Arungi Utopia Kasatmata Bersama ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400)

29 komentar

ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400)
Mata perempuan itu berbinar. Mengerjap menatap pemandangan yang tak pernah diduga akan dia temui lagi. Jantungnya terpompa begitu cepat, seiring dengan laju roda-roda burung besi yang siap mengepakkan sayap ke angkasa.

Dan ketika sensasi lepas landas itu kembali menjalari tubuhnya, senyuman di balik masker berwarna hijau itu melebar. Seolah berkhianat pada air mata yang meleleh pelan membasahi pipinya.

Dia kembali terbang.

Dia kembali bertemu dengan awan-awan putih yang bergumul di langit.

Benda langit yang paling dia sukai itu menyapanya penuh rindu. Sekali lagi tak percaya kalau akan kembali berjumpa setelah hampir lima tahun lalu ucapan selamat tinggal itu dirapalkan.

Bak ditampar oleh tangan Tuhan, perempuan itu sadar bahwa dia belumlah usai. Butuh waktu lama memang untuk membuatnya kembali berharap. Namun saat perjalanan-perjalanan luar biasa itu terpampang nyata di depannya, dia tahu bahwa ini adalah saatnya untuk mengejar ketertinggalan.

Dan perempuan itu, adalah aku.

Sihir-Sihir Sinematik dan Penyesalan Pertama

menanti senja di Bukit Merese, Lombok
“Cita-citamu mau jadi apa sih?”

Sebagai normalnya anak Indonesia, aku jelas menjawab dokter saat mendengar pertanyaan itu ketika masih duduk di bangku SD. Bukan karena aku takjub pada kepintaran mereka atau status bergengsi di masyarakat, profesi dokter tampak menarik bagiku karena jas-jas snelli putih itu.

Dalam pikiranku saat kecil, dokter adalah seorang penyihir. Jas-jas snelli putih itu seolah menyembunyikan tongkat-tongkat sihir yang dirapal dengan mantra, sehingga siapapun yang datang berkunjung akan langsung sembuh bahkan tanpa perlu diberi obat.

Namun sebetulnya jika bisa kembali ke masa lalu, ada hal yang jauh lebih menarik perhatianku daripada dokter, pilot, tentara, atau polisi.

Hal itu, adalah film.

Terbiasa menonton film-film kartun Disney saat masih TK dan SD seperti LION KING, ALADDIN, BEAUTY & THE BEAST, PETER PAN, CINDERELLA, LITTLE MERMAID, SNOW WHITE sampai MULAN, dunia film sudah menarikku sampai ke pinggir jurang imajinasi.

Seiring bertambahnya usia, pemahamanku soal film pun semakin luas. Aku beruntung karena memiliki orangtua yang juga suka nonton film, sehingga judul-judul film yang kutonton pun makin beragam bahkan untuk anak seusiaku kala itu. Dan hingga akhirnya saat aku memasuki bangku SMP, akupun mantap mengikuti teater.

Tiga tahun menggeluti teater hingga akhirnya mewakili Kota Malang di tingkat provinsi, aku akhirnya benar-benar tahu sesuatu yang sangat kuinginkan.

Aku ingin, jadi pekerja seni yang bisa bercerita melalui film.

Dan di saat memasuki bangku SMA banyak teman-teman mengikuti sejumlah les pelajaran, aku dengan keras kepalanya tidak membutuhkan hal itu.

Tujuanku hanya satu, lolos dan masuk sebagai mahasiswa IKJ (Institut Kesenian Jakarta).

Bagiku, IKJ bukanlah sekadar perguruan tinggi. IKJ adalah kawah candradimuka, tempat di mana banyak sineas-sineas hebat negeri ini ditempa hingga rasanya ingin mati saja. Berangkat dari Malang dengan semangat menggebu, aku tahu bahwa sebagian diriku sudah berada di lorong-lorong kampus IKJ.

Seperti dugaanku, aku pun lolos sebagai calon mahasiswa baru.

