad untuk berubah dan menjalani hidup baru. Dia menjemput adik Sae Byeok, Kang Cheol (Park Si Wan) di panti asuhan untuk hidup bersama Ibu Sang Woo yang sama-sama kehilangan. Sebelum pergi, Gi Hun meninggalkan sekoper penuh uang miliaran won kepada Ibu Sang Woo dan Cheol.

Gi Hun memutuskan pergi ke Amerika untuk menemui Ga Yeong yang menetap di sana, bersama Ibunya, Ayah tiri (Jang Jae Kwon) serta adik tirinya (Pyo Dong Jun). Namun saat di bandara, rencana itu batal karena Gi Hun melihat Suit Man tengah bermain ddakji dengan orang asing. Enggan orang itu bernasib sama sepertinya, Gi Hun langsung menelepon nomor di kartu emas itu dan diangkat oleh Front Man.

Tidak peduli pada ancaman Front Man, Gi Hun justru balik menggertak kalau dia akan menghentikan permainan kematian itu bagaimanapun caranya.

Review ‘SQUID GAME’ Netflix Menurut Saya

Dengan durasi masing-masing episode sepanjang 32-63 menit, saya hanya butuh waktu sehari saja untuk melahap sembilan episode SQUID GAME. Series yang ditulis dan diarahkan oleh Hwang Dong Hyuk ini memang sudah begitu saya nantikan sejak Netflix merilis trailernya, dan menjadi salah satu tontonan wajib pada tahun 2021 ini.

Dari sinopsis di atas, menulis SQUID GAME review memang tidak menjadi sebuah pekerjaan yang menyulitkan. Mengusung genre action-adventure, suspense, survival dan drama, series ini memang jadi pilihan terbaik untuk mengisi waktu ketika HOSPITAL PLAYLIST season 2 (2021) berakhir.

Lewat premis yang sudah saya sebutkan di awal, SQUID GAME mau tak mau mengingatkan saya pada ALICE IN BORDERLAND (2020). Serial Jepang besutan Netflix yang sudah saya tonton dan saya sukai itu juga mengusung survival game dengan protagonis laki-laki yang berstatus loser di kehidupan sehari-harinya.

cuplikan adegan 'ALICE IN BORDERLAND'
cuplikan adegan 'ALICE IN BORDERLAND'

Berbeda dengan SQUID GAME, ALICE IN BORDERLAND memiliki distopia yang lebih luas dengan Shibuya yang menjelma jadi kota mati. Saya ikut merasakan betul ketegangan yang dialami Ryohei Arisu (Kento Yamazaki) dan kawan-kawan dalam memecahkan misteri yang ada. Menggunakan petunjuk berupa kartu remi dengan simbol dan makna berbeda-beda, level demi level permainan di Borderland benar-benar menguras otak.

Hanya saja ALICE IN BORDERLAND justru tampak sedikit kedodoran jelang akhir kisah karena berbagai problematika begitu tumpang tindih dan makin meluas pada setiap karakternya. Sedangkan SQUID GAME justru sebaliknya, pace yang lambat terasa dalam episode-episode awal dan ketegangan mulai terbangun sejak memasuki permainan kedua.

Konflik mulai terasa antar pemain, mempertanyakan moral dan kesalahan untuk tidak terlalu percaya pada orang yang baru dikenal. Begitu pula bagaimana aksi Byeong Ki yang nekat menyelundupkan organ manusia ilegal, seolah membenarkan bahwa dalam kondisi chaos sekalipun, tetap ada manusia-manusia bajingan yang mencari keuntungan untuk dirinya sendiri.

kakek Il Nam dan Gi Hun di area permainan kelereng
kakek Il Nam dan Gi Hun di area permainan kelereng

Saya mulai terpikat dengan Gi Hun sebagai protagonis utama ketika dirinya masih mampu mempertahankan sisi humanisme dalam situasi amoral di hadapannya. Sebuah kontradiktif yang begitu tajam, karena bagaimanapun juga dirinya selamat berkat nyawa-nyawa pemain lain yang melayang. Melakukan atau tidak, Gi Hun yang diam melihat orang lain tewas dan berbahagia atas kemenangannya bukanlah ksatria berkuda putih yang selalu hadir di sisi benar saja.

Gi Hun mungkin tidak sekuat Deok Soo, setangkas Sae Byeok, semanipulatif Mi Nyeo atau selicik Sang Woo, tapi dia berhasil meraih kemenangan berkat usahanya sendiri. Sekali lagi membuktikan betapa fleksibelnya film pada nasib protagonis yang berkali-kali di ujung tanduk.

