Tidak Ada Galak Gampil Lagi Tahun Ini

Posting Komentar

Tidak Ada Galak Gampil Lagi Tahun Ini

Bagi saya yang adalah anak kota Malang, ada satu tujuan utama ketika Lebaran tiba. Apa itu? Memperoleh galak gampil alias uang saku saat Hari Raya Idul Fitri. Bahkan di usia saya yang termasuk milenial tidak muda-muda banget ini, saya masih memperoleh galak gampil dari om dan tante karena memang belum menikah.

Meskipun zaman sudah berkembang, di keluarga besar tradisi galak gampil tetap dijunjung tinggi. Setelah saling menangis dan berpelukan, pintu rumah akan dibuka lebar-lebar menanti sanak saudara beda kota hadir. Apakah rindu yang menggerakannya? Tentu saja. Tapi galak gampil adalah nafasnya.

Namun semua berubah sejak tahun 2020 lalu.

Kalau boleh meniru judul puisi milik Aan Mansyur yakni Tidak Ada New York Hari Ini, maka kali ini adalah Tidak Ada Galak Gampil Tahun Ini.

Yap, tak ada yang menduga kalau pandemi Covid-19 mengubah segalanya. Jangankan berharap memperoleh memberikan galak gampil, semua silaturahmi pun berubah secara online. Saya masih ingat, Ayah dan Ibu saya menangis di depan layar ponsel sambil video call dengan sanak saudara. Sungguh pemandangan yang sangat miris karena di 2019, kami masih berkumpul bersama dan berziarah ke makam Kakek-Nenek.

Namun ada satu hal yang juga absen sejak wabah corona tiba.

Soal apa?

Pemberian galak gampil ke keponakan yang masih kecil.

Orangtua saya punya kebiasaan menukarkan uang ke pecahan yang lebih kecil ketika Lebaran dan memberikan beberapa lembar Rp5.000 hingga Rp10.000 ke anak-anak sepupu saya. Namun ketika tahun 2020 lalu, uang-uang baru dengan aroma khas ditukar di Bank Indonesia itu terpaksa tergeletak begitu saja di meja depan TV. Karena memang si penerima hanya bisa bersua lewat WhatsApp semata.

Dan sepertinya tak ada galak gampil lagi tahun ini.

Baca juga: Salahkah Jadi Fans Karbitan 'ATTACK ON TITAN'?

Galak Gampil Online Demi Silaturahmi Tersambung

Sebagai tradisi turun-temurun di keluarga saya, galak gampil memang tak ubahnya agenda wajib saat Lebaran. Teringat akan kekecewaan mereka, saya pun mencoba mengenalkan galak gampil 4.0 dengan memanfaatkan transaksi digital sejak tahun lalu.

Tentu mengajari transaksi digital kepada orangtua yang adalah generasi baby boomers akan cukup sulit. Ya, pandemi Covid-19 ini membuat orangtua saya terpaksa ikut dalam arus digitalisasi besar-besaran. Kekagetan teknologi jelas mereka rasakan yang tentu akan mudah dihadapi oleh para milenial dan generasi Z.

Menurut jurnal online yang diterbitkan oleh AIMS Public Health pada tahun 2014 lalu, terungkap bahwa baby boomers (generasi kelahiran 1946-1964) adalah populasi terbesar di banyak negara-negara di dunia saat ini termasuk Amerika Serikat. Selain baby boomers, para milenial seperti saya (generasi kelahiran 1981-1996) juga mendominasi dunia. Namun kedua generasi ini punya cara berbeda dalam bertahan hidup.

Andi Basuni selaku Senior Consultant Act Consulting kepada AyoBandung memaparkan bahwa baby boomers memiliki kebijaksanaan, tetapi milenial mempunyai pengembangan luar biasa. Kedua kondisi bertolak belakang ini memicu kedua generasi beda zaman ini memiliki gap yang cukup lebar. Dalam lingkup sosial, baby boomers cenderung kolot dan kerap tidak menyukai perubahan.

Namun sebagai generasi progresif, saya tahu bahwa perubahan menjadi lebih digital adalah sesuatu yang pasti. Apapun itu pasti akan terjadi dan satu-satunya cara agar tidak tertinggal dunia yang terus bergerak, saya pun mengenalkan pembagian galak gampil online kepada orangtua.