Namun sayang, aku tak pernah sekalipun mengetahui bagaimana rasanya jadi mahasiswa IKJ.

Telepon dari orangtuaku di hari pendaftaran ulang bagi calon mahasiswa yang lolos tes masuk, seperti suara bertalu yang membangunkanku dari tidur panjang. Alasan bahwa anak-anak sekolah seni tampak liar dan terlalu bebas hanya terdengar seperti pepesan kosong, saat akhirnya aku tahu bertahun-tahun kemudian, bahwa perekonomian yang membuat mimpi kecilku itu terenggut.

Dan itulah penyesalan pertama yang telah kulakukan seumur hidupku.

Dunia Gelap Arai Amelya

menikmati keindahan Pantai Pall, Likupang, Sulawesi Utara
Tidak akan pernah bisa menjadi mahasiswa IKJ, jelas membuatku dirundung pilu tak berkesudahan. Aku yang terlalu sesumbar bakal jadi mahasiswa seni, harus merelakan impian itu terbang ke langit tinggi sampai aku tak bisa melihatnya kembali.

Di saat kekecewaan itu terlalu besar, takdir justru membawaku bergabung ke salah satu situs entertaimnent terbesar di negeri ini. Bertemu dengan orang-orang baru yang kala itu semuanya lebih tua dariku, aku mulai menikmati keseharian sebagai seorang penulis sekaligus jurnalis.

Bisa dibilang kalau pekerjaanku sebagai karyawan media online itu adalah yang membentuk kemampuan menulisku saat ini. Berada di tempat itu membuatku memilih untuk mengunci kotak kecil berisi mimpi jadi pekerja seni, dan membuang kuncinya di tempat sampah.

Hingga akhirnya tahun 2016 pun tiba.

Aku dengan segala kemapanan pekerjaanku, memilih keluar dari media online tersebut. Kubiarkan diriku melangkah jauh ke jalan yang benar-benar baru bagiku yakni berjualan kuliner.

Berhasilkah?

Tidak.

Bahkan aku justru terperosok jauh ke dalam lubang gelap yang tak pernah kuduga bakal terjadi dalam hidupku.

Aku divonis menderita depresi oleh psikiater di salah satu rumah sakit jiwa kotaku.

Duniaku yang begitu benderang pun berubah total menjadi kegelapan pekat yang sama sekali tidak tembus cahaya. Keberanianku seolah hilang karena hari demi hari kulalui dengan pernyataan yang sama, ‘aku adalah orang yang tidak berhak untuk bahagia’.

Jangan anggap aku update status sedih mencari perhatian di media sosial saat itu, atau bercerita dengan orangtua hingga sahabat dekatku. Aku justru benar-benar menarik diri dari kehidupan sosial selama 2017-2019 itu. Kubiarkan diriku cuma mendapat penghiburan lewat lamunan, sambil berusaha tetap memegang nyawa hari demi hari.

Bagiku, hukuman terbaik untukku adalah berhenti bermimpi.

Harapan, Kekuatan Terbesar Manusia

menulis skenario saat menunggu boarding di Makassar

Ada satu alasan kenapa aku begitu menyukai karakter Charles Xavier dalam semesta X-MEN. Bukan karena dia adalah salah satu mutan terkuat dengan kemampuannya membaca sekaligus mengendalikan pikiran orang lain, tapi karena Xavier justru mampu terlihat benar-benar hebat saat sisi kerapuhannya sebagai manusia terlihat.

Ya, Xavier dalam X-MEN: DAYS OF FUTURE PAST (2014) tak ayal seperti manusia yang kehilangan arah. Dunianya berantakan saat satu-satunya kekuatan terbesar dalam dirinya, justru menjadi kelemahan terbesarnya. Kehilangan dan kekecewaan menghempaskan Xavier ke titik terendah sampai akhirnya orang yang memahami keterpurukannya hanyalah dia sendiri, sang Professor X.

Bukankah kita semua seperti itu?