SQUID GAME juga menguatkan kesan bahwa mereka yang tua bukanlah berarti tidak tahu apa-apa. Orang tua adalah sosok-sosok yang kaya akan pengalaman dan itu merupakan aset yang bisa saja membuat mereka mengalahkan anak-anak muda. Sebuah movement yang dengan apik dieksekusi oleh kakek Il Nam saat membawa timnya (termasuk Gi Hun), menang dalam permainan ketiga, tarik tambang.

Kalau boleh memilih mana episode yang paling membuat saya shock mungkin itu adalah episode keenam. Bertajuk Gganbu, epsiode ini sukses membuat saya sadar bahwa memang sebaiknya kita tidak boleh percaya mentah-mentah pada orang lain. Sebaik apapun orang itu terlihat, manusia hanyalah makhluk lemah yang jika dihadapkan pada kematian, jiwa-jiwa patriotik itu seolah menguap begitu saja.

Ali, pemain dengan nasib paling mengenaskan
Ali, pemain dengan nasib paling mengenaskan

Saya sangatlah pilu melihat bagaimana hidup Ali berakhir di permainan. Sebuah kepedihan saat kita akhirnya dikhianati oleh orang yang benar-benar dipercaya. Ali adalah korban kapitalisme sesungguhnya. Dia hanya ingin hidup bahagia dengan istri dan anaknya di tanah asing, tapi bahkan Korea Selatan yang dianggap banyak orang sebagai tanah impian, turut menertawakan nasibnya.

Bukan hanya merasa tak adil akan nasib Ali yang benar-benar mengenaskan, karakter lain yang mencuri perhatian adalah Ji Yeong. Ji Yeong merupakan gambaran nyata bagaimana malangnya nasib mantan narapidana pembunuhan, selalu tidak diterima oleh lingkungan sekalipun aksi pembunuhan itu mereka lakukan demi melindungi diri.

Tak ada yang sibuk bersedih untuk Ji Yeong selain kita para penonton yang dihadapkan pada dilema, bahwa mereka yang memiliki orang lain di luar sana, jauh lebih berhak hidup daripada yang sebatang kara

Ji Yeong menatap Sae Byeok saat permainan kelereng
Ji Yeong menatap Sae Byeok saat permainan kelereng

Dan akhirnya genangan air mata itupun berujung pada kakek Il Nam. Peserta nomor 001 yang digambarkan paling lemah, penderita demensia, tak punya keluarga dan hanya menanti mati ini mengingatkan betul pada almarhum kakek saya. Kakek di masa hidupnya selalu bercerita lewat tatapan mata lemahnya, bagaimana dia dan teman-teman sebayanya dulu menghabiskan waktu. Betapa bangganya akan masa muda yang tak ada seorang pun ingat, karena dunia sudah berputar terlalu cepat di sekitarnya.

Seperti banyaknya kisah-kisah yang baik harus menang, SQUID GAME juga setia terus memuja kemujuran Gi Hun. Saya tak ada masalah dengan itu karena rasa-rasanya dari seluruh karakter di arena, hanya Gi Hun yang paling terlihat humanis. Sebuah harapan bahwa masih ada manusia-manusia baik di luar sana, sekalipun hidup dalam kondisi yang begitu terpuruk.

Hanya saja dalam review SQUID GAME ini, saya cukup menyayangkan bagaimana sutradara Dong Hyuk membungkus permainan pamungkas antara Gi Hun dan Sang Woo. Permainan cumi-cumi yang sudah diperlihatkan di awal episode sebagai game favorit dua sahabat kecil itu justru terlihat anti-klimaks. Gi Hun memang begitu superior di permainan terakhir itu, tapi squid game justru menjadi biasa saja bahkan jika dibandingkan dengan kacaunya kondisi dalam permainan lampu merah lampu hijau, tarik tambang maupun kelereng sekalipun.

desain game cumi-cumi yang dimainkan Gi Hun - Sang Woo
desain game cumi-cumi yang dimainkan Gi Hun - Sang Woo

Jika saya harus berduel hidup mati dengan sahabat kecil saya dalam permainan gobak sodor yang sering kami mainkan waktu jam istirahat di SD dulu misalnya, tentu akan ada pergulatan batin yang begitu kuat di sana. Keinginan besar untuk menang tak hanya luapan dendam, tapi dengan kenangan masa lalu yang menyenangkan akan membuat saya luar biasa emosional. Namun itu semua seolah tidak terlalu tampak dari diri Gi Hun, bahkan Sang Woo sekalipun dalam final battle mereka berdua.

