Riwayat Tanah Surga yang Membuahi Kayu dan Batu

18 komentar

keanekaragaman hayati di Indonesia
© Daniel Cox/UNSPLASH

Aneh tapi lezat.

Mungkin itu adalah ungkapan yang paling pas waktu aku mencoba makan kapurung, saat berkunjung ke Toraja Utara pada bulan Oktober 2021 lalu.

Terlahir sebagai peranakan Jawa-Minang yang memang tumbuh besar di tanah Jawa, aku jelas terbiasa menjadikan nasi sebagai makanan pokok. Apapun makanannya, nasi tak akan pernah absen. Bahkan saat menyantap semangkok mie instan, sepiring steak sapi hingga satu kuali panas sukiyaki, nasi harus ada di sana.

Hingga akhirnya dalam penjejakan pertamaku di tanah Sulawesi, aku mencoba mengunyah sagu yang dalam pelajaran-pelajaran sekolahku dulu, dikenal sebagai bahan makanan pokok masyarakat Indonesia Timur.

Bersama-sama dengan undangan terpilih event Toraja Highland Festival (THF) 2021 yang berasal dari seluruh penjuru Indonesia, kami mendatangi Warung Kapurung Singki yang terletak di salah satu sudut Rantepao, pusat pemerintahan Kabupaten Toraja Utara.

Terbuat dari pugalu (tepung sagu), kapurung sebetulnya adalah makanan tradisional masyarakat Desa Luwu, Palopo sana. Dilarutkan dengan air panas hingga mengental, pugalu disajikan dengan kuah berbumbu kacang yang bercampur aneka sayur mayur serta daging ikan.

Aku bisa merasakan berbagai paduan rempah seperti cabe, kemiri, bawang putih hingga lada saat kuah kapurung ini masuk ke kerongkongan. Awalnya saat kapurung tiba di mejaku, aku menatapnya cukup lama, apakah bisa pugalu itu lolos kutelan? Namun saat disantap dengan jagung manis, daging ikan dan kuahnya, pugalu justru makin memperkuat cita rasa asam dan segar dari kapurung.

sop ubi dan kapurung
sop ubi dan kapurung

Usai menyantap kapurung, semangkok sop ubi pun sudah tiba di mejaku.

Yang menarik, jika di Jawa aku mengenal ubi sebagai ketela manis, ubi yang disantap masyarakat Rantepao ini adalah singkong. Dalam sop ubi, potongan-potongan singkong itu kemudian digoreng dan disajikan bersama daging ayam kampung, kacang tanah, mie bihun, laksa, daun seledri hingga akhirnya disiram kuah yang terbuat dari kaldu ayam begitu gurih.

Lagi-lagi aku tak menemukan keberadaan nasi dalam sop ubi ini karena sumber karbohidrat utama didapatkan dari laksa yang terbuat dari tepung beras dan singkong goreng itu sendiri. Namun mungkin bisa dibilang bahwa kapurung dan sop ubi, adalah salah satu pengalaman makan tak terlupa bagiku, karena aku merasakan kenyang tanpa perlu sebutir nasi masuk ke dalam perut.

Negara Megabiodiversitas yang Menuju Ambang Batas

data keanekaragaman hayati di Indonesia
© webinar Eco Blogger Squad - Yayasan KEHATI

Berstatus sebagai negara megabiodiversitas, keanekaragaman hayati (KEHATI) Indonesia memang bertengger di posisi kedua terbesar di dunia setelah Brasil. Meskipun Nusantara hanya menempati 1,3% wilayah daratan di Bumi, setidaknya ada 17% dari seluruh jumlah spesies di Bumi ditemukan di Tanah Air.

Khusus untuk pangan lokal, konon Indonesia punya sekitar 76 jenis tanaman sumber karbohidrat selain padi.

Membanggakan diri pernah menyantap sagu lewat kapurung atau singkong lewat kuliner segurih sop ubi, aku mungkin hanya akan ditertawakan oleh Ibu Pertiwi.

Kenapa begitu?

Karena sebetulnya ada banyak sekali jenis panganan lokal di penjuru negeri lainnya seperti sukun, jagung, gembli di Gunung Kidul, talas, kentang, ganyong, labu kuning, jemawut, hingga sorgum di Nusa Tenggara sana.

Hanya saja meskipun ada banyak sekali pilihan sumber pangan lokal, beras masih luar biasa digdaya sebagai makanan pokok orang Indonesia.

Menurut Kementerian Pertanian, konsumsi beras setiap penduduk Indonesia mencapai 139,15 kilogram per kapita, per tahun. Bandingkan dengan data seluruh dunia yang hanya sebesar 60 kilogram, tentu membuktikan kalau masyarakat negeri ini begitu tergantung dengan beras.