Saat tak ada yang mengerti, penghakiman terbaik justru datang dari diri sendiri. Tinggal kita mau memilih maukah berubah atau justru nyaman tinggal di lubang tersembunyi yang akan melindungimu dari dunia luar.

Dan itulah yang kuambil di tahun 2020. Ketika banyak orang mulai mengeluh atas pandemi Covid-19, aku justru memberanikan diri mengikuti semburat cahaya yang berpendar sangat lemah dari lorong-lorong gelap kehidupanku.

Cahaya yang begitu tipis itu adalah kepenulisan.

Ya, aku kembali ke dunia yang sudah lama sekali kutinggalkan.

Aku mulai membeli domain heyarai.com dan menguji kemampuan menulisku, apakah masih bisa diharapkan atau tidak. Hingga akhirnya pada awal 2021, aku mendaftarkan diri pada kelas-kelas skenario. Sesuatu yang sudah sejak lama ingin kulakukan, tapi terlalu pengecut untuk kumulai.

Tak ada yang menduga bahwa heyarai.com dengan luar biasanya membawaku mencapai sesuatu yang sama sekali tak pernah kuduga, menjadi juara III dalam kompetisi blog tentang hutan. Bahkan aku pun berhasil menuliskan namaku sebagai finalis Anugerah Pewarta Astra, sebuah kompetisi jurnalisme bergengsi yang bahkan sudah sejak lama ingin kuikuti, saat aku masih menjadi karyawan media online dulu.

Hingga akhirnya perjalananku semakin bertambah seru saat tulisan-tulisanku sanggup menyabet juara pertama. Bahkan melalui kata demi kata yang kutuliskan, takdir membawaku pergi secara cuma-cuma ke Toraja dan Makassar di Sulawesi Selatan sana, Kuta-Mandallika di Lombok, hingga Manado-Likupang di Sulawesi Utara pada Maret 2022 ini.

Namun puncaknya bukanlah liburan gratis. Karena pada awal 2022 ini, namaku sudah tercatat sebagai penulis skenario dalam setidaknya empat judul miniseries milik Indonesia Sinema Persada. Dan jika memang Tuhan masih sangat mencintaiku, satu judul film panjang akan menjadi tujuan yang menyenangkan hingga paruh awal 2023 nanti.

Sungguh, berbagai pencapaian dalam waktu singkat yang sama sekali tak berani kuharapkan terjadi.

Raihan demi raihan yang tak pernah berani kuimpikan di hari-hari gelapku kala itu.

Menemukan A Vision of Brilliance Lewat ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400)

Seperti seorang nelayan yang mengarahkan jukung menembus samudera berombak pasang, bisa dibilang itulah perjalanan yang kupilih saat ini. Aku tahu bahwa sudah terlalu banyak waktu yang terbuang, sehingga langkahku harus lebih lebar untuk menggapai apa yang pernah kulepaskan bertahun-tahun lalu.

Dan demi mewujudkan asa baru itu, aku membutuhkan tandem yang sama-sama bisa memandang visi cemerlang yang sama yakni ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400).

Bicara soal ASUS, sebetulnya brand ini bukanlah sesuatu yang asing. Karena sejatinya saat aku memutuskan untuk fokus menjalani hidup sebagai seorang blogger, laptop yang kubeli dari hadiah-hadiah lomba di tahun 2021 adalah ASUS BR1100CKA. Di usianya yang belum genap setahun, kami bahkan sudah bepergian ke berbagai tempat, dari hotel ke hotel dan menemani di malam-malam saat sel otakku beradu menulis skenario.

Hanya saja dengan target kehidupan yang jauh lebih tinggi, aku tentu berharap adanya upgrade untuk tandem perjalananku. Ada sejumlah alasan yang membuatku benar-benar jatuh hati pada Zenbook 14X OLED (UX5400).