Sementara dari jajaran SQUID GAME cast, Jung Ho Yeon sangat cocok dianggap sebagai sang scene stealer. Karakter Sae Byeok yang seolah sudah melewati gerbang neraka sebelum tiba di arena permainan, mampu diemban dengan apik. Duet menyebalkan (sekaligus menjijikkan) yang diperlihatkan Sung Tae dan Joo Ryung pun sukses membuat saya menantikan kapan kedua tokoh itu akan tewas. 

Terakhir jangan lupakan trio aktor tampan Gong Yoo - Byung Hun dan Ha Joon mampu menambah kaya konflik dalam SQUID GAME, lewat masalah karakter mereka. Bahkan sekalipun nama pertama hanya muncul selama total lima menit saja sepanjang film.

Sukses Besar, ‘SQUID GAME’ Season 2 Bakal Dibuat?

para staff area permainan
para staff area permainan

Dengan ending SQUID GAME yang masih menimbulkan banyak pertanyaan seperti apa yang bakal dilakukan Gi Hun selanjutnya, apakah In Ho si Front Man benar-benar membunuh Jun Ho, apakah Jun Ho yang jatuh ke laut sungguh tewas, bagaimana nasib file foto dan video yang dikirimkan Jun Ho ke rekan kepolisiannya, tentu membuat series ini berpotensi berlanjut.

Meskipun Netflix belum memberikan kepastian seperti ALICE IN BORDERLAND yang sudah melakukan pra-produksi musim berikutnya, SQUID GAME season 2 memiliki potensi besar untuk digarap. Apalagi baru-baru ini dilaporkan jika SQUID GAME berhasil memecahkan rekor dan jadi drama Korea nomor satu di Netflix Amerika Serikat.

Kendati terdengar sukses dan sangat wajib untuk kalian tonton, SQUID GAME tak selamanya dikelilingi oleh pujian. Bahkan menurut saya, series ini benar-benar memiliki beberapa kemiripan dengan film Jepang, AS THE GODS WILL (2014). Salah satunya adalah permainan pertama dengan subyek utama patung atau boneka, yang melakukan pembunuhan terhadap peserta yang gagal.

adegan film 'AS THE GODS WILL'
adegan film 'AS THE GODS WILL'

Begitu pula dengan vibes yang diusung dalam permainan tarik tambang, SQUID GAME dan AS THE GODS WILL seolah tampak saling bersinggungan. Hanya saja lagi-lagi karena genre deathly survival game lewat permainan tradisional yang sama-sama diusung, membuat kedua jenis karya berbeda ini begitu mirip.

Lantas bagaimana jika dibandingkan dengan BATTLE ROYALE (2000) atau HUNGER GAMES (2012) yang sama-sama menawarkan kisah permainan mematikan dan jadi orang terakhir yang bertahan hidup?

adegan film 'HUNGER GAMES'
adegan film 'HUNGER GAMES'

Tema besar survival game-nya memang sama. Namun SQUID GAME hadir jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari saat ini, apalagi para pesertanya adalah sukarelawan, bukan sekelompok anak yang dipaksa. Series ini hadir begitu relevan di zaman yang serba sulit dalam hal ekonomi seperti sekarang. Ada banyak orang yang bersedia melakukan berbagai cara demi melunasi hutang dan menikmati hidupnya lagi, sekalipun itu harus mempertaruhkan nyawa.

Akhir kata dalam review SQUID GAME kali ini, saya rasa proyek yang diproduksi Siren Pictures Inc ini memang menawarkan kekurangan dan keunggulan tersendiri. Meskipun begitu saya cukup percaya diri mengatakan bahwa SQUID GAME berhasil mengikuti jejak D.P (2021) dan MOVE TO HEAVEN (2021) sebagai salah satu original Korean series by Netflix terbaik di tahun ini.

Arai Amelya
I'm a driver, never passenger in life

Related Posts

22 komentar

  1. Serem tapi pengen nonton. Btw hunger games juga gini yaaa, mirip. Kalau alice in borderland aku blm nonton.
    Aslinya kmrn males karena pasti ada adegan berdarah2nya tapi baca pesan moral dari squid game ini jadi pengen nonton jugaaa

    BalasHapus
  2. Seninya sekilas mirip hunger game ya. Tapi kalau versi korea gini kayaknya wajib di tonton nih.

    Penasaran banget deh. Harus berlangganan dulu nih netflix.