Namun pernahkah kalian membayangkan jika beras menjadi barang langka di Nusantara?

Menurut Mastur selaku Kepala BB-Biogen Kementan kepada Kompas tahun 2019 lalu, tanaman padi di Indonesia termasuk yang paling banyak hilang jenisnya sejak Revolusi Hijau di era tahun 1970-an. Hal ini terjadi karena adanya perilaku penyeragaman jenis tanaman padi yang wajib ditanam para petani lokal.

Kebijakan bias sejak Orde Baru ini rupanya tak hanya dialami oleh padi saja, karena sorgum, sagu hingga jemawut juga mengalami hal serupa.

Emangnya, jadi masalah gitu kalau penanaman monokultur ini dilakukan?

Masih menurut Mastur, kondisi ini justru bisa memicu masalah serius seperti serangan hama yang tak terkendali. Kalian harus tahu bahwa setiap tanaman pangan punya karakteristik berbeda karena mereka memang dituntut beradaptasi dengan kondisi variatif.

Contohnya seperti sagu yang bisa ditanam di lahan marjinal dan gambut, sorgum yang bisa tumbuh subur di lahan kering, sampai beberapa jenis padi yang mampu tumbuh di tanah asam dan tahan wereng.

Bisa dibayangkan kalau semuanya ditanam satu jenis tanaman yang sama di berbagai jenis lahan yakni padi demi memenuhi kebutuhan akan beras?

Bukan tak mungkin kalau tanaman padi itu tak akan mampu menghasilkan beras-beras dengan kualitas unggul, termasuk dalam kandungan nutrisinya.

Diperburuk lagi dengan Laporan FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian) pada Februari 2019 bahwa berbagai spesies yang berkontribusi penting bagi sektor pertanian semakin terancam punah, termasuk di Indonesia, masyarakat negeri ini harus cepat disadarkan soal pentingnya pemahaman KEHATI.

Karena bagaimanapun juga, aneka jenis burung, kelelawar, mikroorganisme tanah hingga serangga-serangga pengontrol hama dan penyakit tanaman pangan itu turut memiliki pengaruh penting bagi keberlangsungan pangan Tanah Air.

data Keanekaragaman Hayati di Indonesia
© webinar Eco Blogger Squad - Yayasan KEHATI

Ini hanya menyinggung soal tanaman sumber pangan. Aku belum membahas sekitar 191 dari 650 spesies mamalia Indonesia yang sudah masuk kategori terancam, berdasarkan data indeks spesies sepanjang 1990-2020. Belum juga soal 231 dari 4.782 spesies ikan, 160 dari 1.711 spesies burung hingga 30 dari 755 spesies reptil yang semuanya terancam.

Sayup-sayup kudengar lagu Kolam Susu milik Koes Plus dari kamar Ayahku berkumandang, liriknya yang begitu kuhapal sejak aku masih kecil bersenandung memenuhi gendang telingaku:

Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman.

Ahh, aku tersenyum getir. Andai mendiang Tonny Koeswoyo yang menciptakan lagu itu tahu bagaimana kondisi alam negeri ini, berjuang tertatih menolak untuk punah, mungkin lagu Kolam Susu itu akan langsung dia gubah.  

Selamatkan KEHATI, Selamatkan Kehidupan

Pernahkah kalian berpikir bahwa satu hal yang kita lakukan bisa saja mengubah tatanan yang lebih besar?

Mungkin kalau kalian pernah menonton serial NBC berjudul Heroes yang sangat kusukai musim pertamanya pada tahun 2006 itu, bakal cukup relate dengan kalimat populer yang dilontarkan Hiro Nakamura (Masi Oka). Bertempat di sebuah kereta bawah tanah yang waktunya dihentikan, Hiro yang datang dari masa depan menyampaikan nubuat kepada Peter Petrelli (Milo Ventimiglia) untuk menyelamatkan Claire Bennet (Hayden Panettiere). ‘Save the cheerleader, save the world’.

Dalam kisah lain, kalimat serupa juga terdapat dari salah satu film favoritku, SCHINDLER’S LIST (1993). Dilontarkan dengan begitu memorable oleh sang tokoh utama Oskar Schindler (Liam Neeson), kalimat ‘Whoever saves one life, save the world entire’ ternyata berasal dari Talmud, kitab suci orang Yahudi.

Bahkan untuk umat Islam, kalimat serupa juga terdapat dalam Al-Quran yang sangat suci itu. Cobalah telusuri surah Al-Maidah ayat 32, kalian bakal menemukan ‘Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya’.

Bukankah itu artinya kalimat-kalimat tersebut membuktikan betapa manusia memiliki kemampuan untuk mengubah sesuatu yang sangat besar, lewat sebuah upaya kecil?