Dinamis dengan Desain Ringkas dan Ringan

Jika pekerja seni benar-benar kuharapkan jadi jalan hidupku, maka travelling adalah hobi yang ingin kulakukan sampai mati. Ya, singgah di tempat-tempat asing entah secara sendiri atau bersama teman adalah kegiatan yang sangat kusukai. Kesempatan ke beberapa DSP (Destinasi Super Prioritas) di Indonesia beberapa waktu ini menyadarkanku kalau aku memang ingin berkeliling Indonesia dan menjelajah Bumi.

Hanya saja ketika aku sudah memutuskan diri menjadi penulis skenario, mau tak mau aku harus tetap membawa laptop untuk mengerjakan revisian saat rehat malam di hotel. Tentu laptop yang kubutuhkan tidak boleh terlalu berat nan tebal yang bakal merepotkan, sehingga Zenbook 14X OLED (UX5400) akan jadi piihan yang sangat tepat.

Dengan bodi setebal 16,9mm dan berat hanya 1,4kg, Zenbook 14X OLED (UX5400) tentu sangat mudah disimpan di ransel sehingga aku tetap bisa menulis beberapa adegan di sela-sela menanti boarding pesawat. Bahkan berkat teknologi NanoEdge Display, bezel layar Zenbook 14X OLED (UX5400) menjadi sangat tipis yakni 3mm yang membuatnya punya dimensi bodi sekelas laptop 13-inci, padahal ukuran asli layarnya 14-inci.

Layar Sentuh dan Makin Produktif Tanpa Mata Lelah

Harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk menulis skenario apalagi jika sedang dikejar-kejar deadline, adalah rutinitas yang dalam tiga bulan terakhir ini sedang kucoba biasakan. Hanya saja produtivitas kerap kali terganggu karena aku merasa mata begitu lelah. Namun Zenbook 14X OLED (UX5400) sepertinya akan membuatku merindukan rasa itu.

Teknologi layar ASUS OLED membuat Zenbook 14X OLED (UX5400) mengantongi sertifikasi low blue-light dan anti-flicker dari TUV Rheinland. Artinya, layar laptop ini tak hanya aman dipakai dalam jangka waktu lama, tapi juga bikin nyaman lantaran tak membuat mata gampang lelah. Namun sejujurnya bukan itu saja yang membuat layar Zenbook 14X OLED (UX5400) ini sangat menarik.

Kamu harus tahu bahwa kualitas visual laptop ini benar-benar premium berkat tingkat akurasi warna yang sangat tinggi. Ditambah dengan fitur touchscreen alias layar sentuh, Zenbook 14X OLED (UX5400) bahkan punya mekanisme 180º ErgoLift Hinge, sehingga kamu bisa membuka layar dan bagian keyboard sampai sejajar 180º.

Si Ultraportable dengan ScreenPadTM 2.0

Sebagai laptop premium, Zenbook 14X OLED (UX5400) mempunyai fitur ScreenPadTM 2.0 sehingga layar kedua sekaligus touchpad-nya dapat meningkatkan produktivitas penulis skenario yang hobi jalan-jalan sendiri ini. Kamu bahkan tak perlu menghapal berbagai kombinasi tombol di keyboard berkat fitur Quick Key. Oiya, screenpad-nya juga bisa kamu jadikan layar kedua untuk menampilkan aplikasi apapun.

Tentu akan sangat membantu saat aku mengerjakan skenario, tapi juga disuruh menonton series atau film luar negeri, supaya kemampuan menulisku terus berkembang.

Konektivitas Canggih Bikin Mudah Berbagi Data

Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, proyek kepenulisan skenario ini membuatku harus terbiasa saling berbagi file baik secara online maupun offline. Supaya pertukaran file berjalan lancar, Zenbook 14X OLED (UX5400) rupanya menawarkan berbagai pilihan konektivitas. Kamu bisa memilih port HDMI 2.0, USB 3.2 Gen2 Type-A, USB Type-C, microSD sampai 3,5mm combo audio jack.