    BalasHapus
  3. Ini semacam jumanji ya. Beuh seru banget keknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. beda jauh kak. Kalau Jumanji board/video game, ini survival game di dunia nyata

      Hapus
  4. Saya paling seneng kalau filmnya genre seperti ini..menantang, bikin deg degan. Cuzz lah buka netflix

    BalasHapus
  5. Aku baru mau mulai nonton nih malam ini di netflix

    BalasHapus
  6. waaa keren nih kayanya, penasaran mau nontonnn :) makasih mba reviewnya :)

    BalasHapus
  7. Semua tuh yah kalau udah berhadapan dengan ekonomi, finansial, jadi blank. Kaya semua aja ayo deh dilakuin. Emang sebuah pilihan juga pasti semua yang ikut dihadapkan dengan masalah yang sama. Awalnya kayanya males banget mau nonton. Serem gitu. Masa iya permainan tradisional yang kental dengan budaya, canda tawa anak-anak bisa jadi semenyeramkan ini dengan bersimbah darah. Ngga tega akutu. Tapi tiap baca rvw kamu, pasti jadi penasaran pengen lihat versi aku.

    BalasHapus
  8. Wih keren-keren filmnya. Ini mirip money game/pie game di webtoon gak sih? Orang-orang berkumpul untuk bertanding gitu juga mendapatkan hadiah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beda sih kak Tri. Kalau Money Game setahuku peserta di studio selama 100 hari dan dikasih uang untuk berbelanja kebutuhan nggak sih? Kalau Squid Game ini survival game. Mereka datang demi mendapat uang dan harus jadi orang terakhir yang bertahan hidup karena lainnya tewas

      Hapus
    2. genre movie survival rasanya memang seru kalo ditonton yaa.. jadi pengen neglist lebih banyak survival movie deh, haha..

      Hapus
  9. Hey, Arai!

    Jadi ini toh film yg lagi viral itu.. baru tau aku kalo patung itu ternyata simbol dari kelaknatan squid game yang pertama, hihi..

    Jadi penasaran nih pengen nonton aku tuh.. keknya seru.

    BalasHapus

  10. Lagi trending topic ya squid game ini yaa.. putri saya juga ngikutin, cuma saya agak serem lihatnya lebih suka drakor yang lebih ke arah menghibur saja hehee

    BalasHapus
  11. Sejenis ama hubger games emang ya mba, sama yang Jepang punya tapi masing-masing seru dan menegangkan. Penonton gak dikasih napas. Aku juga udah kelar nih hahaha gemes sama pak tua nya.

    BalasHapus
  12. Aduh, berdarah-darah gitu, serem ga sih? Aku nonton sih Hunger Games. Ini Squid Game kayaknya lebih seru. Sejatinya aku belum pernah nonton nih film Korea. Bisa dicoba apa ya...Makasih reviewnya lengkap banget...

    BalasHapus
  13. Jujur saya masih maju mundur buat nonton squid game ini. Membaca ulasan kak Arai jadi penasaran. Soalnya saya kangen sama cerita seperti hunger games, nanti coba kita meluncur mencoba 1 episode

    BalasHapus
  14. Squid game ini agak mirip2 yah dengan alur cerita film barat yg pnh aq nton, tp lupa judulnya. Sy blm nton drakor ini tp teasernya bxk banget bermunculan di tiktok

    BalasHapus
  15. Pernah lihat di thriller nya kalau ga salah ..dari ceritanya keren sih ya tapi ngeri juga ada darah2 nya gitu..paling takut lihat adegan yg ada darahnya heuheu

    BalasHapus
  16. Filmnya menegangkan ya kak, aku bacanya juga terbawa tegas sekaligus membayangkan nya di posisi itu huhuhu sepertinya film ini trending ya kak, temen2ku buat status tentang film tsb yg bagian tarik tambang menegangkan

    BalasHapus
  17. Aku udah nonton nih dan marathon lagi nontonnya. Seru juga sih walau endingnya kurang greget ya mba. Mudahan deh ada sekuel 2 nya (ngarep)

    BalasHapus
  18. Btw, pemeran sae byeok sekarang jadi artis korea dgn follower terbanyak lho, song hye kyo aja kalah. Tp emang keren aktingnya, padahal ini debut pertamanya di drama

    BalasHapus
  19. Film Korea yang viral ini ya, padahal bisa dibilang ngeri juga ya, tapi saking banyak yang bahas, jadi bikin penasaran untuk nonton juga ya Kak. Filmnya bisa ditarik hikmah juga ya, relevan sama hidup jaman sekarang, kalau bayangin hidup itu ya jadi seperti permainan, kalau yang dikejar cuma dunia aja ya bisa sampai sikut-sikutan dan berdarah-darah buat jadi pemenang dan dapatkan dunia

    BalasHapus

Posting Komentar