Hal itu pula yang bisa kita lakukan kepada KEHATI.

online gathering EBS dan KEHATI

Dalam webinar online yang kuikuti bersama rekan-rekanku #EcoBloggerSquad (EBS) angkatan 2021 pada hari Kamis (14/4) pekan lalu, pemahaman itu kembali lagi memasuki pikiranku. Mendengarkan informasi biodiversity dari Rika Anggraini yang menjabat sebagai Direktur Komunikasi dan Kemitraan Yayasan KEHATI, aku semakin tahu bahwa kita haruslah mempedulikan keanekaragaman hayati.

Meskipun mungkin tak sepopuler istilah global warming (pemanasan global) maupun climate change (perubahan iklim), KEHATI adalah salah satu pilar yang bakal mempengaruhi peradaban manusia. Karena bagaimanapun juga, KEHATI adalah berbagai bentuk kehidupan di semua tingkat sistem biologis yang memegang status sebagai Sistem Penunjang Kehidupan.

Apapun dalam kehidupan kita, KEHATI adalah penopang utamanya.

Manusia, hewan dan tumbuhan, semua terlibat dalam rantai raksasa keanekaragaman hayati yang sudah ada sejak Bumi ini terlahir sekitar 4,54 miliar tahun lalu, lewat proses akresi dari nebula matahari.

Menurut Rika, setidaknya ada tiga jasa utama yang diberikan KEHATI dalam kehidupan.

Pertama, Jasa Lingkungan Hidup seperti ketersediaan sumberdaya air, melindungi kesuburan tanah, menyerap karbon sampai menjaga stabilitas iklim.

Kedua, Jasa Manfaat Ekonomi yang meliputi sumber bahan pangan, sumber EBT (Energi Baru Terbarukan), sumber bahan farasi hingga penyediaan tempat wisata alam dan bahagir.

Ketiga, Jasa Manfaat Sosial yang melibatkan sumber kehidupan masyarakat adat, sumber penelitian dan pengembangan IPTEK, jasa pengembangan nilai-nilai budaya dan religi sampai jasa pendidikan lingkungan.

Dengan berbagai manfaat, tak heran kalau masalah yang muncul akibat tergerusnya keanekaragaman hayati akan mempengaruhi makhluk hidup di Bumi. Salah satu yang menjadi perhatian penuh Yayasan KEHATI adalah persoalan pangan yang sedikit banyak disebabkan warisan rezim politik lama.

program pengelolaan pangan Yayasan KEHATI
program pengelolaan pangan Yayasan KEHATI

Memahami bahwa tergelincirnya Bumi ke perubahan iklim bukanlah dongeng masa lampau, mengenalkan sumber-sumber pangan lokal adalah salah satu upaya terbesar.

Aku sepakat bahwa menyuruh orang Indonesia untuk mengubah kebiasaannya makan nasi menjadi sorgum, sagu, jagung atau singkong jelas perjuangan yang hampir mustahil. Untuk itulah berkaca pada berbagai kutipan bahwa hal kecil yang kita lakukan bisa menyelamatkan lingkungan yang lebih luas, sepertinya ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk peduli pada KEHATI.

Ya, aku, kamu, kalian dan kita semua.

Kita masih belum kehabisan waktu untuk menjaga dan menyelamatkan spesies-spesies KEHATI yang terancam.

Tak perlulah langsung ngotot menanam ribuan pohon lewat uang tabungan sendiri, tapi mulailah membeli satu bibit pohon saja seperti yang pernah dilakukan oleh para fans K-Pop. Ya, aksi pelestarian alam kecil yang jika dilakukan secara berantai dan konsisten, akan menjadi harapan baru untuk KEHATI.

Atau mungkin kalian bisa mengikuti caraku dengan mencoba mengurangi emisi karbon lewat penggunaan listrik dan kendaraan bermotor yang lebih biijaksana. Lebih lanjut kalian juga bisa dengan mulai mencoba sumber-sumber pangan lokal lainnya yang juga luar biasa lezat, bahkan tak kalah dengan kuliner luar negeri itu.

Tentu berbagai hal kecil ini akan bisa membantu Bumi kembali bernapas, memberikan harapan untuk tunas-tunas baru yang akan tumbuh nanti.