Jelas berbagai pilihan ini membuat aku tak akan kesulitan jika terburu-buru memindahkan data dari laptop atau komputer, bahkan hingga smartphone. Karena memang WiFi 6 sudah ditanam di dalam Zenbook 14X OLED (UX5400) membuat kecepatan transfer data sangatlah tinggi dan stabil.

Multitasking Powerful Lewat Hardware Modern

Ada satu masalah yang biasanya tiba-tiba terjadi saat aku mengerjakan skenario di laptop ASUS lawasku, yakni tiba-tiba performa jadi lambat karena aku memang menggunakan aplikasi Final Draft dengan spesifikasi tinggi, pada laptop. Namun sepertinya kondisi demikian jelas tinggal kenangan jika menggunakan Zenbook 14X OLED (UX5400).

Bagaimana tidak tinggal kenangan, karena laptop modern ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400) sudah diperkuat oleh prosesor Intel® CoreTM generasi ke-11 terbaru dan juga Intel® Iris® Xe graphics. Dengan prosesor yang begitu powerful, aku bisa dengan bebas melakukan aksi multitasking mulai dari mengerjakan job blog dari klien, melanjutkan menulis dan merevisi skenario, hingga akhirnya nonton drama Korea sejenak.

Bahkan kegiatan menonton film atau serial TV akan terasa makin istimewa berkat chip grafis yang berkualitas tinggi. Khusus untuk urusan multitasking, Zenbook 14X OLED (UX5400) bisa dibilang yang sangat superior. Tak main-main, laptop ini punya sudah dibekali memori hingga 16GB, serta ruang penyimpanan PCle SSD perfoma tinggi yang punya kapasitas hingga 1TB!

Spesifikasi Lengkap ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400)

Main Specification                                                                                                                       

Zenbook 14X OLED (UX5400)

CPU

Intel® Core™ i7-1165G7 Processor 2.8 GHz (12M Cache, up to 4.7 GHz)

Operating System

Windows 10 Home

Memory

16GB LPDDR4X

Storage

1TB M.2 NVMe™ PCIe® 3.0 SSD

Display

14" (16:10) OLED 2.8K (2880x1800) 90Hz 400nits DCI-P3:100% NanoEdge display, PANTONE Validated Display, VESA TrueBlack HDR, TÜV Rheinland eye care certified, 92% screen to body ratio

ScreenPad™ 2.0 (FHD+ (2160 x 1080) IPS-level Panel)

Graphics

Intel® Iris Xe Graphics, 

NVIDIA® GeForce® MX450, 2GB GDDR6

Input/Output

1x USB 3.2 Gen 2 Type-A, 2x Thunderbolt™ 4 supports display and power delivery, 1x HDMI 2.0b, 1x 3.5mm Combo Audio Jack, Micro SD card reader

Camera

720p HD camera

Connectivity

Wi-Fi 6 (802.11ax) + Bluetooth 5.0 (Dual band) 2*2

Audio

Built-in speaker, Built-in array microphone, harman/kardon certified

Battery

63WHrs, 3S1P, 3-cell Li-ion

Dimension 

31.12 x 22.12 x 1.69 ~ 1.69 cm

Weight

1.4Kg

Colors

Lilac Mist, Pine Grey

Price

Rp23.999.000

Warranty

2 tahun garansi global

 

Aah, membayangkan diriku berjalan-jalan di Takengon Aceh, menembus belantara hutan Tangkahan di Taman Nasional Gunung Leuser, berburu kuliner lezat di Singkawang Kalimantan Barat serta menikmati eksotisnya Labuan Bajo, rasa-rasanya tak ada sahabat yang lebih menyenangkan selain ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400).

Desain yang ringkas dan ringan dibawa serta kemampuan multitasking yang bikin terpana, membuat Zenbook 14X OLED (UX5400) adalah jawaban dari tandem tangguh yang selama ini kucari-cari.

Pertanyaannya, apakah mungkin aku bisa memiliki laptop ultraportable ini?

Tak ada yang tahu, karena Tuhan mungkin saja mengamatiku sambil tersenyum.