Baca juga: Milenial Wajib Tahu, Return Investasi 10x Lipat Setahun Ala Han Ji Pyeong Itu Mungkin!

infografis e-wallet

Setidaknya ada empat dompet digital yang saya kenalkan kepada Ayah dan Ibu yakni OVO, GoPay, LinkAja dan DANA. Bukan hal yang mudah memang, mulai dari memasangkan pada ponsel mereka, mengenalkan internet banking, melakukan top-up dan mengirimkan kepada keponakan. Ada beberapa keponakan yang sudah cukup dewasa dan memiliki akun e-wallet tapi yang lain? Dititipkan melalui akun orangtua mereka.

Dan seperti itulah teknologi menyentuh orangtua saya. Saya masih mendengar suara tawa terbahak saat keponakan yang masih duduk di bangku SMP bilang kalau ada uang Rp100 ribu masuk ke saldo OVO mereka yang dikirim oleh Ayah saya. Ada kegelian yang muncul karena Ibu saya sempat bertanya-tanya bagaimana bisa uang yang dikirim lewat internet bisa diterima dalam waktu beberapa detik saja?

Yah itulah dunia 4.0, Bu. 

Baca juga: Asal-Usul Kata Lonte: Kumbang Kelapa, Gundik dan Jadi Trending

Dunia Transaksi Digital di Depan Mata

Orangtua saya mungkin hanyalah dua dari banyaknya pengguna transaksi digital. Saya cukup bangga karena mereka termasuk baby boomers yang paham apa itu GoPay, transfer lewat OVO hingga pengisian bensin di aplikasi LinkAja. Kalau ada satu hal dari pandemi Covid-19 yang bisa diambil segi positifnya, mungkin semakin pahamnya orangtua terhadap transaksi digital.

Gaya hidup pembayaran uang elektronik memang makin populer di masyarakat. Dilansir CNBC Indonesia, data Bank Indonesia (BI) menyebutkan kalau ada kenaikan volume transaksi uang elektronik di akhir 2019 sebesar 79,3% jadi 5,2 miliar transaksi. Padahal di tahun 2018 lalu, masih tercatat 2,9 miliar transaksi. Sementara selama Januari-September 2020, sudah mencapai Rp144,6 triliun!

Lebih lanjut hal ini juga ditegaskan oleh Kaspar Situmorang selaku EVP Digital Banking Development and Operation Division BRI. Kepada Liputan6, Kaspar menyebutkan kalau transaksi digital BRI melonjak hingga 96% yang dipicu oleh perubahan perilaku masyarakat mulai belanja online sampai pembayaran digital.

Bagaimana perkembangan transaksi digital ini benar-benar luar biasa?

Karena banyak sekali keunggulannya.

Hasil studi Ipsos Marketing Summit 2020: Indonesia The Next Cashless Society pada Januari 2020 menyebutkan bahwa 25% responden dari 1.000 orang yang diteliti mengaku kalau transaksi digital memberikan pengalaman menyenangkan. Sementara 26% lainnya memilih lantaran lebih aman dan nyaman.

Terbukti kan kalau evolusi pembayaran sudah sedemikian pesat dan tak ada yang bisa menolaknya?

Jika orangtua saya yang baby boomers saja paham betapa menyenangkannya transaksi digital, apakah kita masih bisa menolak kehadirannya?

Tentu tidak.

Karena dunia akan terus berkembang dan maju.

Jadi meskipun masih tidak ada galak gampil lagi tahun ini, saya tahu kalau orangtua saya akan lebih sibuk meminta nomor e-wallet keponakan dan sepupu untuk dikirimi uang saku saat Lebaran. Tinggal saya di sini yang bakal cerewet karena mereka lebih suka berbagi rezeki ke handai tolan daripada anak kandungnya.

Baca juga: Review 'THE SCIENCE OF FICTIONS' (2019): Hiruk-Pikuk Sejarah yang Belum Tentu Benar

 

Sumber:

https://www.cnbcindonesia.com/tech/20200204112543-37-135041/gopay-ovo-cs-kian-populer-transaksi-tembus-rp-145-t

https://www.liputan6.com/bisnis/read/4434266/pembayaran-digital-naik-hingga-rp-18074-triliun-selama-pandemi

https://www.hitekno.com/gadget/2020/05/15/173000/anti-ribet-yuk-bagi-bagi-thr-online-lewat-4-aplikasi-ini

https://ayobandung.com/read/2017/10/11/24599/alasan-mengapa-baby-boomers-dan-milenial-kerap-bertentangan

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5689789/

https://www.businessnewsdaily.com/6609-multigenerational-workforce-challenges.html

Arai Amelya
I'm a driver, never passenger in life

Related Posts

Posting Komentar

Follow by Email