Karena dengan menyelamatkan keanekaragaman hayati, kita menyalamatkan kehidupan.

hal-hal kecil selamatkan KEHATI

Arai Amelya
I'm a driver, never passenger in life

Related Posts

18 komentar

  1. Saya jg sedang berusaha belajar bertanam kak, di rumah aja dulu sebagai bentuk kecil melestarikan alam

    BalasHapus
  2. Saya sangat suka makan kapurung, Mbak. Waktu masih tinggal di Makassar, selalu bikin, karena ada tetangga orang Palopo yang kalau mudik bawa sagu. Nah, sekarang cari sagu di sini susah. Kalau kepengin, kadang diganti Aci. Tapi jelas beda rasanya hahaha. Satu lagi, saya suka ongol-ongol.
    Dan itulah kekayaan Indonesia yang sangat beragam ya, Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaa pak Bambang ternyata asli Makassar yaa, aku belum pernah makan kapurung. jadi penasaran. Keanekaragaman hayati di Indonesia emang bikin bangga dan patut disebut sebagai surga dunia

      Hapus
  3. Satu bibit pohon 🌲 untuk masa depan lingkungan yang lebih baik.
    Memang kerja keras bersama ini, tapi harus diupayakan sedini mungkin

    BalasHapus
  4. Indonesia memang kaya sekali alamnya, bahkan banyak negara lain yg iri. Semoga alam indonesia tetap lestari dan generasi selanjutnya masih bisa merasakan keanekaragaman hayati di Indonesia.

    BalasHapus
  5. Sebagai orang Indonesia khususnya Jawa, kalau gak makan nasi dianggap gak makan. Makanan lain Hanya dianggap sebagai cemilan. Padahal keanekaragaman hayati Indonesia yg berkarbohidrat itu banyak macamnya

    BalasHapus
  6. Kayaknya satu-satunya makanan Sulawesi yang pernah aku coba hanyalah Coto Makassar. Unik sih rasanya. Next pengen nyobain kapurung juga ah.

    BalasHapus
  7. Setuju...menyelamatkan keanekaragaman hayati sama dengan menyelamatkan kehidupan. Bumi ini seolah sudah sesak, butuh udara segar yang bisa dihirup supaya makin sehat. Adanya cerobong asap, limbah dan polusi sangat mengganggu kehidupan, dan kita sebagai makhluk penghuni bumi sudah sepatutnya sadar untuk menjaga bumi ini kembali berseri.

    BalasHapus
  8. Selalu keren deh ngulasnya Mbak Arai. Saya jadi penasaran dengan kapurung.. mungkin di daerah itu padi jarang ya.

    BalasHapus
  9. duh baca sampai selesai bikin pengen kesana :) Indonesia memang kaya alamnya, Semoga alam indonesia tetap lestari dan generasi selanjutnya masih bisa merasakan keanekaragaman hayati di Indonesia.

    BalasHapus
  10. keanekaragaman hayati Indonesia, bikin bangga. Termasuk makanan, aku termasuk orang yang menyukai makanan-makanan indonesia dibanding western food.

    BalasHapus
  11. ahhh nostalgiaa pas makan kapurung di Kendari, makanan area Sulawesi tuh emang khas sama ikan-ikanan sih yaaa. Wahh aku beberapa tahun terakhir malah udh meggerser karbo nasi ke karbohidrat kompleks nih kaya gandum, rolled oat, ubi, kentang, singkong, dan tetep enak buat jadi makanan utama

    BalasHapus
  12. yang masakan sop ubi itu, kayaknya enak banget ya mbak. Aku sebenere suka banget dengan singkong.

    BalasHapus
  13. Bersyukur banget ya.. tinggal di Indonesia yang begitu kaya akan keragaman hayatinya. Dan pastinya banyak kuliner enak, unik dan sehat yang tercipta dari keragaman tersebut.

    BalasHapus
  14. Indonesia adalah negara megabiodiversitas. Aku langsung banyak merenung kalau selama ini pasti kurang pengetahuan di bidang ini. Dan selayaknya kita menjaganya dengan menjaga hutan serta isinya yang merupakan sumber kehidupan penyeimbang kesehatan bumi.

    BalasHapus
  15. Masyaallaaah. Memang bumi Indonesia ini beragam banget keanekaragaman hayatinya. Makanan lokal macem getuk, tiwul atau gatot jadi favoritku kak. Bisa disebut menyelamatkan keanekaragaman hayati kan ?:D

    BalasHapus

  16. Hehehehe... Keanekaragaman hayati indoensia emang perlu diacungi jempol ya kak. Tanah dan lautannya juga menyimpan banyak potensi. Makanan yang berasal dari dan bentuknya unik pun ternyata punya rasa lezat

    BalasHapus
  17. ngomongin fans kpop.. pernah baca dalam salah satu riset, mereka tuh yang paling peduli lingkungan lho kalau dibandingkan ama fans2 yang lain. hehehe.. menarik juga ya. btw aku setuju nih mba.. menyelamatkan kehati itu sama aja menyelamatkan kehidupan kita juga

    BalasHapus

Posting Komentar