***

Artikel ini diikutsertakan dalam ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400) Writing Competition bersama bairuindra.com

Arai Amelya
I'm a driver, never passenger in life

Related Posts

29 komentar

  1. Mbak salut banget loh aku dari depresi bisa menghasilkan berbagainkarya hingga penghargaan. Benar2 hidup yg penuh warna ya mbak.

    BalasHapus
  2. Baca tulisannya mb Arai selalu melenakan. Diksinya keren dan bikin aku terheran, kok bisa menulis seindah ini. Bikin pembacanya serasa ikut terbang juga. Semoga menang ya lombanya...

    BalasHapus
  3. Skenario dari Tuhan lebih indah ya kak, meski belum tercapai menjadi mahasiswa IKJ, tetapi dapat hal yang lain yang lebih indah, bahkan siapa tahu laptop cantik ini pun mendarat sempurna ke kak Arai 😚

    BalasHapus
  4. keren banget mbak prestasinya. memang tulisan mbak Arai bagus banget sih bisa membius pembacaranya. jadi penasaran nih sama calon film yang skenarionya lagi ditulis judulnya apaan. semoga sukses ya, mbak

    BalasHapus
  5. Prestasinya sangat membanggakan. Didukung dengan laptop canggih pasti makin cetar. Ayo investasi dengan membeli laptop yang sesuai kebutuhan.

    BalasHapus
  6. Gila laptopnya keren beuuddd. Spek gahar dgn harga terjangkau. Mantap bener buat naikin prestasi menulisnya.

    Keren banget yak udh menang lomba menulis di berbagai platform. Semoga bs jadi pemicu utk semangat menulis jg bersama Asus Zenbook 14x

    BalasHapus
  7. Seri Zenbook memang menarik sejak di luncurkan, spek selalu mengikuti kebutuhan dan masukan dari pengguna. berharap next bisa punya satu

    BalasHapus
  8. Selalu suka dengan tulisanmu yang menyihir pembaca berkelana liar dalam duniamu. Semoga tandemu segera menjemput ke pelukanmu ya Rai!

    BalasHapus
  9. Aku terpana membaca ceritanya. Tulisannya keren mbak. Menjadi penulis skenario juga impianku tapi aku takut mencobanya karena aku tidak bisa merangkai kalimat indah seperti mbak Arai hiks....yaaa laptop ASUS yang tipis ini memang layak dimiliki oleh siapapun yang multitasking yang hari2nya selalu bersentuhan dengan piranti ini.

    BalasHapus
  10. Adikku punya laptop ini! Hahaha.. dan emang sebagus itu sih, dari processor dan kecepatannya sat-set-sat-set gitu.. mirip-mirip laptop buah sebelah hehe

    BalasHapus
  11. Dan aku terpana dari setiap kata yang Mba Arai sampaikan. Proses panjang banget ya, Mbak.

    Aku pun dulu pernah mengalaminya, jatuh ke lubang yg gelap gulita. Sampai-sampai tahun 2014 -2016, aku menutup diri. Malas bertemu dg siapapun.

    Btw, good luck ya, lombanya.

    BalasHapus
  12. ceritamu keren banget mbaaaa, semoga ada jawaban manis dari Tuhan yang lagi mengamati harapan dan doa-doa hambanya yaaa. Spec laptop yang ringan, tipis, ringkes gini emang jadi spec yang dibutuhin klo pergi jalan dan tetep harus bekerja atau mengolah konten selama perjalanan yaa

    BalasHapus
  13. keren kak araiiiii inpsiratif banget sih .. dirimu tahu apa yang ingin kau lakukan aku rasa ini nilai lebih lho mentap.. wah aku mau tiru bisa tak ya mengingat sudah ad buntut dua

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa kaak, jadi Ibu bukan berarti mimpi tumbang. Banyak Ibu2 hebat yang berhasil keluarga dan karier, pokok yakin, semangat Ibu2 hebat!

      Hapus
  14. Kak Arai inspiratif banget sih
    Meski dalam situasi tidak ideal tetap bisa semangat dan berkarya seperti itu

    BalasHapus
  15. laptop impian saya banget kak, pengen punya asus yang slim dna ringan, pernah lihat punya teman, super tipis dan ringan, cocok banget buat para pekerja yang mobilitasnya tinggi termasuk buat para traveler kayak kita kayaknya niy

    BalasHapus
  16. cocok banget buat para petualang nih laptopnya , ringan dan tipis, performa mumpuni pula emg idaman banget sih buat produktivitas

    BalasHapus
  17. okey, ini menarik sekali karena laptopnya cukup ringkas dan mudah untuk dibawa kemana-mana. aku juga ingin sekali punya deh

    BalasHapus
  18. Kegagalan bukan akhir segalanya Mbak, semangat selalu yak? Akupun juga pernah gagal, gagal kuliah Mbak. Impian terkubur, tapi Alhamdulillah Allah kasih jalan yang lain dan aku bisa jadi aku seperti saat ini.

    BalasHapus
  19. Kalau dulu, saat ditanya apa cita-citanya? Jawabnya Insiyur. Apalagi insiyur itu banyak. Insiyur pertanian, insinyur perikanan dan lainnya.
    Tapi itulah cita-cita masa kecil, yang nantinya jenjang pendidikan yang kita lalui juga berbeda. Bahkan nanti pekerjaan yang kita geluti, kadang juga berbeda. Namun seiring pasion, kita akan menemukan kebahagiaan.

    BalasHapus
  20. Ya ampun Mbak, aku merinding lho baca jalan cerita hidupnya yang bisa naik turun gitu. Salut, Mbak Arai bisa terus bangkit dan tetap fokus pada passionnya.

    BalasHapus
  21. Asus memang keren banget ya, mbak. Aku suka baca tulisan mbak arai, selalu penuh semnagat.

    BalasHapus
  22. Luar biasa ih artikel Arai. Kubaca smpai terlena, diksi nya keren amat. Semoga menang ya Aray...top pokoknya...

    BalasHapus
  23. ahaha iya mba.. memang seringkali anak SD kalau ditanya cita2 tuh jawabnya ya dokter. kalo aku dulu pernah agak lama kepengin jadi astronot. lalu pas tau kudu pinter fisika, aku nyerah deh haha.. semcam tau diri. btw semangat terus yaa mba..

    BalasHapus
  24. wiiiih kereeen Mbak, jalan-jalan ke DSP, yang terbaru ini Likupang ya, berarti hadir saat International Conference itu ya, mantaab banget Mbak.
    Meskipun cita-citanya kuliah di IKJ pupus, tapi jiwa seninya terus membara hingga saat ini ya. kerenn bangeeet.
    moga Asus Zenbook 14x Olednya bisa jadi milik Mbak, biar bisa lebih produktif lagi ya :)

    BalasHapus
  25. Baca tulisannya Kak Aray ni bikin imajinasi ikutan jalan-jalan. Storytellingnya jos banget. Asus Zenbook ini cocok banget juga lho untuk content creators dan blogger bikin karya2 ciamik. Semoga menang ya, Kak

    BalasHapus
  26. Zenbook ini emang keren banget ya mbak. Buat creator ini kayak harta karun apalagi ada OLEDnya, btw diksinya khas penulis skenario ❤️

    BalasHapus
  27. Terpukau sekali..
    Dengan terus berjuang tanpa kenal lelah, kak Arai bisa meraih banyak tangga menuju impian. Setelah ini akan semakin mantap melangkah karena menggunakan ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400).

    BalasHapus
  28. luar biasa ceritanya kak, pasti di 2017-2019 masa2 yang sepi namun bisa bangkit hingga banyak menjuarai kompetisi tulisan. semoga sekarang selalu pulih dan akan terus lebih baik, termasuk memenangi banyak perlombaan di depan nanti-nantinya ya

    BalasHapus

Posting Komentar